Home Blog Page 12

Menjadi Sahabat Anak Selama Liburan: Peran Orang Tua yang Sering Terlupa

0

Liburan merupakan momen yang sangat berharga, terutama bagi orang tua yang anak-anaknya belajar dan tinggal di pesantren. Setelah sekian lama berpisah karena kegiatan belajar dan menghafal Al-Quran di pesantren, liburan menjadi waktu yang dinanti-nantikan untuk berkumpul kembali. Momen ini memberikan kesempatan bagi keluarga untuk mempererat ikatan emosional, saling bercerita, dan saling melepas rindu. Kehangatan suasana rumah yang telah lama dirindukan anak tentu menjadi obat tersendiri bagi mereka setelah sibuk dengan aktivitas di pesantren.

Oleh karena itu, sebagai orang tua, sudah sepatutnya memanfaatkan waktu berharga ini sebaik mungkin. Liburan bukan hanya sekadar waktu istirahat, tetapi juga saat yang tepat untuk memberikan perhatian penuh kepada anak, mendengarkan keluh kesahnya, dan mendukung semangat belajarnya.

Berikut ini beberapa nasehat yang semestinya orang tua lakukan bersama anaknya ketika liburan tiba:

1. Manfaatkan Waktu

Waktu bersama anak di masa libur adalah karunia yang tidak bisa diulang. Jadikan pertemuan yang singkat ini bermakna. Sisihkanlah sejenak gadget dan fokuslah pada kebersamaan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu darinya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Jangan sampai waktu berharga ini justru dihabiskan dalam diam yang terpisah oleh layar. Peluk mereka, tatap wajah mereka, dan bicaralah dari hati ke hati. Anak-anak akan mengingat momen ini seumur hidup mereka.

2. Bagaimana Hati Anak Kita?

Ilmu adalah cahaya, dan hanya bisa menetap dalam hati yang bersih. Maka ajarkan anak untuk senantiasa menjaga hati dari dosa, karena dosa adalah penghalang ilmu.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِینَ ٱتَّقَوۡا۟ إِذَا مَسَّهُمۡ طَـٰۤىِٕفࣱ مِّنَ ٱلشَّیۡطَـٰنِ تَذَكَّرُوا۟ فَإِذَا هُم مُّبۡصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat (Allah), maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’raf: 201)

Ingatkan mereka untuk menjaga shalat, menjaga pandangan, menjauhi ghibah, dan membersihkan hati dari sifat tercela. Bimbing mereka untuk tidak hanya cerdas secara akal, tetapi juga bening dalam hati.

3. Jangan Gagal Fokus

Jangan bebani anak dengan urusan rumah tangga yang berlebihan, hal ini biasanya mengganggu konsentrasi belajarnya. Fokus mereka di pondok harus dijaga.

Rasulullah ﷺ bersabda:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)

Maka hindarilah menceritakan konflik atau hal-hal yang membuatnya gelisah. Biarkan mereka belajar dengan tenang dan lapang dada, tanpa membawa beban yang tidak perlu.

4. Jaga Semangat

Semangat adalah bahan bakar utama dalam menuntut ilmu. Dukunglah mereka dengan kata-kata positif dan motivasi yang membangun.

Allah ﷻ berfirman:

وَٱلَّذِینَ جَـٰهَدُوا۟ فِینَا لَنَهۡدِیَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِینَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Mereka mungkin belum sempurna dalam hafalan atau pemahaman, tapi dengan semangat dan ketekunan, insyaAllah mereka akan sampai.

5. Dengarkan Mereka

Jadilah pendengar yang baik. Dengarkan tanpa menghakimi, rangkul tanpa mencela.

Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam mendengarkan. Beliau bersabda:

من لا يرحم لا يُرحم

“Barangsiapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Anak-anak tidak selalu butuh solusi instan, tapi mereka butuh orang tua yang hadir dan mengerti. Jadikan hati kita rumah bagi cerita-cerita mereka.

6. Jangan Lupakan Adab!

Ilmu akan sulit masuk ke dalam hati yang tidak dijaga adabnya. Maka, tanamkan adab sejak dini: kepada guru, teman, dan ilmu itu sendiri.

Yusuf bin Al-Husain berkata:

بالأدب تفهم العلم

“Dengan adab engkau akan memahami ilmu.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مكارم الأخلاق

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Sampaikan dengan lembut bahwa adab adalah mahkota seorang penuntut ilmu. Tanpa adab, kemuliaan ilmu akan sirna.

7. Semua Ada Waktunya

Waktu liburan bukan berarti lepas kendali. Ingatkan anak kita bahwa waktu belajar tidak boleh digantikan dengan waktu bermain yang berlebihan, apalagi larut dalam media sosial.

Allah ﷻ berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih…” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Ajari mereka menunda kesenangan sesaat demi kebahagiaan jangka panjang. Beritahu bahwa kesungguhan hari ini adalah kunci kesuksesan di masa depan.

8. Perhatikan Juga Batinnya

Batin anak kita pun butuh perhatian. Jangan hanya fokus pada makanan dan pakaian, tapi lihat juga bagaimana kondisi jiwanya.

Sahl bin ‘Abdillah berkata: “Haram bagi hati dimasuki cahaya ilmu jika masih terdapat sesuatu yang dibenci Allah di dalamnya.”

Ajari anak untuk mengenali penyakit hati: hasad, ujub, takabbur, dendam. Ajak mereka membersihkannya dengan dzikir, istighfar, dan muhasabah. Sebab, hati yang jernih adalah ladang terbaik untuk menanam ilmu.

Penutup: Liburan bukan hanya jeda dari rutinitas, tapi kesempatan memperkuat ikatan antara orang tua dan anak. Manfaatkanlah dengan penuh kesadaran, jadilah penyemangat utama mereka, agar kelak anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, cerdas, dan shalih.

Semoga Allah ﷻ menjaga anak-anak kita, menjadikan mereka ahli ilmu yang beradab, dan menempatkan mereka dalam barisan orang-orang yang membawa cahaya Islam ke masa depan. Aamiin.

donatur-tetap

Mukhayyam Tarbawi: Santri Belajar Mandiri dan Kepemimpinan di Alam Terbuka

0

HAMALATULQURAN.COM, BANTUL — Dalam rangka mengisi waktu selepas Penilaian akhir Semester (PAT) dan agenda Idul Adha. para santri Pondok Pesantren Hamalatulquran Yogyakarta menggelar kegitan Mukhoyyam Tarbawi atau camping dan outbond. Kegiatan  ini berlangsung selama tiga hari sejak Senin-Rabu 16-18 Juni 2025 yang berlokasi di Bumi Perkemahan Wonolelo, Pleret, Bantul, D.I/Yogyakarta

Kegitan Mukhoyyam Tarbawi diikuti oleh semua santri Pondok Pesantren Hamalatul Quran, Yogyakarta dari kelas VII SW sampai kelas XII MA.

