Home Blog Page 103

Ujian bela diri “jeet kune do” Pondok Pesantren Tahfidz Yogyakarta Hamalatul Quran

0

 

DSC05121 DSC05111 DSC05104 DSC05093 DSC05091 DSC05088 DSC05072 DSC05052 DSC05055 DSC05059 DSC05065 DSC05066 DSC05069 DSC05071 DSC05030 DSC05025 DSC05024 DSC05022 DSC05007 DSC05008 DSC05010 DSC05011 DSC05013 DSC05016 DSC05017 DSC05004 DSC05003 DSC05002 DSC05001 DSC04999 DSC04980 DSC04981 DSC04982 DSC04983 DSC04984 DSC04986 DSC04989 DSC04990 DSC04997 DSC04993 DSC04998 DSC04979 DSC04977 DSC04975 DSC04974 DSC04970 DSC04969 DSC04967 DSC04966 DSC04965 DSC04964 DSC04963 DSC04946 DSC04949 DSC04947 DSC04946 DSC04947 DSC04949 DSC04957 DSC04958 DSC04961 DSC04962

Ahad 8 November 2015. Bela diri Jeet Kune do di Pondok Pesantren Tahfidz Yogyakarta Hamalatul Quran mengadakan ujian kenaikan tingkat sabuk. Ujian ini diadakan di gardu pandang kaliurang. Pada ujian kali ini para santri ditemani oleh suhu ikhsan dan suhu Eko, selaku guru yang akan menguji mereka. Para santri terlihat semangat, terbukti dari suara mereka yang amat lantang saat ujian. Dengan diadakanya ujian kali ini, para santri menjadi lebih percaya diri. Selain itu para santri juga senang karena bisa sekalian berkunjung ke tempat rekreasi. Semoga mereka bisa menjadi mu’min yang kuat lagi tangguh dan bisa melindungi diri dan orang lain dari orang orang yang dzalim.

donatur-tetap

Faedah dari Kunjungan ke Rumah Syaikh Sulthon

0

Minggu ini kami kembali mendapat kesempatan emas untuk berkunjung kerumah Syaikh Sulthon bin Umar bin Abdul Aziz Al Hushoyyin hafidhohulloh. Semangat kami semakin berkobar lantaran kunjungan kali ini pun merupakan undangan dari beliau secara langsung. Terlebih lagi saat beliau mengabulkan permintaan kami agar momen berharga ini dioptimalkan dengan mengkaji buah karya beliau.

Senyuman yang menentramkan hati terlihat dari wajah beliau saat melihat wajah kami. Tempat serta jamuan pun sudah tersedia dengan rapi seakan-akan beliau sudah sedari tadi menunggu kedatangan kami.

Kunjungan kali kedua ini dimanfaatkan untuk membahas kitab beliau yang berjudul “Qowaid Wa Adab Fii Tholabil ‘Ilmi“, sebuah buku yang membahas 3 poin penting bagi seorang penuntut ilmu, yaitu : sikap seorang penuntut ilmu terhadap dirinya, temannya serta gurunya. Berbagai faedah beliau sampaikan saat membahas kitab yang awalnya merupakan artikel dimajalah jami’ah islamiyah tersebut, diantaranya ialah :

1. Dahulu para penuntut ilmu menyertai guru mereka dalam kesehariannya. Sehingga mereka bisa melihat secara langsung bagaimana sang guru sholat, bersosialisasi dengan masyarakat serta bagaimana sikap yang tepat saat menghadapi berbagai permasalahan. Karena ada beberapa hal yang tak bisa dipelajari secara sempurna didalam majlis , melainkan akan dimengerti saat terjun dan melihat langsung penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

2. Berusahlah untuk mempraktekkan adab tholibul ‘ilmi sedikit demi sedikit. Dalam satu bulan praktekkan minimal satu adab, lalu tambahkan adab selanjutnya pada bulan kedua, ketiga dan begitu seterusnya. Karena amalan yang sedikit namun konsisten jauh lebih baik daripada amalan yang banyak namun tak bertahan lama.

