Home Blog Page 101

Matur Nuwun Hamalatul Quran

0

Siang ini orang tua dari Ust Fatwa berkunjung khusus ke pesantren untuk bertemu ustadz. Pasalnya, besok dengan diantar sampai Jakarta ustadz Fatwa berangkat melanjutkan studi di Universitas Islam Madinah.

Bapak dari Ustadz Fatwa menyampaikan terimakasih kepada Pesantren Hamalatul Quran karena selama ini sudah mendidik memberi kesempatan untuk mengabdi dan mengantarkan anak beliau sampai jenjang yang lebih tinggi, sampai timur tengah.

Tak lupa beliau juga menyampaikan permohonan maaf karena selama ini banyak perilaku dari ustadz fatwa yang tidak baik selama di pesantren.

Masya Allah, humble. Orang tua ustadz fatwa merendah. Tentu saja kontribusi Ust Fatwa banyak telah diberikan ke pesantren terutama dalam mengurusi Hamalatul Quran di Sleman.

Ustadz Fatwa merupakan salah satu dari tiga alumni Hamalatul Quran yang diterima di UIM tahun ini. Insya Allah Para ustadz besok akan mengantar sampai ke Jakarta setelah beberapa waktu yang lalu mengantar dua alumni Hamalatul Quran yang diterima di Al Azhar juga di tahun ini.

Pihak pesantren melalui Ust Amri Suaji menyampaikan bahwa sudah menjadi komitmen pesantren untuk bisa mengantarkan alumni ke jenjang yang lebih tinggi, terlebih belajar di timur tengah.
Barakallah, Kita doakan semoga studi alumni lancar.

donatur-tetap

MOS 2017 Dari Fiqih, Adab Sampai Survival Skills

0

Pesantren Tahfidz Yogyakarta ~ Hamalatul Quran, Sudah menjadi agenda tahunan bagi lembaga pendidikan untuk melaksanakan Masa Orientasi Siswa/Santri. Demikian halnya Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta menyelenggarakan MOS. Kegiatan MOS Pondok Pesantren Hamalatul Quran pada tahun dini bermuatan Pengenalan Pesantren, Fiqih Ibadah, Adab Penuntut Ilmu, Kiat Sukses Belajar dan Menghafal Al Quran. Untuk Pembelajaran yang menyenangkan Panitia MOS menyisipkan Game Edukasi dan Survival Skills.

Perkenalan Pondok dan Adab Menuntut Ilmu

Pada hari pertama Senin (17/7) Masa Orientasi Santri Pesantren Tahfidz Hamalatul Quran Yogyakarta, Mudhir Pondok memberikan materi pengenalan Pondok Pesantren, para santri mendengarkan pemaparan mulai dari visi misi, sarana prasaran, pendidik dan tenaga pendidik di lingkungan pesantren juga keseharian santri Hamalatul Quran Yogyakarta.

Masih di hari yang sama, Ust Abu Huroroh Alumni Hamalatul Quran yang juga Mahasiswa S2 Jamiyah Islamiyah Madinah memberikan materi Adab Penuntut Ilmu.
Tips Sukses Belajar dan Fikih Thoharoh

Pada hari kedua, disampaikan kepada peserta MOS mengenai Kiat-kiat sukses belajar oleh Ust Imam Nooryanto, M.Pd. Para santri mendapatkan pengalaman yang berharga tentang bagaiaman sukses belajar di pondok pesantren oleh Ust Imam yang sudah belasan tahun menjadi kepala di banyak madrasah DIY.

Usai materi itu Parasantri mendapat materi Fikih Thoharoh, oleh Ust Rijalul Haq, ustadz muda alumni Hamalatul Quran yang lulusan Al Azhar Mesir. Toharoh tidak bisa lepas dari kegiatan seorang muslim kususnya santri, sehingga materi ini sangatlah penting.
Praktek Shalat Sesuai Sunnah dan Pengenalan Reptil

Di hari ketiga materi yang juga sangat penting yakni Praktek Shalat Sesuai Sunnah materi ini disampaikan oleh Ust Ahmad Anshori. Parasantri mendapatkan materi fikih Shalat yang sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.