Sejak pagi pukul 06.00 WIB para santri sudah bersiap untuk bertolak menuju bumi perkemahan Wonolelo. Setibanya di lokasi, para santri diberi beberapa arahan oleh panitia kemudian dilanjutkan dengan mendidirikan tendas esuai kelompok masing-masing yang telah dibagi.

Keesokan harinya, para santri diajak untuk menyusuri hutan di daerah Pleret setelah di malam harinya dilaksanakan kegiatan jelajah malam

Pada Kemping kali ini para santri juga dilatih kemandirian, kedisiplinan, kekompakan, dan keberanian melalui permainan-permainan yang menarik.

Menurut Ustadz Setyo Susilo, selaku pendamping santri dalan kegiatan camping, bahwa canping ini bukan hanya untuk liburan santri saja.
“Acara camping selain sebagai ajang liburan para santri juga sebagai bentuk pengajaran untuk mengenalkan santri dengan alam yang merupakan ayat kauniyah Alloh subhanahuwata’ala dan juga untuk menanamkan rasa cinta kepada alam serta melatih santri untuk menjaga kelestariaanya”, ujarnya.

Diharapkan setelah diadakanya kegiatan liburan camping para santri dapat kembali ke pesantren dengan keadaran yang lebih fress dan kembali dengan semangat belajar baru untuk mengajafal kalamullah.

***

Galeri Foto Mukhoyyam Tarbawi Hamalatul Quran 2025.

   

donatur-tetap

Agar Liburan Santri Tidak Sia-Sia: Simak 7 Pesan Penting Ini

0

Liburan bukan berarti bebas tanpa batas. Bagi santri, liburan adalah momen untuk menguji seberapa dalam ilmu dan seberapa kuat akhlak yang sudah ditanamkan. Berikut tujuh nasehat penting yang bisa menjadi bekal hati menjelang liburan, disertai dalil-dalil yang menguatkannya:

1. Niatkan Pulang untuk Berbakti

Liburan adalah kesempatan untuk mendekat kepada orang tua dan membalas jasa mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil.'” (QS. Al-Isra: 24)

Santri sejati tahu bahwa liburan adalah ladang pahala jika dijalani dengan niat berbakti.

2. Jaga Adab, Dimanapun Berada

Santri dikenal bukan hanya karena ilmu, tapi karena adabnya yang mulia.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ketakwaan itu tampak dari adab. Jangan hilang santunmu meski jauh dari pesantren.

3. Bawa Ilmu, Jangan Tinggalkan Akhlak

Ilmu tanpa akhlak seperti pohon tanpa buah. Maka, jagalah keduanya saat pulang ke rumah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Santri bukan hanya penuntut ilmu, tapi juga teladan dalam perilaku.

4. Isi Waktu dengan Hal Bermanfaat

Waktu adalah amanah. Gunakan sebaik-baiknya untuk kebaikan, bukan kesia-siaan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

نِعمَتانِ مغبونٌ فيهما كثيرٌ من الناسِ: الصَّحَّةُ والفَّراغُ

“Dua nikmat yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Liburan adalah nikmat. Jangan biarkan habis hanya untuk tidur dan bermain.

5. Jaga Ibadah dan Rutinitas

Jangan kendurkan ibadah hanya karena jauh dari pesantren. Justru ini waktu untuk membuktikan keistiqamahan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang terus-menerus, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Terus jaga shalat berjamaah, tilawah, dzikir, dan muroja’ah walau hanya di rumah.

6. Bijak Bermedsos dan Berteman

Pilih lingkungan dan teman yang baik, baik di dunia nyata maupun maya. Medsos bisa jadi ladang pahala, tapi juga bisa jadi sumber dosa.

 مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ

“Teman yang baik dan teman yang buruk ibarat penjual minyak wangi dan tukang pandai besi…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Santri harus cerdas memilah, mana yang membawa kebaikan dan mana yang justru menjauhkan dari Allah.

7. Bersiap Kembali dengan Semangat Baru

Liburan bukan tempat menetap. Ia hanya rehat sesaat sebelum kembali berjuang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَريقا يَبْتَغي فيه عِلْما سَهَّل الله له طريقا إلى الجنة

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Kembalilah ke pesantren nanti dengan hati yang lebih lapang dan semangat yang lebih membara.

Penutup: Santri bukan hanya baik di pesantren. Liburan adalah ujian sejati, apakah nilai-nilai yang dipelajari tetap hidup di luar tembok pondok. Pulanglah dengan niat, jaga adab, manfaatkan waktu, dan tetap istiqamah.

Semoga liburanmu penuh berkah dan mendatangkan ridha Allah. 

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A

donatur-tetap

Ibadah Hati Bag.12: Macam-Macam Dosa

0

Dosa itu terbagi menjadi dua macam, yaitu dosa besar dan dosa kecil. Sebagian ulama tidak menyetujui pembagian sebagaimana di atas, akan tetapi mereka menganggap bahwa segala bentuk kemaksiatan terhadap Allah adalah dosa besar. Hal ini dikarenakan perbuatan dosa adalah suatu bentuk kelancangan terhadap Allah ta’ala. Alasan lain adalah orang yang tidak setuju dengan pembagian dosa menjadi dua memandang bahwa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh seorang hamba adalah sangat besar sehingga menyebabkan mereka tidak menganggap adanya dosa kecil.

Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dosa kecil adalah karena melihat adadosa yang lebih besar darinya bukan karena dosa tersebut merupakan dosa yang kecil. Kalau tidak demikian maka sebenarnya semua dosa itu adalah dosa besar. (Ittihaf As Saddah Al Muttaqin hal. 157).

Pendapat yang menyatakan bahwa seluruh perbuatan dosa adalah dosa besar adalah pendapat yang lemah karena Allah ta’ala telah membagi dosa itu menjadi perbuatan keji, dosa besar dan dosa kecil.

Allah Ta’ala berfirman:

وَ الَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبَائِرَ الإِثْمِ وَ الفَوَاحِشَ إِلاَّ اللَّمَمَ

“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa–dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil.”(QS. An Najm: 32).

Yang dimaksud dengan lamam adalah dosa-dosa kecil semisal mencium, menyentuh dan memandang wanita yang tidak halal untuk dipandang dll.(Lihat Tahzib Madarij Salikin)

Pendapat yang benar –wallahu a’lam– adalah pendapat yang membagi dosa menjadi dosa besar dan dosa kecil. Dosa besar tidaklah terbatas dengan jumlah tertentu. Akan tetapi semua perbuatan terlarang yang diancam dengan neraka, kemurkaan, laknat dan siksa-Nya serta mengharuskan penegakan hukum had untuk pelakunya di dunia merupakan dosa besar. Sedangkan dosa kecil adalah dosa-dosa yang selain itu.(Ittihaf As Saddah Al Muttaqin: 10/615-616 dengan beberapa perubahan). Sebenarnya terdapat beberapa pendapat yang lain mengenai pengertian dosa besar. Pendapat-pendapat tersebut sengaja tidak kami sampaikan untuk meringkas pembahasan. Uraian lebih lengkap bisa dilihat dalam Ittihaf.