4. Perhatikanlah setiap gerak-gerikmu. Jika apa yang anda lakukan bertolak belakang dengan apa yang dipelajari, maka ingatlah bahwa setiap perbuatan akan dipertanggung jawabkan dipengadilan Allah subhanahu wata’ala nantinya.

5. Seorang yang menuntut ilmu sejatinya ia sedang berjalan menuju surga-Nya. Ia mulai langkahnya didunia namun akan berakhir saat berjumpa dengan Rab-Nya.

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له طريقا إلى الجن

ة

“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmi, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR At Tirmidzi)

6. Kata ilmu didalam alquran disebutkan sebanyak 80 kali. Dan tidaklah Allah mengulang sesuatu melainkan pasti ada rahasia yang agung dibaliknya.

7. Ilmu jauh lebih berharga dari harta benda karena beberapa alasan, ilmu akan menjaga pemiliknya sedangkan harta butuh penjagaan dari sipemilik. Ilmu akan bertambah saat diamalkan dan diajarkan sedang harta akan berkurang saat dibelanjakan. Orang yang alim akan tetap hidup meskipun ia telah meninggal ratusan tahun lamanya, namun sebaliknya banyak orang kaya yang masih hidup namun seakan ia telah mati. Lihatlah bagaimana kecintaan kita terhadap Imam Bukhori rohimahulloh padahal ia tak pernah memberikan harta benda, namun ilmu-lah yang membuat seakan beliau masih hidup ditengah-tengah kita.

Sebelum menutup kajian, beliau menceritakan kisah seseorang yang bernama Abdul Karim. Ia adalah seorang pria berkebangsaan Filipina yang pernah menjadi murid beliau saat menempuh pendidikan di Universitas Islam Madinah.

Saat memulai pendidikannya di Madinah, ia tak mengenal bahasa arab melainkan hanya beberapa kalimat saja, seperti assalamualaikum, na’am dan kalimat-kalimat yang serupa. Beberapa tahun berlalu hingga ia lulus dan berdakwah disuatu desa di Filipina yang mayoritas penduduknya belum mengenal Allah subhanahu wata’ala.

Tahun demi tahun berlalu, hingga datanglah suatu kesempatan bagi Syaikh Sulthon untuk kembali bersua dengan mantan muridnya tersebut. Perjumpaan itu terjadi ditanah Indonesia, tepatnya saat berlangsung acara reuni alumni Universitas Islam Madinah. Dalam acara tersebut sang murid diminta untuk menceritakan sepak terjangnya dalam mendakwahkan agama Allah. Sebuah pertanyaan pun dilemparkan kehadapannya, “Sudah berapa orang yang mendapatkan hidayah lewat tanganmu?”.

Tanpa diduga pertanyaan tersebut membuat ia tertunduk dan menitikkan air mata seraya berkata : “Aku bukanlah seorang yang alim, bahkan bahasa arabku pun masih terbilang lemah, namun demi Allah lebih dari seribu orang (dengan izin-Nya) yang masuk islam lewat dakwahku”. Tangisannya yang pecah spontan membuat para hadirin tak kuasa membendung air mata

“Sesungguhnya engkau tak bisa memberi petunjuk terhadap orang yang kau sayangi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya ”
(Qs Al Qosos 56)

Semoga Allah mempermudah langkah kita dalam mendakwahkan agama-Nya….

=============
Ditulis oleh Afit Iqwanudin , Alumni PP Hamalatul Quran yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Islam Madinah , KSA

donatur-tetap

Santri Pesantren Tahfidz Hamalatul Quran Yogyakarta ikuti Pelatihan Membuatan Detergen

0

IMG-20151102-WA0015 IMG-20151103-WA0009Senin 2 november 2015. Untuk membekali ketrampilan siswa,

Kementrian agama menyelenggarakan kegiatan “Pelatihan Pembuatan  Detergen” santri Pondok Pesantren Tahfidz Hamalatul Quran Yogyakarta ikuti Pelatihan Membuatan Detergen tersebut, dalam kegiatan ini Kemenag mengundang beberapa madrasah untuk mengikuti pelatihan tersebut, yang diselenggarakan di sebuah rumah makan (yang lebih mirip dengan restaurant ) yang bernama “RM Mataram Indah” di jln wonosari km 7 yogyakarta. Pelatihan ini diselenggarakan selama 2 hari (2-3 november).

