Home Artikel Syawal: Antara Keberuntungan atau Kerugian

Syawal: Antara Keberuntungan atau Kerugian

28
0
campaign psb PPHQ 26-27

Di dalam Al-Qur’an Allah subhanahu wa ta’ala sering memperingatkan kita agar jangan menjadi golongan “Al-khosirun” yaitu orang-orang yang merugi.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

“Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (Ali ‘Imran : 85)

Dalam ayat lain Allah ta’ala juga berfirman,

وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلۡإِيمَٰنِ فَقَدۡ حَبِطَ عَمَلُهُۥ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

“Barangsiapa kafir setelah beriman, maka sungguh, sia-sia amal mereka, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.(QS. Al-Ma’idah : 5)

donatur-tetap

Di satu sisi, telah kita ketahui bersama bahwa dalam dunia jual beli atau perdagangan, seorang pedagang akan disebut merugi ketika tidak mendapatkan untung dari modal yang telah ia keluarkan. Maka ketahuilah duhai saudaraku, setiap detik yang berlalu dalam usia kita adalah modal hidup yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada kita. Dalam sehari Allah subhanahu wa ta’ala memberi modal 24 jam. Setiap berlalu satu hari sama artinya kita telah menghabiskan modal 24 jam tadi.

Sebaiknya kita sadar dan paham dengan betuluntuk apa Allah ta’ala memberi kita modal tersebut. Dalam Alquran Allah ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ

“Dan tidahlah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah pada-Ku” (QS. Adz Dzariyat : 56)

Maka jadilah pribadi yang pandai, pergunakanlah modal yang kita miliki untuk meraup untung dan laba sebanyak-banyaknya. Jadikan setiap helaan nafas kita adalah ibadah. Setiap duduk dan berdiri bernilai ibadah. Karena kita tidak tahu berapa modal yang masih tersisa.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻟْﻜَﻴِّﺲُ ﻣَﻦْ ﺩَﺍﻥَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ

“Orang yang pandai adalah orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal (mencurahkan semua potensi) untuk kepentingan setelah mati.” (HR. At Tirmidzi)

Duhai, betapa celakanya kalau sekiranya modal yang kita miliki tersebut habis tanpa membawa keuntung bagi diri kita, sehingga kita menjadi golongan orang-orang yang merugi.

Para pembaca hafizakumullah

Baju-baju lebaran itu belum usang dan lawas.
Kue-kue lebaran itu masih di dalam toples dan kulkas.
Hari-hari Syawal itu baru sampai pada angka ke tujuh belas.

Namun AMALAN-AMALAN RAMADHAN ITU seakan sudah tak berbekas.

Mana bacaan Al-Qur’anmu yang seperti dahulu?
Mana sholat malammu yang seperti dahulu?
Mana puasa syawalmu yang katanya engkau terhadap Ramadhan selalu rindu?

Manusia-manusia yang rindu itu selalu mencari amalan untuk mengenang yang dirindukan.

Hari-hari syawal masih ada, sekedar mengingatkan saja barangkali andalah yang mendapatkan taufik dari-Nya untuk menambah amalab puasa sunnah 6 hari di bukan syawal yang akhirnya setara dengan ukuran satu tahun lamanya.

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no.1164)

Akhir kata, kami berdoa semoga kita menjadi hamba-hamba yang beruntung dan tidak menjadi golongan orang-orang yang merugi di bulan syawal ini. Aamiin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here