SEBAB BERUBAHNYA DOSA KECIL MENJADI DOSA BESAR

Imam Ibnul Qoyyim menyebutkan bahwa dosa besar yang terkadang diiringi dengan rasa malu, takut dan menganggap bahwa hal tersebut sangat mengerikan itu justru bisa memasukkan dosa besar itu menjadi kelompok dosa kecil. Sedangkan melakukan dosa kecil yang diiringi dengan sedikit rasa malu, tidak mau memperdulikan larangan, tidak merasa takut bahkan meremehkannya, itu semua justru bisa memasukkan dosa kecil itu ke dalam kelompok dosa besar. Bahkan bisa membuat dosa kecil tersebut menjadi dosa yang paling besar. (Tahdzib Madarij As Salikin, 185-186).

Sebagai tambahan terhadap penjelasan imam Ibnul Qoyyim di atas, berikut ini adalah hal-hal yang bisa mengubah dosa kecil menjadi dosa besar:

1. Dosa kecil itu dilakukan secara kontinyu dan terus-menerus.

Hal ini bisa menyebabkan jiwa menjadi keras membatu dan hati tertutupi. Dikatan: “Tidak ada yang namanya dosa kecil kalau dilakukan terus-menerus dan tidak ada dosa besar kalau segera meminta ampun.” ( Perkataan ini dinisbahkan kepada Ibnu Abbas dalam beberapa riwayat yang saling menguatkan, lihat Ittihaf As Saddah Al Muttaqin, 10/687).

2. Meremehkan dosa kecil.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَ مُحَقََّّّرَاتِ الذُّنُوْبِ فَإِنَّهُنَّ يَجْمَعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكَهُ

Hati-hatilah dengan dosa-dosa yang diremehkan karena kalau dosa-dosa itu bertumpuk karena dilakukan terus-menerus lalu membinasakan pelakunya.”( Dalam Majmuz Zawaid 10/192, Imam Haitsami menyatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani dalam AlAusath. Para perawi dalam riwayat Ahmad dan Thabrani adalah para perawi yang digunakan dalam kitab shahih kecuali Imran bin Dawur Al-Qaththan namun beliaupun telah dianggap tsiqah).

Ibnu Mas’ud t berkata: “Sesungguhnya orang yang beriman itu menganggap dosa-dosanya seolah-olah dia duduk di bawah sebuah gunung. Dia takut sekiranya gunung itu akan menimpanya. Akan tetapi orang yang hanyut dalam kemaksiatan melihat dosa-dosanya seakan hanya seperti seekor lalat yang lewat di depan hidungnya.” Ibnu Mas’ud lalu memperagakannya. Ibnu Syihab (salah seorang rawi)lalu berisyarat dengan menggerakkan tangannya di depan hidungnya.

Sebagian salaf mengucapkan: “Dosa yang tidak diampuni adalah kalau seorang hamba mengatakan: Kalau sekiranya seluruh dosa yang kuperbuat itu Cuma seperti ini.” (Ittihaf As Saddah Al Muttaqin: 10/689). Maksudnya, dia meremehkan dosa yang telah diperbuatnya.

Oleh karena itu Anas radhiyallahu ‘anhu berkata kepada sebagian tabiin: “Kalian akan melakukan suatu perbuatan dosa yang di mata kalian itu nampak lebih kecil daripada rambut padahal pada zaman Nabishallallahu ‘alaihi wasallam, kami menganggap perbuatan itu sebagai dosa yang menghancurkan.”(HR. Bukhari, 8/128).

Anas radhiyallahu ‘anhu tidak mengatakan bahwa pada jaman setelah Rasulullah wafat dosa-dosa besar itu dianggap sebagai dosa kecil. Akan tetapi beliau mengatakan demikian itu karena pengetahuan sahabat terhadap keagungan Allah lebih sempurna. Sehingga menurut mereka dosa kecil itu kalau dikorelasikan dengan keagungan Allah maka dosa itu termasuk dosa besar. Dengan sebab inilah suatu perbuatan dosa seorang alim itu dianggap sebagai sesuatu yang besar akan tetapi hanya dianggap sebagai sesuatu yang kecil jika dilakukan oleh orang yang bodoh. Adapula perbuatan-perbuatan dosa yang terampuni jika pelakunya adalah orang yang bodoh akan tetapi dosa ini tidak dimaafkan bila dilakukan oleh seorang yang alim. Hal ini dikarenakan dosa dan kesalahan akan menjadi besar atau kecil berbanding lurus dengan pengetahuan pelakunya.(Ittihaf asSadatul Muttaqin, 10/690)

Oleh karena itu kita tidak boleh menganggap enteng perbuatan dosa karena “kalau kita menganggap remeh hal itu maka tidak akan timbul rasa penyesalan terhadap perbuatan dosa yang kita lakukan. Dalamnya penyesalan seseorang setelah melakukan perbuatan dosa itu berbanding lurus dengan bagaimana sikapnya terhadap dosa tersebut, meremehkan ataukan tidak. Contohnya orang yang meremehkan uang dengan nominal kecil yang hilang maka tidak timbul rasa penyesalan dalam dirinya tatkala menghambur-hamburkan uang tersebut. Namun tatkala dia tahu kalau uang yang dihambur-hamburkan itu ternyata nilai nominalnya tinggi maka diapun akan sangat menyesal. Dia tidak akan menganggap remeh sikap membuang-buang uang tersebut.

Sikap tidak meremehkan perbuatan dosa itu timbul melalui tiga hal, yaitu: tidak meremehkan perbuatan dosa itu sendiri, adanya rasa pengagungan terhadap pemberi perintah dalam hal ini adalah Allah dan yakin bahwa perbuatan dosa pasti akan dibalas”.(Tahdzib Madarij Salikin, hal.124)

3. Merasa senang dan gembira ketika melakukan dosa kecil.

Contohnya, seseorang yang melakukan dosa kecil mengatakan: “Aku teringat bagaimana aku bisa mempermalukan si-A, bagaimana aku menyebutkan keburukan-keburukannya sehingga membuat dia malu.

Contoh lainnya adalah ucapan orang yang menganiaya orang lain: “Aku teringat bagaimana aku memukul dan menghinakan si-A.”, atau dengan ucapan-ucapan yang lainnya.

“Kelalaian seorang yang melakukan perbuatan dosa semakin besar sehingga diapun merasa senang ketika bisa mengumbar hawa nafsunya untuk melakukan perbuatan yang haram. Rasa senang ketika melakukan perbuatan maksiat ini menjadi indikator adanya rasa cinta terhadap perbuatan dosa itu, kebodohannya terhadap kedudukan Dzat yang dia durhakai dan ketololannya terhadap akibat dan bahaya perbuatan tersebut.