Pondok Pesantren Tahfidz Hamalatul Quran mengirimkan 3 santrinya untuk mengikuti kegiatan tersebut, 2 orang sudah lulus dan satunya masih duduk di bangku kelas 2 aliyah. Setelah diberikanya teori teori , para siswa yang mengikuti kegiatan tersebut langsung praktik membuat detergen. Dengan mengikuti kegiatan tersebut wawasan mereka menjadi bertambah, dari penyiapan bahan bahan (apa saja yang dibutuhkan saat membuat detergent),kemudian mencampurkan bahan bahan, sampai cara pembuatanya. Setelah selesai semuanya barulah siap untuk dipasarkan di toko toko. Semoga mereka bisa menjadi pengusaha muslim yang hafidz dan sukses . Amiin.

donatur-tetap

Pelajaran Tambahan (LES)

0

DSC04927 DSC04930 DSC04929 DSC04928

LES. Ya, kelas 3 aliyah sebentar lagi akan menghadapi UN atau UJIAN NASIONAL. Selain belajar autodidak, diantara persiapan yang mereka lakukan adalah mengikuti pelajaran tambahan atau les. Walaupun panas dan gerah menyerang mereka diwaktu siang, mereka tetap semangat dan serius dalam belajar. Les dimulai setelah sholat dzuhur berjamaah di masjid. Biasanya les berlangsung selama satu jam. Setelah itu mereka boleh beristirahat. Semoga ALLAH memudahkan urusan mereka semua dan semoga mereka berhasil dan sukses di UJIAN NASIONAL yang akan datang nanti. AMIIN.

donatur-tetap

Rintis Pesantren di Kuningan, Yayasan Manarus Sabil Study Banding di Hamalatul Quran

0

Hamalatul Quran ~ Sabtu 10 Oktober 2015, Pondok Pesantren Tahfidz Yogyakarta Hamalatul Quran mendapat kunjungan dari Yayasan Manarus Sabil. Kunjungan yang diterima oleh Ustadz Aris Munandar, M.P.I ini dalam rangka mencari format terbaik bagi pondok pesantren yang ingin beliau-beliau rintis di daerah Kuningan.

Dalam kunjungan itu, Paraustadz dari Yayasan Manarus Sabil melakukan tanya jawab terkait kurikulum Pondok Pesantren Hamalatul Quran DIY, mulai dari bagai mana tingkat pendidikan santri di tingkat pertama (Salafiyah Wustho) dan tingkat menengah atas (Madrasah Aliyah) juga bagimana mengkombinasikan dengan kurikulum tahfidzul quran agar bisa bersinergi. Hafalan didapat, prestasi akademi bisa teraih.

Selaku ketua rombongan, Ustadz Arif Budiman, Lc merasa senang bisa berkunjung ke Pondok Pesantren Hamalatul Quran, menggali informasi tentang pengelolaan pendidikan di dunia pesantren khususnya Kurikulum Pondok Pesantren Tahfidz. Dari seusai salat Ashar, kunjungan diakhiri sekitar pukul 16.30 WIB paratamu undur diri dan berpamitan. Ustadz Aris Munandar, M.P.I selaku Kabag Kurikulum Pondok Pesantren Hamalatul Quran menyampaikan terimakasih atas kunjungannya dan mewakili keluarga besar Pondok Pesantren Hamalatul Quran meminta maaf apabila dalam menyambut dan menanggapi tamu ada hal yang kurang berkenan.

