Home Artikel Alquran Standar Murajaah Hafalan Al Quran Terbaik

Standar Murajaah Hafalan Al Quran Terbaik

1702
0

Menghafal Al-Quran membutuhkan kesabaran dan ketekunan, prosesnya sendiri tak semudah membalik telapak tangan. Berbagai rintangan dan kesulitan akan dirasakan oleh para penghafal Al-Quran. Disamping itu, menjaga hafalan yang sudah dimiliki ternyata justru lebih sulit dari menghafalnya pertama kali.

Tak mengherankan jikalau Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh hari telah mewanti-wanti para penjaga kitabullah untuk berhati-hati dalam menjaga apa yang telah dimiliki. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

تَعَاهَدُوا هَذَا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنْ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا

“Jagalah oleh kalian Al-Quran ini, karena demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditanganNya, ia lebih cepat hilang daripada unta dari tambatannya”. (HR. Muslim).

Ya, jika boleh kita ibaratkan, maka seorang penghafal Al-Quran bagaikan seorang pemilik unta, sebagaimana disinggung dalam hadis diatas. Seorang pemilik unta yang baik tentu akan rajin memantau hewan ternaknya siang dan malam. Ia tak akan pernah rela jika ada satu ekor pun yang hilang.

Sebaliknya, seorang penggembala unta yang buruk akan malas dalam mengecek hewan gembalaannya. Ia hanya akan melakukan hal tersebut saat memiliki mood alias suasana hati yang baik. Akibatnya sudah jelas, satu persatu unta miliknya akan hilang tanpa ia sadari.

Pun begitu keadaan seorang penghafal Al-Quran, jika rajin dalam memantau dan “mengikat” hafalannya dengan murojaah, maka hafalan tersebut akan senantiasa terjaga dan menemaninya. Namun jika ia lalai dan malas untuk murojaah, maka hafalan tersebut akan memuai sedikit demi sedikit hingga tak tersisa kecuali sejumlah hitungan jari.

Oleh karena fakta diatas, murojaah Al-Quran merupakan kegiatan yang amat penting serta jangan sampai ditinggalkan. Hal ini harus menjadi rutinitas harian seorang penghafal Al-Quran hingga ajal menjemput.

Saat membicarakan murojaah, maka sejatinya cukup banyak metode yang dipaparkan oleh para masyayikh maupun asatidz yang berkecimpung dalam bidangnya. Namun disini kami akan memberikan gambaran seputar standar murojaah terbaik yang bisa kita terapkan.

Standar yang dimaksud sendiri merupakan standar generasi terbaik umat ini, siapa lagi kalau bukan para sahabat rhadiyallahu ‘anhum ‘ajmain. Dikisahka bahwa sekelompok orang yang baru saja masuk Islam pernah bertanya kepada para sahabat,

كَيْفَ تُحَزِّبُونَ الْقُرْآنَ؟

“Bagaimana metode kalian dalam membagi bacaan Al-Quran?”

Para sahabat lantas menjawab:

كَيْفَ تُحَزِّبُونَ الْقُرْآنَ؟ قَالُوا نُحَزِّبُهُ ثَلَاثَ سُوَرٍ وَخَمْسَ سُوَرٍ وَسَبْعَ سُوَرٍ وَتِسْعَ سُوَرٍ وَإِحْدَى عَشْرَةَ وَثَلَاثَ عَشْرَةَ وَحِزْبُ الْمُفَصَّلِ مِنْ “ق” حَتَّى نَخْتِمَ.

“Kami membaginya menjadi: 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, 13 surat serta surat Al-Mufasshol yang dimulai dari surat Qof hingga akhir Al-Quran” (HR Abu Dawud)

Jawaban para sahabat diatas merujuk kepada susunan surat di dalam Al-Quran, rinciannya adalah sebagai berikut:

  • Hari Pertama (3 surat): Al-Baqarah, Ali Imron dan An-Nisa.
  • Hari Kedua (5 surat): Al-Maidah, Al-An-‘am, Al-A’rof, Al-Anfal, At-Taubah.
  • Hari Ketiga (7 surat): dari surat Yunus hingga akhir surat An-Nahl.
  • Hari Keempat (9 surat): dari surat Al-Isro hingga akhir surat Al-Furqon.
  • Hari Kelima (11 surat): dari surat Asy-Syu’aro hingga akhir surat Yasin.
  • Hari Keenam (13 surat): dari surat Ashoffat hingga akhir surat Al-Hujurot.
  • Hari Ketujuh (Al-Mufashol): dari surat Qof sampai An-Nas.

Sebagian ulama lantas ada yang menyusun sebuah rumus untuk memudahkan dalam menghafal susunan diatas, yaitu dengan kalimat:

فَمِي بِشَوقٍ

Setiap huruf pada kalimat diatas mewakili nama surat pertama yang akan dibaca tiap harinya, perhatikan penjelasan dibawah ini:

  • Huruf ف untuk surat Al-Fatihah.
  • Huruuf م untuk surat Al-Maidah.
  • Huruf ي untuk surat Yunus.
  • Huruf ب untuk surat Al-Isro’ (Bani Isroil).
  • Huruf ش untuk surat Asy-Syu’aro.
  • Huruf و untuk surat Ash-Shoffat (karena diawali dengan huruf wawu).
  • Huruf ق untuk surat Qof.

Disamping itu, kalimat فَمِي بِشَوقٍ juga memiliki makna bagus yang cukup merepresentasikan semangat seseorang dalam muroja’ah Al-Quran, yaitu “Mulutku senantiasa rindu (untuk melantunkan ayat Al-Quran)”.

Imam Nawawi rahimahullah pernah menuturkan,

وأما الذين ختموا في الأسبوع مرة فكثيرون، نقل عن عثمان بن عفان وعبد الله بن مسعود وزيد بن ثابت وأبي بن كعب رضي الله عنهم وعن جماعة من التابعين كعبد الرحمن بن يزيد وعلقمة وإبراهيم رحمهم الله

“Adapun mereka yang mengkhatamkannya dalam satu minggu, maka jumlahnya cukup banyak, diiantaranya adalah sahabat Utsman bin Affan, Abdulloh bin Mas’ud, Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka’ab rhadiyallahu ‘anhum. Pun begitu halnya para Tabi’in, seperti Abdurrohman bin Zaid, ‘Alqomah dan Ibrohim rahimahumullah”.

Satu catatan yang perlu kita garis bawahi, meskipun saat ini mungin kita belum sanggup untuk menerapkan standar ini, maka tak perlu bersedih ataupun putus asa. Mulailah dengan hal yang mudah terlebih dahulu agar bisa istiqomah. Barulah nantinya secara bertahap kita bisa meningkatkan porsi murojaah sedikit demi sedikit hingga mencapai standar yang terbaik. Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit”. (HR. Bukhari).

Referensi:
-At-Tibyan, Imam An-Nawawi rahimahullah
-Al-Itqon fi Ulum Al-Quran, Imam As-Suyuthi rahimahullah

Ditulis oleh : Afit Iqwanuddin, Lc (Alumni PP Hamalatul Quran Yogyakarta dan Mahasiswa pascasarjana jurusan Ilmu Qiroat, Fakultas Al Qur’an, Universitas Islam Madinah)

Artikel : hamalatulquran.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here