Kecintaannya terhadap perbuatan dosa itu telah menutupi semua, betapa bahayanya hal tersebut. Rasa senangnya terhadap perbuatan dosa itu lebih berbahaya padanya daripada tercebur ke dalam perbuatan itu sendiri. Kalau kelalaian itu sampai tingkat seperti ini maka kelalain itu pasti akan menyeretnya untuk terus-menerus melakukan perbuatan dosa dan bertekad untuk mengulanginya lagi. Ini adalah bentuk dosa lain yang mungkin jauh lebih besar daripada dosa yang pertama tadi. Inilah hukuman atas perbuatan dosa, yaitu akan timbul dosa lain yang lebih besar daripada dosa yang pertama.(Tahdzib Madarij As Salikin hal. 122-123).

4. Meremehkan dosa kecil karena optimis kalau Allah tidak akan menampakkan dosanya dihadapan orang lain bahkan bermurah hati kepadanya.

Hal ini terjadi ketika pelaku dosa kecil terperdaya dengan sikap Allah yang akan menutupi dosa. Padahal dia tidak tahu itu semua hanyalah bentuk penundaan dari Allah. Bahkan dirinya menyangka kalau Allah ta’ala mencintai dan memuliakannya. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Yahudi seperti ucapan-ucapan yang mereka lontarkan sebagaimana yang Allah ceritakan. Orang-orang Yahudi mengucapkan:

نَحْنُ أَبْنَاءُ اللهِ وَ أَحِبَّاؤُهُ

Kami adalah anak-anak dan kekasih-kekasih Allah.”(QS. Al Maidah: 18).

Allah ta’ala berfirman:

وَ يَقُوْلُوْنَ فِي أَنْفُسِهِمْ لَوْ لاَ يُعَذِّبَنَا اللهُ بِمَا نَقُوْلُ حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ المَصِيْرُ

Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri: Mengapa Allah tiada menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu? Cukuplah bagi mereka neraka yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.”

5. Membeberkan dosa yang telah ditutupi Allah dengan menceritakannya kepada orang lain.

Barang siapa yang telah melakukan dosa kecil padahal Allah telah menutupinya, kemudian dia membeberkan, menceritakan dan membicarakannya berarti dia telah membuat dosa kecil itu menjadi berlipat ganda karena ditambah dengan dosa-dosa lainnya. Orang yang mendengarkan cerita itu akan terdorong untuk melakukan dosa sebagaimana yang dilakukannya. Bahkan terkadang dirinya sendiri justru memberikan support kepada orang yang mendengarkannya agar mereka melakukan perbuatan dosa tersebut. Oleh karena itu kalau dilihat dari kaca mata ini dan yang lainnya maka dosa kecil itu bisa berubah menjadi dosa besar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seluruh umatku akan mendapatkan ampunan kecuali orang yang terang-terangan berbuat kemaksiatan. Di antara bentuk kemaksiatan secara terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu dosa pada malam hari. Allah lantas menutupi perbuatan tersebut, akan tetapi orang tadi justru mengatakan: Wahai fulan, semalam aku melakukan demikian dan demikian. Padahal pada malam harinya, Allah telah menutupi perbuatan tersebut sehingga orang itu melewati malam dan kesalahannya telah ditutupi Allah. Namun, pada pagi harinya diapun membuka tutup yang Allah berikan kepadanya.”(HR. Muslim, 18/412).

6. Pelaku dosa kecil itu adalah ulama’ yang menjadi panutan atau orang yang dikenal sebagai orang yang shalih.

Demikian itu, jika orang alim tersebut sengaja melakukan dosa kecil dengan menyombongkan diri dan berusaha membenturkan suatu dalil dengan dalil yang lainnya. Balasan orang yang demikian itu adalah dosa kecil yang dilakukannya akan berubah menjadi dosa besar. Akan tetapi kalau orang alim itu melakukan perbuatan dosa itu lantaran salah dalam memahami nash, emosi dan sebagainya maka dimaafkan. Terlebih lagi kalau dia melakukan amal perbuatan yang bisa menyebabkan adanya ampunan dari Allah.

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan: “Selain itu juga, orang yang dicintai dan orang yang memiliki amal yang besar  akan mendapatkan ampunan yang tidak diberikan kepada orang lain. Dia akan mendapatkan kemurahan yang tidak diberikan kepada orang lain. Aku mendengar syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –semoga Allah mensucikan ruhnya– mengatakan: Perhatikanlah bagaimana Musa membuang lembaran-lembaran papan taurat sehingga pecah, padahal dalam lembaran-lembaran tersebut terdapat kalam Allah yang Dia tulis sendiri. Demikian juga Musa menarik jenggot nabi Harun dan menampar mata malaikat maut hingga tercukil. Dia juga mencela Allah pada malam isra’ mikraj karena meninggikan Muhammad lebih dari dirinya. Akan tetapi Allah ta’ala bersabar bahkan mencintai dan memuliakannya. Itu semua karena Musa melakukan berbagai pengorbanan yang begitu besar untuk memperbaiki kondisi Bani Israil. Kesalahan-kesalahan Musa di atas dibandingkan dengan amal kebaikannya berupa menghadapi musuh, bersungguh-sungguh untuk melaksanakan perintah Allah dan melakukan berbagai usaha untuk memperbaiki keadaan bangsa Mesir itu bagaikan sehelai rambut di tengah lautan.

Perhatikanlah kisah nabi Yunus bin Mata. Lantaran dia tidak memiliki pengorbanan seperti nabi Musa. Karenanya Allah marah bahkan menyiksa dan memenjarakannya dalam perut ikan. Dia tidaklah bersabar kepadanya sebagaimana sikapnya kepada Musa. Oleh karena itu, barang siapa yang amal kebajikannya lebih berat daripada amal kejelekannya maka dia akan beruntung dan tidak akan disiksa. Kejelekan-kejelekannya akan hilang karena amal kebajikan yang dilakukannya”.(Tahdzib Madarij Salikin, hal. 186)

Referensi: Al ‘Ibadaat Al Qolbiyyah wa Atsaruha fi Hayatil Mu’minin ditulis oleh Dr. Muhammad bin Hasan bin ‘Uqail Musa Al-Syarif

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A

donatur-tetap

Ibadah Hati Bag.11: Hakikat Taubat

0

Taubat adalah tangga pertama yang harus dilalui oleh orang-orang yang kembali kepada Allah dan hendak memperbaiki keadaan mereka terhadap Allah. “Taubat adalah permulaan jalan bagi seorang salik (orang yang menempuh jalan menuju Allah), modal bagi orang-orang yang beruntung, langkah awal seorang yang menghendaki (Allah), kunci istiqomah bagi orang-orang yang condong dan langkah awal pemilihan orang-orang istimewa.” (Ittihaf As Sa’adah Al Muttaqin: 10/547).

“Taubat merupakan kedudukan yang pertama, kedudukan pertengahan dan yang terakhir. Artinya kedudukan ini tidak pernah lepas dari seorang hamba dan selalu menyertainya hingga mati.”(Tahdzib Madariju As Salikin hal. 122).

Dalam banyak ayat Al Qur’an, Allah mendorong kita untuk bertaubat:

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا تُوْبُوْا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصُوْحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَ يُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, mudah-mudahan Allah menutupi kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang sungainya mengalir di bawahnya.”(QS. At Tahrim: 8).