 

donatur-tetap

Agar Hafalan tak Hilang Begitu Saja

0

Tak sedikit dari para penghafal alquran yang bertanya-tanya seputar metode terbaik dalam mengokohkan hafalan. “Ustadz, gimana sih caranya biar hafalan lengket?” tanya seorang santri pada musyrifnya, “Metode yang antum gunakan untuk muroja’ah bagaimana ?” ujar yang lain. Mungkin jawaban yang akan kita dengar seperti ini ” Metode saya seperti ini, namun setiap orang punya metode masing-masing dalam mengulang hafalan, suatu saat (insyaAllah) kamu akan menemukan metodemu sendiri”, atau beberapa jawaban yang semisal. Lain halnya dengan jawaban salah seorang ustadz kami Ustadz Ulin Nuha Al Muhtadi hafidhohulloh ,saat dihadapkan dengan pertanyaan serupa beliau menasehatkan : “Perbanyaklah murojaah”, ujar beliau yang pernah mengenyam pendidikan di fakultas alquran Universitas Islam Madinah tersebut , “Sebagus apapun metode yang digunakan” beliau melanjutkan,” jika malas muroja’ah maka tak ada gunanya, intinya banyak-banyaklah muroja’ah ” . Tak ayal lagi, muroja’ah memang amat penting dalam membangun hafalan yang kuat, bahkan inilah kunci utamanya.
Sebagian penghafal alquran sibuk mencari metode murojaah yang terbaik tapi malas untuk murojaah. Dia ingin mendapatkan metode murojaah yang efektif namun bisa diraih tanpa harus bersusah payah. Maka dia bagaikan punuk merindukan bulan. Dia mencari sesuatu yang tak akan pernah ia dapatkan. Ingatlah nasehat Yahya bin Malik rohimahulloh :

 

لاينام العلم براحة الجسد

Ilmu tak akan pernah didapatkan dengan bersantai

Tak pernah ada dalam sejarah kehidupan para ulama bahwa mereka mendapatkan ilmu tanpa diiringi kepayahan. Sehingga hal pertama yang perlu kita perhatikan agar hafalan menjadi kokoh ialah memperbanyak murojaah. Jangan biarkan hafalan yang kita miliki pergi begitu saja disebabkan kita malas untuk mengulangnya. Ikatlah dengan kuat hafalan alquran sebelum kita menyesal saat ia telah tiada.

Adapun hal yang kedua yang perlu kita lakukan untuk mengokohkan hafalan ialah jauhilah maksiat. Ilmu itu adalah cahaya Allah subhanahu wata’ala, maka tak mungkin ia akan mau berada dalam diri seseorang yang gemar bermaksiat kepada-Nya. Allah subhanahu wata’ala telah berfirman :

Dan bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarimu (Al Baqoroh : 282)

‘Ali bin Khorsyam rohimahulloh berkata : “Aku tak pernah melihat Waki’ rohimahulloh membawa buku dan kekuatan hafalannya melebihi orang biasa yang membuatku terkagum-kagum, maka aku bertanya kepadanya (rahasia dibalik kuatnya hafalan yang ia miliki), lantas ia berbisik ditelingaku : “Wahai ‘Ali, jika aku beritahu tentang obat penguat hafalan, apakah engkau akan melakukannya? “Tentu”, jawabku, ia berkata : “Tinggalkanlah maksiat, demi Allah tak ada faktor yang paling berpengaruh dalam menguatkan hafalan melebihi meninggalkan maksiat kepada Allah”. Memang saat kita bermaksiat tak lantas secara tiba-tiba hafalan hilang saat itu juga. Namun maksiat yang kita laksanakan akan mendorong kita untuk bermasiat lagi dan lagi. Rasa malas akan menghantui diri dan membuat alquran terasa berat untuk dibaca yang akhirnya membuat hafalan pudar seiring berjalannya waktu.