Di hari ketiga ini para santri fokus mempelajari praktik Solat. Sama dengan hari sebelumnya dan hari setelahnya, di sore hari para santri Game Education. Namun khusus di sore hari rabu materi edukasi diisi dengan pengenalan berbagaimacam reptil, perilakunya dan penanganannya jika mengganggu manusia. Tentu saja kegiatan ini didampingi oleh ahli.
Tauhid dan Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat (PPGD)

Pada Kamis (20/7) Parasantri mendapat materi pokok yakni cara menghafal Al Quran yang baik. Materi ini disampaikan oleh Ust Malki Hakim. Ust Malki Hakim ialah salah seorang pengajar yang sudah mendapatkan sanad, yang beberapa waktu yang lalu diberitakan di web ini/ fanspage pesantren.

Usai materi itu, di sore hari Tim dari PMI Bantul memberikan materi B-GELS atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Pertolongan Pertama Pada Gawat Darurat (PPGD) adalah serangkaian usaha-usaha pertama yang dapat dilakukan pada kondisi gawat darurat, misal kecelakaan dan penanganan pertamanya agar tidak semakin parah.
Adab-adab Makan, berpakaian dan Fire Fighter

Dihari terakhir Sabtu (21/7) sebelum penutupan di hari Ahad. Parasantri mendapat materi adab makan oleh Ust Yusuf Affandi Alumni Hamalatul Quran yang sedang menyelesaikan studi di UIM.

Setelah materi adab makan, dilanjut materi adab berpakaian. Selain mendapat materi bagaimana cara berpakaian oleh Ust Muhammad Reza, parasantri juga praktik sesuai dengan tutorial yang telah disampaikan oleh Ust Reza yang alumni UIM itu.

Di sore hari ujung dari kegiatan MOS di pesantren, parasantri mendapat materi yang mendebarkan namun juga seru. Yakni cara memadamkan api oleh tim Fire Fighter (Pemadam Kebakaran) Kab. Bantul.

donatur-tetap

Hukum Membaca al-Quran dengan Transliterasi

0

Hukum Membaca al-Quran dengan Transliterasi

Ada orang tidak bisa membaca al-Quran teks arabnya. Bolehkah dia membaca al-Quran melalui transliterasi?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah menegaskan bahwa al-Quran yang Allah turunkan itu berbahasa arab.

Ada banyak ayat yang menegaskan hal ini,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya kami turunkan al-Quran itu berbahasa arab agar kalian berfikir.” (QS. Yusuf: 2)

Allah juga berfirman,

كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Itulah kitab yang dirinci ayat-ayatnya, al-Quran yang berbahasa arab, bagi orang yang mengetahui.” (QS. Fushilat: 3)

Dan masih banyak ayat lainnya yang menegaskan hal ini…

Karena itulah, jika al-Quran ini dibaca namun yang keluar bukan suara bahasa arab, maka itu bukan al-Quran. Adanya transliterasi, sebenarnya tidak ditujukan untuk bahan bacaan teksnya. Tapi hanya memudahkan mengeja pelafalan, bagi yang belum bisa membaca tulisan arab. Sehingga bisa jadi, bagi mereka yang lidahnya belum lancar, dia bisa baca dengan suara yang berbeda. Artinya, ada peluang penyimpangan yang parah ketika orang membaca al-Quran dengan transliterasi.

Sebagai contoh, kata [الذِّيْنَ] ditulis dalam transliterasi dengan “aladzina”

Tulisan ini bisa dibaca: “ala-dzina” bisa juga dibaca “alad-zina”

Dalam transliterasi juga tidak dikenal hukum ghunnah, ikhfa’, iqlab atau semacamnya. Sehingga tidak ada dengung, tidak ada bacaan samar-samar, termasuk mad.

Contoh lain, kalimat [مِنْكَ] ditulis dengan transliterasi “minka”. Orang akan membacanya min-ka… tidak ada bacaan samar di sana.

Atau kalimat [إِنَّ اللهَ] ditulis dengan transliterasi “Innallaha”. Bagi yang lidahnya belum terbiasa akan dibaca, ‘in-nalaaha’

Dan ini bukan bahasa arab. Istilah para ulama disebut dengan bahasa ‘ajam.