Allah menyatakan bahwa Dia memiliki banyak ampunan untuk orang-orang yang bertaubat:

وَ إِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَ آمَنَ وَ عَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى

“Dan Aku adalah Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal sahlih kemudian tetap di atas jalan yang benar.”(QS. Thoha: 82).

Allah juga berfirman:

إِنَّ اللهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

Sungguh Dia itu Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. At At Taubah: 118).

Allah merasa gembira dengan taubat seorang hamba padahal Dia menyatakan:

لَغَنِيٌ عَنِ العَالَمِيْنَ

Tidak membutuhkan semesta alam.”(QS. Al-Ankabut: 6).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa Allah berfirman: “Kalau sekiranya orang yang pertama kali hingga terakhir kali diciptakan, manusia dan jin memiliki tingkat ketakwaan seperti orang yang paling bertakwa di antara kalian maka itu semua tidak akan menambah sedikitpun pada kerajaanku. Kalau sekiranya orang yang pertama kali hingga terakhir kali diciptakan, manusia dan jin memiliki tingkat kekafiran sama dengan orang yang paling kafir di antara kalian maka itu semua tidak akan mengurangi sedikitpun dari kerajaanku” (HR. Muslim).

Akan tetapi Allah Ta’ala ternyata merasa gembira dengan taubatnya seorang hamba. Itu semua adalah kemulian dan karunia dari-Nya. Rasulullah r mengambarkan hal ini dengan gambaran nan elok sebagai berikut:

“Allah sangat bergembira dengan taubatnya seorang hamba tatkala dia meminta ampun kepada-Nya. Kegembiraan-Nya melebihi kegembiraan salah seorang di antara kalian yang menaiki unta di padang sahara. Namun, ternyata unta itu kemudian pergi meninggalkannya. Padahal pada unta tersebut terdapat bekal makanan dan minumannya. Orang itupun putus asa. Dia menghampiri sebuah pohon dan berbaring di tempat yang teduh. Sungguh, dia putus asa dengan kepergian untanya itu. Tatkala dia sedang demikian, tiba-tiba untanya berdiri di depannya. Diapun lantas mengambil tali kekangnya. Lantaran begitu gembiranya, dia mengucapkan: ‘Ya Allah,  Engkau adalah hambaku dan aku adalah rabb-Mu.’ Dia salah ucap karena begitu gembira hatinya.” (HR. Muslim).

Imam Ibnul Qoyyim berbicara panjang lebar tentang sebab kegembiran Allah dan makna kegembiraan itu sendiri. Ringkasnya sebagai berikut; sesungguhnya Allah ta’ala memiliki sifat dermawan dan berbuat baik kepada makhluk-Nya. Hamba yang durhaka memang potensial untuk mendapatkan marah, murka dan hukuman Allah. Sehingga ridho Allahpun berubah menjadi murka dan amarah. Kebaikan, kedermawanan dan kemurahan Allah berubah menjadi hukuman dan siksaan. Dengan perbuatan maksiat itu, seorang hamba memicu Allah untuk melakukan hal-hal yang sebetulnya kurang Dia sukai dan menyelisihi sifat dermawan dan berbuat baik kepada makhluk yang merupakan karakter asli Allah. Sehingga, ketika seorang hamba kembali kepada Tuannya (Allah) maka Allah akan bergembira. Dia akan kembali bersikap baik, dermawan dan santun kepada hamba-Nya tersebut.

Masih ada hikmah lain yang tersembunyi dengan adanya kegembiraan Allah. Hikmah itu adalah sesungguhnya Allah menciptakan makhluk agar mereka itu beribadah dan taat kepada-Nya. Kalau seorang hamba telah keluar dari koridor ketaatan dan ibadah maka dia telah keluar dari sesuatu yang dicintai Allah. Dia juga telah keluar dari tujuan makhluk diciptakan. Kalau hamba itu kemudian kembali kepada ketaatan dan beribadah kepada Allah maka dia telah kembali kepada tujuan yang dicintai Allah, pencipta dan pembuatnya. Alangkah gembiranya Allah dengan hamba tersebut. Penjelasan di atas adalah ringkasan dari pernyataan Ibnul Qoyyim.

Ibnul Qoyyim rahimahullah ta’ala menyebutkan sebuah kisah yang bisa mendiskripsikan orang yang bertaubat kepada Allah. Dia mengatakan bahwa sebagian orang arif melihat ada pintu sebuah rumah yang berada di pinggir jalan terbuka. Seorang anak kecil lantas keluar dari pintu itu merengek-rengek minta tolong sambil menangis. Dari belakang, sang ibu mengusirnya hingga dia keluar rumah. Di hadapannya, sang ibu menutup pintu dan masuk ke dalam rumah.

Anak kecil itu kemudian pergi tak jauh dari tempat itu. Dia lantas duduk termenung. Dia tidak mendapatkan tempat berlindung selain dalam rumah yang ditinggalkannya. Tidak ada seorangpun yang melindunginya kecuali hanya sang ibu. Diapun lantas kembali dengan hati yang bersalah dan penuh kesedihan. Namun, dia dapatkan ternyata pintu telah tertutup. Diapun bersandar di pintu dan meletakkan pipinya di ambang pintu, lantas tertidur.

Tatkala sang ibu keluar, dia dapatkan anaknya dengan kondisi demikian itu maka dia tak kuasa menahan diri untuk segera menghampiri buaian hatinya. Sang ibupun lantas memeluk, menciuminya dan menangis. Sang ibu berkata: “Wahai anakku, kemanakah engkau pergi? Siapakah yang melindungimu selain aku? Bukankah aku telah mengatakan: ‘Janganlah engkau menentangku. Janganlah engkau membuatku marah sehingga tidak mencurahkan kasih sayang kepadamu yang merupakan karakter dasarku hanya karena kedurhakaanmu.”

Perhatikanlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

اللهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنَ الوَالِدَةِ بِوَلَدِهَا

Allah itu lebih menyayangi hambanya daripada kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.”(HR. Muslim).

Seberapakah kasih sayang seorang ibu kalau dibandingkan kasih sayang Allah yang meliputi segala sesuatu?(Tahdzib Madarij As Salikin hal. 136-137)

Allah ta’ala mencintai orang yang mau bertaubat. Allah berfirman:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَابِيْنَ

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.”(QS. Al Al Baqoroh: 222).

Nabi bersabda:

إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ النَّهَارِ، وَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعُ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

Sesungguhnya pada malam hari, Allah U membentangkan tangan-Nya agar orang yang berbuat kesalahan di siang hari mau bertaubat. Pada siang harinya, Allah membentangkan tanggan-Nya agar orang yang berbuat kesalahan pada malam hari mau bertaubat. Allah melakukan hal itu sampai matahari terbit dari arah barat.”(HR. Muslim).

Rasulullah r banyak melakukan taubat bahkan mendorong para sahabatnya agar melakukannya. Beliau r bersabda:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ فَإِنِّي أَتُوْبُ فِي اليَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah. Sesungguhnya dalam sehari, aku bertaubat kepada Allah sebanyak seratus kali.”(HR. Muslim).