Hal ketiga yang perlu kita lakukan ialah menggunakan hafalan kita dalam sholat malam. Ini adalah metode yang sangat ampuh dalam mengulang hafalan, Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

Apabila seorang penghafal alquran membacanya di waktu malam dan siang hari, dia akan mengingatnya. Namun jika dia tidak demikian, maka dia akan lupa. (HR Muslim)

Maka seorang penghafal alquran yang baik akan menggunakan hafalannya dalam sholat-sholatnya, sebagai sebuah sarana pengokohan hafalan, sehingga bukan hanya surat “tiga qul”  yang selalu dibaca saat sholat.

Dan hal yang terakhir ialah, berdoalah kepada Allah subhanahu wata’ala agar memudahkan langkah kita dalam upaya memantapkan hafalan. Ketuklah pintu rahmat-Nya disepertiga malam terakhir agar Dia berkenan mengaruniakan istiqomah dalam hati kita dan menjadikan kita penghafal alquran yang sesungguhnya.

 

Ditulis oleh : Afit Iqwanudin, Amd (Alumni PP Hamalatul Quran yang sedang menempuh studi di Universitas Islam Madinah, KSA)

donatur-tetap

Sang “Mudir” Tahfidz, Abu Darda’ Al Anshori

0
Halaqot Tahfidz

Pesantren tahfidz alquran amat menjamur dibumi nusantara, masing-masing memiliki ciri khas dan metode yang berbeda-beda dalam pengelolaannya. Namun ada satu hal yang hampir semua sama, yaitu dalam pengoptimalan kegiatan tahfidz dengan jumlah santri yang banyak.

Cara atau metode yang digunakan ialah dengan mengelompokkan santri tiap 5 sampai 10 anak menjadi satu kelompok atau yang dikenal dengan halaqot. Kemudian tiap halaqot akan dibimbing oleh satu orang ustadz yang dikenal dengan sebutan musyrif. Tiap musyrif berkewajiban untuk membimbing seluruh anggotanya dan nantinya akan dipertanggung jawabkan didepan seorang ustadz selaku kepala program tahfidz atau yang dikenal dengan Mudir Tahfidz. Metode seperti inilah yang juga diadopsi oleh pesantren tahfidz Jogja Hamalatul Qur’an.

Satu hal yang mengejutkan, ternyata metode ini telah diterapkan lebih dari 1000 tahun yang lalu oleh salah seorang sahabat Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, yaitu Abu Darda Al Khozroji Al Anshori  rodhiyallohu ‘anhuBeliau memiliki murid yang berjumlah besar, hingga mencapai lebih dari 1600 orang sebagaimana dipaparkan oleh Muslim bin Miksyam.

Salah seorang murid beliau yang bernama Suwaid bin Abdul Aziz bercerita, “Setiap kali Abu Darda’ selesai melaksanakan sholat shubuh dimasjid Jami’ Damaskus, beliau akan dikerumuni oleh orang-orang yang ingin belajar alquran. Beliau akan mengelompokkan mereka menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 10 orang dan satu pembimbing.

Kemudian beliau akan duduk dibagian mihrob masjid sembari mengawasi mereka. Jika ada anggota yang salah dalam membaca maka akan dibenarkan oleh musyrifnya, adapun musyrif akan dibenarkan oleh Abu Darda’ jika salah. Jika ada salah seorang anggota halaqot yang dirasa telah memenuhi kriteria, maka musyrif akan merekomendasikannya kepada Abu Darda’ untuk dites langsung oleh beliau.

Dan salah satu dari musyrif saat itu ialah Abdulloh Ibnu ‘Amir (salah satu dari imam qiroat sab’ah). Tatkala beliau rodhiyallohu ‘anhu wafat maka Ibnu ‘Amir lah yang menggantikan kedudukan beliau sebagai “mudir” tahfidz.