An-Nawawi mengatakan,

لا تجوز قراءة القرآن بالعجمية سواء أحسن العربية أو لم يحسنها سواء كان في الصلاة أم في غيرها فإن قرأ بها في الصلاة لم تصح صلاتة هذا مذهبنا ومذهب مالك وأحمد وداود وأبو بكر بن المنذر

Tidak boleh membaca al-Quran dengan bahasa ‘ajam (selain bahasa arab). Baik dia bisa bahasa arab atau tidak. Baik dibaca ketika shalat maupun membacanya di luar shalat. Dan jika membaca al-Quran dengan cara semacam ini di dalam shalat maka shalatnya tidak sah. Ini merupakan pendapat madzhab kami (Syafiiyah), madzhab Imam Malik, Imam Ahmad, Daud, dan Abu Bakr bin al-Mundzir. (at-Tibyan fi Adab Hamalah al-Quran, hlm. 96).

Solusi bagi yang Belum Bisa Baca al-Quran

Bagi anda yang bisa membaca al-Quran, kami sarankan agar jangan nekad membaca transliterasinya. Bisa kita pastikan akan ada banyak bacaan yang rusak.

Yang bisa anda lakukan adalah belajar membaca al-Quran dengan benar. JANGAN malu, meskipun anda sudah berumur, bahkan sudah punya gelar akademis. Bagi mereka yang kurang lancar berbahasa arab, dia butuh guru untuk talaqqi (belajar tatap muka). Karena dia butuh menirukan contoh pelafalan yang benar. Pronunciation teks arab dengan teks latin bisa sangat berbeda. Tidak masalah dan tidak perlu malu jika belajarnya dari iqra’ atau dari huruf hijaiyah. Karena orang pemalu untuk melakukan kebaikan, tidak pernah mau berkembang.

Imam Mujahid mengatakan,

لاَ يَتَعَلَّمُ العِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ

“Hanya orang pemalu dan orang yang sombong yang tidak mau belajar ilmu agama.” (HR. Bukhari, 1/38)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits 

Sumber: KonsultasiSyariah.com

donatur-tetap

Meruqyah dengan Al-Fatihah

0

Hukum Meruqyah

عَنْ خَارِجَةَ بْنِ الصَّلْتِ التَّمِيمِىِّ عَنْ عَمِّهِ أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَسْلَمَ ثُمَّ أَقْبَلَ رَاجِعًا مِنْ عِنْدِهِ فَمَرَّ عَلَى قَوْمٍ عِنْدَهُمْ رَجُلٌ مَجْنُونٌ مُوثَقٌ بِالْحَدِيدِ فَقَالَ أَهْلُهُ إِنَّا حُدِّثْنَا أَنَّ صَاحِبَكُمْ هَذَا قَدْ جَاءَ بِخَيْرٍ فَهَلْ عِنْدَكَ شَىْءٌ تُدَاوِيهِ فَرَقَيْتُهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ فَأَعْطُونِى مِائَةَ شَاةٍ فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ « هَلْ إِلاَّ هَذَا ». وَقَالَ مُسَدَّدٌ فِى مَوْضِعٍ آخَرَ « هَلْ قُلْتَ غَيْرَ هَذَا ». قُلْتُ لاَ. قَالَ « خُذْهَا فَلَعَمْرِى لَمَنْ أَكَلَ بِرُقْيَةِ بَاطِلٍ لَقَدْ أَكَلْتَ بِرُقْيَةِ حَقٍّ ».

Dari Kharijah bin Shalt at Tamimi dari pamannya, dia datang ke Madinah untuk menemui Rasulullah lantas masuk Islam. Saat hendak pulang dari Madinah menuju kampung halamannya beliau melewati suatu perkampungan. Di kampung tersebut terdapat orang gila yang dipasung dengan besi. Salah satu keluarga orang gila tersebut berkata kepada pamanku, “Kami dapat kabar bahwa nabimu mengajarkan kebaikan. Apakah anda memiliki sesuatu untuk mengobatinya?”. Pamanku lantas me-ruqyahnya dengan hanya membacakan surat alfatihah. Setelah diruqyah orang tersebut sembuh seketika. Mereka pun memberiku seratus ekor kambing. Akhirnya kudatangi Nabi dan kuceritakan apa yang telah terjadi. Beliau merespon dengan bertanya, “Apakah engkau hanya meruqyah dengan membacakan surat alfatihah?” “Tidak ada yang lain”, jawabku. Sabda Nabi, “Ambillah seratus ekor kambing tersebut sungguh engkau termasuk mendapat upah dengan ruqyah yang benar, bukan dengan ruqyah yang batil” [HR Abu Daud, hasan].