Dalam banyak riwayat, para salaf juga memberikan dorongan untuk melakukan taubat. Di antaranya adalah perkataan Tholq bin Hubaib Al Bashri rahimahullah ta’ala (Beliau adalah termasuk ulama besar di kalangan tabi’in, wafat sebelum 100H Nuzhatul Fudhola’: I/455): “Sesungguhnya seorang hamba tidak akan mungkin menunaikan hak-hak Allah secara sempurna. Oleh karena itu, hendaknya mereka bertaubat setiap pagi dan petang hari.”(Ittihaf As Saddah Al Muttaqin: I/203).

MAKNA DAN HUKUM TAUBAT

Makna taubat adalah kembali taat setelah melakukan kesalahan. Ulama yang lain mengatakan bahwa makna taubat adalah meninggalkan perkara yang dibenci oleh Allah secara lahir dan batin untuk selanjutnya menuju perkara yang dicintai Allah baik secara lahir maupun batin.(Tahdzib Madarij As Salikin hal: 172).

Taubat itu harus segera dilakukan ketika mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa. Allah ta’ala berfirman:

وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ جَمِيْعًا أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

artinya:  “Bertaubatlah kalian semua kepada-Ku, wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.”(QS. An Nur: 31).

Kalau bertaubat itu harus dilakukan dengan segera maka kita tidak boleh menunda-nundanya.

Tatkala seseorang menunda-menunda taubat, berarti dia telah berbuat maksiat lantaran penundaannya tersebut. Kalau dia telah bertaubat lantaran dosanya maka dia masih harus melakukan taubat yang lainnya, yaitu bertaubat lantaran menunda-nunda taubat. Hal ini sering kali tidak terlintas di benak orang yang sedang bertaubat. Bahkan menurutnya, jika dirinya telah bertaubat dari kesalahan maka sudah tidak ada lagi taubat yang lainnya. Padahal sebenarnya, dia masih harus bertaubat lantaran menunda-nunda untuk bertaubat. (Tahdzib Madarij As Salikin hal. 157. Lihat juga kitab Ittihaf As Saddah Al Muttaqin, 10/612).

Referensi: Al ‘Ibadaat Al Qolbiyyah wa Atsaruha fi Hayatil Mu’minin ditulis oleh Dr. Muhammad bin Hasan bin ‘Uqail Musa Al-Syarif

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A

donatur-tetap

Dokumentasi Qurban 2025 di Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta

0

Dokumentasi Semarak Idul Adha dan Qurban bersama para santri penghafal Al-Quran Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta

 

 

        

donatur-tetap

Ibadah Hati Bag.10: Indikator dan Kiat Agar Bisa Ikhlas

0

Seorang yang ikhlas memiliki indikator-indikator yang bisa diketahui, diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Khawatir menjadi tenar.
  2. Menganggap dirinya memiliki banyak kekurangan dan kesalahan.
  3. Tidak banyak berkata ketika beramal.
  4. Tidak mencari pujian dan sanjungan dan tidak terpedaya ketika mendapat pujian dan sanjungan.
  5. Tidak sungkan-sungkan untuk memuji orang yang berhak mendapatkan pujian dan sanjungan asal ketentuan untuk memuji seseorang sudah terpenuhi.
  6. Sama saja berstatus menjadi pemimpin atau yang dipimpin dalam pandangannya ketika dalam beramal karena Allah.
  7. Merasa gembira dengan ridha Allah, tidak dengan ridha manusia.
  8. Ridha dan bencinya itu karena Allah bukan karena dirinya.
  9. Bersabar untuk menempuh jalan perjuangan yang panjang dan pertolongan Allah pun tak kunjung datang.
  10. Merasa gembira ketika temannya mendapat keberhasilan atau minimal tidak merasa tersinggung karenanya.
  11. Berantusias untuk membersihkan hati dari ujub.
  12. Tidak menganggap baik dirinya sendiri.
  13. Menyembunyikan ketaatan yang dilakukan kecuali karena alasan yang jelas dan kuat dan lain-lain.

Setiap indikator di atas memiliki contoh dan dalil. Uraian mengenai hal tersebut sangat panjang, sengaja tidak kami sampaikan agar penjelasan mengenai hal ini tidak berlarut-larut. (An Niyah wa Ikhlas karya Dr Yusuf Qordhowi hal 69-93).

Kiat-kiat Agar Bisa Ikhlas

  1. Berdoa dan berlindung kepada Allah.Karena Dia adalah penolong dan pelindung dalam segala urusan.
  1. Yaitu dengan mengetahui urgensi ikhlas, memahami kiat-kiat setan dan apa yang dilakukan setan pada jiwa seorang manusia, serta mengetahui ayat dan hadits yang mendorong untuk mengikhlaskan amal sebagaimana telah dipaparkan dimuka.
  1. Mujahadah (usaha penuh kesungguhan).Allah berfirman:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا  لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ المُحْسِنِيْنَ

Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh karena kami, sungguh kami akan memberikan kepada mereka jalan-jalan kami. Sungguh Allah bersama dengan orang-orang yang berbuat baik (Qs al Ankabut: 69).

  1. Besahabat dengan orang-orang yang ikhlas.

Dalam hal ini akan timbul kecintaan terhadap keikhlasan dan usaha agar bisa memiliki sifat tersebut. Sedangkan mengetahui kesungguhan mereka dalam hal ini sangat bermanfaat.

  1. Membaca perjalanan hidup ulama’ salaf dan orang-orang shaleh sesudahnya.

Tidak ada yang lebih efektif selain mendapatkan taufik dari Allah selain menyermati perjalanan hidup orang-orang yang shaleh, perkataan-perkataan mereka yang mujarab dan kesungguhan mereka yang tepat sasaran.

Kiat-kiat di atas butuh penjelasan yang panjang, contoh-contoh dan dalil. Hal ini tidak kami sampaikan untuk mempersingkat uraian (an Niyah wa Ikhlas, hal 113-120)

Referensi: Al ‘Ibadaat Al Qolbiyyah wa Atsaruha fi Hayatil Mu’minin ditulis oleh Dr. Muhammad bin Hasan bin ‘Uqail Musa Al-Syarif

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A

donatur-tetap

Semarak Idul Adha dan Qurban 1446 / 2025 di Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta

0

HAMALATULQURAN.COM — Pondok Pesantren Hamalatul Quran kembali menggelar kurban di Hari Raya Idul Adha 1446 H. Penyembelihan hewan kurban terdiri dari 5 ekor sapi dan 31 ekor kambing yang disembelih di dua tempat yaitu di Pesantren Hamalatul Quran Sanden dan Pesantren Hamalatul Quran Sleman.