Begitulah metode yang diterapkan oleh Abu Darda’ rodhiyallohu ‘anhu selaku “mudir” tahfidz kala itu, yang kemudian diterapkan oleh berbagai pesantren dipenjuru dunia. Semoga Allah menjadikan kita sebagai penjaga kitab-Nya yang mulia, Amiiin…

***

Ditulis oleh : Afit Iqwanudin, Amd

(Alumni PP Hamalatul Quran yang sedang menempuh studi di Universitas Islam Madinah, KSA)
——

Dikutip dari :

  • http://www.ibnamin.com/tarajem_qura.htm
  • Catatan pelajaran Qiroat bersama Syaikh Yasir Al ‘Aufy (Dosen Fakultas Al Quran Universitas Islam Madinah) hafidhohulloh
donatur-tetap

Idul Adha di Pondok Pesantren Hamalatul Quran 10 Dzulhijjah 1436

0

DSC03597 DSC03523 DSC03517 DSC03508 DSC03507 DSC03503 DSC03500 DSC03461 DSC03462 DSC03466 DSC03472 DSC03474 DSC03483 DSC03496 DSC03458 DSC03452 DSC03443 DSC03440 DSC03437 DSC03436 DSC03434 DSC03395 DSC03403 DSC03405 DSC03409 DSC03410 DSC03433 DSC03132 DSC03239 DSC03246 DSC03277 DSC03282 DSC03323 DSC03353 DSC03118 DSC03117 DSC03110 DSC03109 DSC03108 DSC03833 DSC03789 DSC03778 DSC03833 DSC03778 DSC03721 DSC03700 DSC03694 DSC03683 DSC03679 DSC03640 DSC03483 DSC03440 DSC03277 DSC03282 20150925_202703 20150925_203210 20150925_202809 20150925_195251 20150925_192857 20150925_091552 20150925_091433 20150924_091249 20150924_091256 20150924_105405 20150924_105303 20150925_082827 20150925_091409 20150924_090551 DSC03209 20150924_061900 20150924_062028 20150924_061224 20150924_061230 20150924_061902 20150924_062030 20150924_063213 20150924_061335 20150924_061339 20150924_063215 20150924_064544 20150924_061346 20150924_064551 20150924_061451 20150924_070224 20150924_061354 20150924_060519 20150924_060527 20150924_060835 20150924_060840 20150924_060145 20150924_060901 20150924_060150 20150924_061016 20150924_060416 20150924_060419 20150924_061038 20150924_061120 20150924_060423 DSC03210 DSC03211 DSC03212 DSC03213 DSC03214 DSC03215 DSC03216 DSC03217 DSC03221 DSC03220 DSC03218 DSC03612 DSC03597 DSC03606 DSC03517 DSC03507 DSC03496 DSC03466 DSC03462 DSC03461 DSC03458 DSC03452

Idul Adha di Pondok Pesantren Hamalatul Quran

Bantul, 10 Dzulhijjah 1436

 

Dalam suasana damai Hari Raya Idul Adha yang berlangsung pada tanggal 24 September 2015, Pondok Pesantren Hamalatul Quran menggelar sholat ied di lapangan basket pesantren. Sholat ied dimulai pada pukul 06.30 WIB dengan dibersamai Ustadz Ahmad Rifa’i Hafizhohullah sebagai imam sholat. Sementara itu, khutbah sholat ied disampaikan oleh Ustadz Jarot Nugroho Hafidzhohullah. Selain para ustadz dan santri, masyarakat sekitar juga turut serta melaksanakan sholat ied bersama mereka.

Selepas sholat ied, agenda selanjutnya yaitu penyembelihan hewan qurban. Alhamdulillah, pada tahun ini hewan qurban yang akan disembelih adalah tiga ekor sapi dan 17 ekor kambing (semoga Allah membalas kebaikan para shohibul qurban dengan balasan yang lebih baik). Kegiatan penyembelihan hewan qurban yang dimulai pukul 07.15 WIB. Para santri yang bertugas menjadi panitia qurban pun sudah siap siaga untuk melaksanakan tugasnya. Ada yang mempersiapkan alat-alat untuk penyembelihan hewan qurban, membersihkan tempat pemotongan daging, dan masih banyak lagi.

Pada kesempatan ini, penyembelihan hewan qurban dilaksanakan dalam waktu dua hari. Tiga ekor sapi dan delapan ekor kambing disembelih pada hari pertama (tanggal 10 Dzulhijah), sedangkan sembilan ekor kambing disembelih pada hari berikutnya.