Diantara kandungan hadits di atas:

  • Boleh meruqyah non muslim
  • Orang yang baru saja masuk Islam alias muallaf boleh saja meruqyah. Jadi peruqyah tidak harus ustadz atau kyai.
  • Boleh menerima upah setelah meruqyah dengan syarat yang diruqyah sembuh dengan sebab ruqyah.
  • Upah ruqyah boleh dengan nilai yang besar, tentu saja seratus ekor kambing adalah nilai yang sangat besar.
  • Diantara cara meruqyah adalah dengan membacakan surat alfatihah.
  • Meruqyah adalah amal kebaikan karena termasuk tindakan menolong orang lain
  • Dalam hadits di atas shahabat hanya membacakan surat alfatihah sekali saja dan efek ruqyah langsung terlihat. Hal ini karena efek ruqyah itu ditentukan oleh kualitas spiritual peruqyah.
  • Zhahir hadits menunjukkan bahwa shahabat tersebut meruqyah tanpa meniup, tanpa media air dan tanpa mengusap si sakit. Cara ruqyah shahabat tersebut hanya sekedar membacakan surat alfatihah. Demikianlah salah satu model ruqyah syar’iyyah.
  • Ruqyah itu terkadang bermanfaat untuk sebagian kasus gila.

Beberapa catatan mengenai hadits-hadits ruqyah:

  • Hadits-hadits tentang meruqyah. Ada hadits yang mencela ruqyah secara mutlak dan menyebutnya dengan kemusyrikan dan hadits yang membolehkan ruqyah. Dua jenis hadits ini dikompromikan dengan memaknai hadits yang mencela manakala ruqyahnya adalah ruqyah syirkiyyah dan hadits yang membolehkan manakala ruqyahnya dengan ruqyah syar’iyyah.
  • Hadits-hadits mengenai meminta diruqyah. Ada hadits yang mencela minta diruqyah dan hadits yang menunjukkan bolehnya meminta diruqyah.
  • Minimal ada dua cara kompromi dalam hal ini:
    Pertama, disimpulkan bahwa meminta diruqyah hukumnya makruh sebagai bentuk kompromi dua jenis hadits di atas. Kaedah fikih mengatakan bahwa makruh itu berubah menjadi mubah jika ada kebutuhan.
    Kedua, meminta diruqyah yang dicela manakala merusak tawakkal dan mubah manakala tidak merusak tawakkal sebagaimana pendapat Syaikh Abdullah al Silmi. Pendapat beliau bisa dibaca di sini: http://ustadzaris.com/minta-ruqyah-tercela

Diambil dari situs ustadz Aris Munandar, Mpi

donatur-tetap

Salah Satu Wali Santri HQ

0

Betul Ustadz, alhamdulillah termasuk anakku Mu’adz masya allah selesai makan ia mencuci semua piring yang ada di dapur, menyapu lantai dan halaman penuh gembira, rajin muroja’ah tanpa mengeluh sedikitpun, jazakumullahu khoiron katsiron kepada semua ustadz yang telah membimbingnya

donatur-tetap

Margiono Pare

0

Alhamdulillah mdh2an yg udah lulus jd dai yg istiqomah d jln yg lurus yg msh blajar mdh2an dpt ilmu yg barokah jg agar adik2 klsnya yg skrg msh blajar d hamalatul quran segra menyusul ksna begitu jg anak km yg skrg kls 2 aliyah mdh2an bisa dtrima d UIM Madina

donatur-tetap

Ashalul Hidayatullah Al-lintawy

0

Terima Kasih hamalatul quran, inilah tempat yg sangat berjasa bagi kami, karna Allah ta’ aala, telah mengizinkan kami bisa belajar selama satu tahun di sana, ilmu dan pengalaman yang kami dapatkan di sana ngak akan kami tinggalkan insyaallah

donatur-tetap

Program Pendidikan

0

Berdasarkan visi dan misi kami Yayasan Hamalatul Quran menyelenggarakan pendidikan selama 7 (tujuh) tahun

donatur-tetap

Kurikulum Terbaik

0

Keberhasilan santri meraih standar out put seperti yang dirumuskan di atas salah satunya ditentukan oleh kualitas in put calon santri yang memada

donatur-tetap

Lingkungan Islami

0

Menyelenggarakan pendidikan dengan kurikulum pesantren yang berfokus pada Tahfidzhul Quran yang diintegrasikan dengan jenjang pendidikan Salafiyah Wustho dan Madrasah Aliyah

donatur-tetap