Berikut ini data shahibul qurban bersama para ustadz dan santri Hamalatul Quran pada idul adha tahun ini

Kurban Sapi

SAPI 1 Ibu Djazichah Yuniati Binti Muhammad Asfan

SAPI 2 (Kolektif)

  1. Bp. H. Marsono rahimahullah (Ibu Dara)
  2. Ust. Alfian Nurdiansyah
  3. Ibu Herlidjah Rahimahallah
  4. Ibu Endang Sri Nuryanti
  5. Bp. Zuniar
  6. Ibu Sri Marwati
  7. Kel. Bpk. Agus Trianto bin Samsudin Tukimin

SAPI 3 (Keluarga Bapak Awang Djohan Abidin rahimahullah Pendiri/Komisaris Nur Ramadhan Wisara)

  1. Ibu Ninis Rachmawati
  2. Mbak Amalia Pramadewi Djohan
  3. Bapak Djamalul Abidin Ass

SAPI 4 (Kolektif)

  1. Ust. Agus Andriyanto
  2. Ust Amri Suaji
  3. Ust. Abdussalam Busyro
  4. Ust. Samhudi
  5. Ibu Maostri
  6. Ibu Maostri
  7. Ibu Maostri

SAPI 5 (DISRESKRIMSUS)

  1. Ibu Fitria Mayang Sari
  2. Ibu Irma Andriani S.Ak
  3. Bapak Syafik
  4. Bapak Sulaeman
  5. Bapak Maryanto
  6. Bapak Seno Wijiatmoko
  7. Bapak Sunard

Kurban Kambing

  1. Kel. Bpk. Sigit Rakhmadi
  2. Bpk. H. Suwandi Bin Jasmadi Maslum rahimahullah
  3. Abu Zubaer Eka
  4. Bpk. KuwatanaHj.
  5. Ibu Naimah Akif (Bu Zuprijal)
  6. Bpk. Bayu Adji
  7. Bpk. Mustopa Kamal
  8. Ibu Wasmah Zulhaerani
  9. Ananda Ibrahim
  10. Ananda Rafa Zvezda
  11. Bpk. Najahul Imtihan
  12. Ibu Nur Oktaviani
  13. Muhammad Fadhil Hibatullah
  14. Bpk. Eka Nur Iskandar
  15. Bpk. Hasan Abu Fathin
  16. Bpk. Agus Nugroho
  17. Kel. Bpk. Arifuddin Nurdin
  18. Kel. Bp. Arifuddin Nurdin
  19. Ananda Lalu Muhammad Rais Yasin
  20. Kel. Ibu Sarnita
  21. Ananda Ahmad Abdurrahman
  22. Ibu Jesi Putri binti Atomri Lubis
  23. Ananda Zaka Habibie
  24. Bpk. Dachlan Djauhari
  25. Bpk. Prapto Suwito bin Jokarso rahimahullah
  26. Ibu Watimah Muh Daryanto
  27. Ustadz Setyo Susilo
  28. Ibu Tukinah
  29. Ibu Purwati binti Soerat Muljono (bu dibyo)
  30. Ustadz Ahmad Rifa’i
  31. Ustadz Ridwan fauzan

Dengan mengusung tagline “Qurban Bersama Santri Pengahafal Al Quran” Pesantren Hamalatul Quran berusaha menjalankan amanah dari para donatur sohibul kurban yang ingin berbagi bersama santri penghafal Al-Qur’an di Pesantren Hamalatul Quran.

Pelaksanaan kurban ini juga sebagai bentuk menanamkan nilai edukasi penyembelihan kurban kepada para santri. Selain itu para santri juga ikut terjun langsung sesuai jibdesk yang mereka terima, semisal pengulitan, cuci jeroan, pemotongan tulang dan pemotongan daging.

Pelaksanan penyembelihan hewan kurban tahun ini juga semakin tahun semakin menunjukkan kemajuan yang lebih baik dalam pengelolaannya.

Selain diolah dan dibagikan kepada para santri, daging kurban juga di bagikan kepada para staf prsantren. Para ustadz, guru-guru di Pondok Pesantren Hamalatul Quran.

Kami mewakili jajaran pengurus Pondok Pesantren Hamalatul Quran mengucapakan terimakasih kepada para donatur sohibul qurban yang telah mengamanahkan qurbannya kepada Pondok Pesantren Hamalatul Quran, semoga Allah subhanahuwata’ala menerima amalan ibadah kurban kita semua. Jazakumullahu khairan katsiran.

 

donatur-tetap

Khutbah Idul Adha 1446 H: Tauhid Benteng Kaum Muslimin

0

إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. إن أصدق الحديث كتاب الله، وأحسن الهدي هدي محمد، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ 

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا 

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا 

الله أكبر ألله أكبر ألله أكبر لا إله إلا الله و الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallaahu wallaahu Akbar. Allahu Akbar wa lillaahil hamd.

Segala puji hanyalah milik Allah, Rob pencipta, pemelihara, pemilik dan pengatur semesta alam. Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi, yang mengatur kehidupan dan kematian, yang menguji hamba-Nya dengan kesenangan dan kesusahan.

Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad ﷺ, dengan izin Allah beliau membawa risalah tauhid, yang membimbing umat dari kegelapan menuju cahaya, dari kesyirikan menuju kemurnian iman, dari kehancuran menuju keselamatan.

Kaum Muslimin, jama’ah shalat Id yang dirahmati Allah…

Pada hari yang mulia ini, marilah kita renungkan nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada kita: yaitu nikmat tauhid, mengesakan Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Ketahuilah walai jamaah bahwa Tauhid adalah inti dari dakwah seluruh nabi, dari Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, hingga Nabi Muhammad ﷺ.

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiyaa’: 25)

Tauhid adalah pondasi kokoh bagi kehidupan seorang Muslim. Ia adalah benteng terkuat yang menjaga keimanan dari keretakan, menjaga umat dari perpecahan, dan menjaga diri dari ketergantungan kepada selain Allah.

Hari ini kita hidup di zaman yang penuh tantangan akidah. Banyak manusia yang mengaku Muslim, tetapi tidak mengenal hakikat tauhid. Mereka memohon kepada selain Allah (kepada kuburan, penjaga laut, penjaga pohon yang dianggap angker, dsg), mencari berkah dari benda-benda, atau menggantungkan harapan kepada manusia lebih dari kepada Allah.

Tauhid membebaskan manusia dari perbudakan terhadap makhluk. Ketika seseorang bertauhid, ia hanya bergantung kepada Allah. Ia tidak takut kepada celaan manusia, tidak goyah oleh godaan dunia, tidak tergiur oleh janji kekuasaan dan harta.

اَلَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ

“Ingatlah! Hanya milik Allah-lah agama yang murni.” (QS. Az-Zumar: 3)

Jamaah kaum Muslimin…

Tauhid juga merupakan penguat ukhuwah dan persatuan umat. Kita lihat bagaimana Nabi Muhammad ﷺ menyatukan bangsa Arab yang sebelumnya tercerai-berai, penuh dendam kesukuan, menjadi umat yang satu, karena disatukan oleh kalimat Laa ilaaha illallah.

Ketika umat ini kembali kepada tauhid, mereka akan kembali kuat. Namun jika tauhid ditinggalkan, kita akan menyaksikan kehancuran yang sama seperti yang terjadi pada umat-umat terdahulu. Lihatlah kaum Nabi Nuh, kaum ‘Aad, kaum Tsamud — semuanya dibinasakan karena menyekutukan Allah.