Daging hewan qurban yang telah disembelih ada yang dikonsumsi warga pondok (Asatidazh dan para santri) dan ada pula yang didistribusikan kepada masyarakat sekitar. Daging qurban yang akan dikonsumsi para santri diolah menjadi bermacam-macam masakan seperti bakso, abon, dan sebagainya. Selain itu, sebagian daging qurban disimpan dalam frezzer untuk variasi menu pada hari-hari berikutnya dan juga agar santri tidak bosan dan jenuh memakanya setiap hari.

Para santri sangat menikmati momen kebersamaannya dalam merayakan idul adha di pondok. Terbukti, mereka nyate bersama pada 11 Dzulhijjah malam. Santri dibagi menjadi tujuh belas kelompok untuk mengkreasikan olahannya. Walaupun tidak merayakan Idul Adha bersama keluarga di rumah, mereka tetap merasa gembira merayakannya di pondok bersama teman-teman.

Semoga Idul Adha kali ini menambah ketaqwaan dan keimanna kita kepada Allah SWT. amiin…

donatur-tetap

Study Banding Pesantren Daarut Tauhid Bandung

0

image

image

Alhamdulillah, washsholaatu wassalam ‘ala rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi waman waalah. Pada hari Selasa 10 Februari  Pondok Pesantren Hamalatul Quran mendapatkan kunjungan dari dari tamu yg istimewa, mereka tidak lain ialah para asatidzah dari Pesantren Daarut Tauhid Bandung atau yang lebih dikenal dengan Pesantren Aa Gym. Para asatidzah pengurus PP Daarut Tauhid tersebut datang ke PP Hamalatul Quran dalam rangka silaturahmi sekaligus Study Banding seputar program pendidikan di PP Hamalatul Quran.

Mereka sampai di Hamalatul Quran sekitar jam 9 pagi yang mana langsung disambut hangat oleh para asatidzah Hamalatul Quran termasuk.Mudir PPHQ yaitu Ustadz Agus Andriyanto Lc. Kemudian dimulailah diskusi dikantor PPHQ. Setelah mengenalkan diri mereka serta maksud dan tujuan kedatangan maka ustadz Agus-pun memperkenalkan latar belakang belakang berdirinya PPHQ. Diskusi -pun berlangsung seru seputar program tahfidz serta intregritasnya dengan program madrasah serta program pesantren yang lainnya, satu persatu pertanyaan yg diajukan dijawab dengan lugas oleh asatidzah PPHQ.
Setelah dirasa cukup dan puas atas apa yg didapatkan para tamu-pun undur diri dengan sebelumnya meminta izin untuk melihat secara langsung PPHQ mulai dari masjid sampai asrama santri.
Semoga Allah menjadikan pertemuan ini sebagai sebuah amalan baik yg diterima disis-Nya, Aamiin…..

donatur-tetap

Ujian Kenaikan Tingkat Jeet Kune Do

0

1 2 3 4 5 6

 

Bantul(HQ) – Pada hari Ahad 25 Januari 2015 kembali diadakan ujian Jeet Kune Do yg merupakan salah satu ekskul di Pesantren Hamalatul Quran. Ujian kali ini diadakan di pantai Parangtritis. Para santri baik Aliyah Maupun Salafiyah berangkat kelokasi latihan menggunakan 2 buah mobil truk ba’da shubuh . Setelah sampai dilokasi merekapun melakukan pemanasan yg kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan materi ujian satu demi satu. Para santri terlihat sangat antusias dalam mengikuti ujian disamping senang karena bisa jalan – jalan ke pantai mereka juga berkeinginan untuk naik tingkatan dalam Jeet Kune Do, baik ke sabuk kuning,hijau,biru maupun merah. Menjelang dhuhur acara-pun selesai dan para santri kembali ke Pesantren Hamalatul Quran. Semoga Allah menjadikan setiap amalan kita diterima disisi-Nya.

 

 

donatur-tetap