Tauhid juga menjadi sumber ketenangan jiwa. Seseorang yang mentauhidkan Allah tidak mudah stres karena dunia, karena ia yakin segala sesuatu ada dalam genggaman Allah. Ia tidak sombong saat diberi nikmat, dan tidak putus asa saat diuji, karena hatinya terikat kepada Allah semata.

Oleh karena itu, mari kita jadikan momentum Idul Adha ini untuk memperbaharui komitmen kita terhadap tauhid. Mari kita koreksi aqidah kita, koreksi keluarga kita, koreksi lingkungan kita. Ajarkan kepada anak-anak kita bahwa hanya Allah yang berhak disembah, hanya kepada-Nya kita berharap, dan hanya kepada-Nya kita berserah diri.

الله أكبر ألله أكبر ألله أكبر لا إله إلا الله و الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Wahai para ayah dan ibu, wahai para pendidik dan pemimpin…

Jadikanlah rumah kita sebagai benteng tauhid. Jangan biarkan ada praktik syirik, tahayul, atau permintaan kepada selain Allah. Jadikan masjid dan majelis kita sebagai tempat membina iman, bukan hanya tempat rutinitas tanpa makna. Jangan biarkan masyarakat hanyut dalam budaya tanpa tauhid.

Kita boleh membangun banyak gedung, teknologi, dan kekuasaan, tapi semua itu tak akan berarti jika aqidah umat ini rapuh.

Mari kita terus menjaga tauhid dalam diri dan keluarga kita, hingga akhir hayat kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang disebut oleh Allah:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rob kami adalah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah, akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fussilat: 30)

Semoga kita wafat dalam keadaan bertauhid, dan dibangkitkan kelak bersama para muwahhidin, orang-orang yang mengesakan Allah, bersama para nabi, para syuhada, dan orang-orang shalih.

KHUTAH KEDUA

الله أكبر ألله أكبر ألله أكبر لا إله إلا الله و الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…

Hari ini adalah hari raya qurban. Hari di mana kita mengenang kembali pengorbanan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan putranya Ismail dalam ketaatan kepada Allah. Peristiwa ini adalah pelajaran tauhid yang sangat agung.

فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya,

وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ

(Kami panggil dia): ‘Wahai Ibrahim,

قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Ash-Shaffat: 103–105)

Ibadah qurban bukan sekadar penyembelihan hewan. Ia adalah simbol kepasrahan, keikhlasan, dan kepatuhan kepada perintah Allah. Nabi Ibrahim tidak mempertanyakan, tidak menawar. Ia taat. Dan inilah makna tauhid: tunduk total kepada Rabb semesta alam.

Dari peristiwa ini kita belajar bahwa tauhid melahirkan cinta yang tulus kepada Allah, hingga sanggup mengorbankan yang paling dicintai demi meraih ridha-Nya. Maka, mari kita bertanya: apa yang sudah kita korbankan untuk membuktikan cinta kita kepada Allah?

Apakah harta, waktu, atau hawa nafsu yang telah kita tundukkan demi ketaatan? Apakah kita siap meninggalkan yang haram demi yang halal? Inilah ujian tauhid kita hari ini.

Wahai kaum Muslimin…

Mari kita jadikan ibadah qurban ini sebagai momentum memperkuat tauhid. Jangan ternodai dengan riya’, pamer, atau sekadar rutinitas sosial. Ikhlaskan hanya karena Allah. Tumbuhkan kesadaran kita bahwa semua yang kita miliki sejatinya titipan, yang harus rela kita serahkan demi ketaatan kepada Allah Robbul ‘alamin.

الله أكبر ألله أكبر ألله أكبر لا إله إلا الله و الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Semoga Allah senantiasa menjadikan kita termasuk hambanya yang bertauhid, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan semoga Allah menerima semua ibadah kita dan mengampuni segala dosa dan ketergelinciran kita ke dalam lubang maksiat.

Doa Penutup Khutbah:

اللهم انصر الإسلام والمسلمين، وأذل الشرك والمشركين، ودمّر أعداءك أعداء الدين، واجعل هذا البلد آمنا مطمئنا وسائر بلاد المسلمين

عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي، يعظكم لعلكم تذكرون.

فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعو

Ditulis Oleh : Muhammad Fathoni, B.A
donatur-tetap

Serah Terima Jabatan, Estafet Kepemimpinan Hamalatul Quran Resmi Beralih

0

HAMALATULQURAN.COM — Pondok Pesantren Hamalatul Quran kembali mencatatkan momen penting dalam perjalanan kelembagaannya. Pada Ahad, 1 Juni 2025 telah dilangsungkan prosesi Serah Terima Jabatan (Sertijab) Ketua Yayasan dan Direktur Pondok Pesantren Hamalatul Quran untuk masa khidmat 2025–2030.

Kegiatan yang berlangsung di Graha Nur Ramadhan Wisata tersebut menandai berakhirnya masa jabatan:

Ustadz Amri Suaji, Lc. sebagai Ketua Yayasan Hamalatul Quran periode 2020–2025, dan
Ustadz Samhudi, S.Pd.I sebagai Direktur Pondok Pesantren Hamalatul Quran periode 2020–2025.

Dalam kesempatan tersebut, hadir seluruh civitas yayasan, pondok pesantren, para donatur dan tamu undangan menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi dan pengabdian keduanya selama lima tahun memimpin dan membina Hamalatul Quran dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab. Perjuangan mereka meninggalkan jejak yang tak ternilai dalam membangun pondasi kelembagaan dan meningkatkan kualitas pendidikan, dakwah, dan pelayanan santri.

Kini, tongkat estafet kepemimpinan resmi berpindah kepada:

Ustadz Samhudi, S.Pd.I sebagai Ketua Yayasan Hamalatul Quran periode 2025–2030, dan
Ustadz Alfian Nurdiansyah, Lc. sebagai Direktur Pondok Pesantren Hamalatul Quran periode 2025–2030.

Dalam sambutannya, Ustadz Alfian menyampaikan terimakasih setinggi-tungginya kepada ustadz Samhudi yang telah memimpin pesantren pada periode sebelumnya. Kami diberikan amanah yang sangat besar, semoga allah memberikan kekuatan dan bimbingannya. Dan kami memiliki komitemen untuk memajukan pesantren ini, apa yang baik-baik pernah dilaksanakan akan kami lanjutkan dan kami membuka diri untuk hal yang baru yang bermanfaat akan kami adobsi dan dilaksanakan.

Acara serah terima ini ditutup dengan doa dan nasehat oleh ustadz Abdussalam Busyro, Lc bersama dan harapan agar Allah senantiasa memberkahi setiap langkah kepemimpinan yang baru, serta menguatkan seluruh elemen yayasan dan pesantren dalam mewujudkan visi besar menuju lembaga pendidikan Islam yang unggul, mandiri, dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

donatur-tetap