Surat Al-Fatihah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang muslim. Al-Fatihah dibaca berulang-ulang dalam setiap rakaat salat dan hadir dalam berbagai praktik ibadah serta pengobatan syar’i. kumpulan hadis yang diriwayatkan para sahabat memberikan gambaran komprehensif tentang posisi istimewa surat pembuka ini. Artikel ini menyajikan tema-tema besar berkenaan dengan surat Al-Fatihah dalam tinjauan hadis-hadis nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Keutamaan Al-Fatihah
Diantara pembahasan paling banyak ditemukan dalam hadis adalah penegasan kemuliaan Al-Fatihah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai surat paling agung dalam Al-Quran – Ummul Qur’an, As-Sab’u al-Matsani, dan Al-Qur’an Al-Adzim.[1] Penamaan ini menunukkan bahwa Al-Fatihan memiliki tempat khusus dibandingkan surat-surat lainnya.
Diantara redaksi hadis yang menyebutkan hal tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id bin Al-Mu’alla,
عَنْ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى قَالَ كُنْتُ أُصَلِّي فِي الْمَسْجِدِ فَدَعَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أُجِبْهُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي فَقَالَ أَلَمْ يَقُلْ اللَّهُ { اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ } ثُمَّ قَالَ لِي لَأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِيَ أَعْظَمُ السُّوَرِ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِي فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ قُلْتُ لَهُ أَلَمْ تَقُلْ لَأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِيَ أَعْظَمُ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ
“Dari Abu Sa’id bin Al Mu’alla dia berkata, Suatu saat saya sedang melaksanakan salat di masjid, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku namun saya tidak menjawab panggilannya hingga salatku selesai. Setelah itu, saya menemui beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya pada waktu itu saya sedang salat.”
Beliau bersabda, “Bukankah Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman, ‘Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu.'”
Beliau bersabda lagi, “Sungguh, saya akan mengajarimu tentang surat yang paling agung yang terdapat di dalam Al-Qur’an sebelum kamu keluar dari Masjid.” Kemudian beliau memegang tanganku, dan saat beliau hendak keluar Masjid, saya pun berkata, “Bukankah engkau berjanji, ‘Saya akan mengajarimu surat yang paling agung yang terdapat di dalam Al-Qur’an.’ Beliau menjawab, (Yaitu surat) AL HAMDU LILLAHI RABBIL ‘AALAMIIN (Segala puji bagi Allah, Rabb semesta Alam), ia adalah As Sab’u Al Matsani, dan Al-Qur’an Al Adzhim yang telah diwahyukan kepadaku.”[2]
Sementara itu, riwayat Ibnu Abbas menyebutkan turunnya malaikat khusus yang membawa kabar tentang dua cahaya yang diberikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Al-Fatihah dan penutup surat Al-Baqarah. Kedua cahaya ini dikatakan belum pernah diberkan kepada nabi sebelumnya.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : بَيْنَمَا جِبْرِيلُ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ، فَرَفَعَ رَأْسَهُ، فَقَالَ : هَذَا بَابٌ مِنَ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ، فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ، فَقَالَ : هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ، فَسَلَّمَ، وَقَالَ : أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ : فَاتِحَةُ الْكِتَابِ، وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ ؛ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيتَهُ.
Dari Ibnu Abbas ia berkata, Ketika malaikat Jibril sedang duduk di samping Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba ia mendengar suara pintu dibuka dari arah atas kepalanya. Lalu malaikat Jibril berkata, “Itu adalah suara salah satu pintu langit yang dibuka, sebelumnya ia belum pernah dibuka sama sekali kecuali pada hari ini.”
Lalu keluarlah daripadanya malaikat. Jibril berkata, “Ini adalah malaikat yang hendak turun ke bumi, sebelumnya ia belum pernah turun ke bumi sama sekali kecuali pada hari ini saja.” Lalu ia memberi salam dan berkata, “Bergembiralah atas dua cahaya yang diberikan kepadamu dan belum pernah diberikan kepada seorang Nabipun sebelummu, yaitu pembuka Al Kitab (surah Al-Fatihah) dan penutup surah Al-Baqarah. Tidaklah kamu membaca satu huruf dari kedua surat itu kecuali pasti akan diberikan kepadamu.” (HR. Muslim)[3]
Beberapa sahabat seperti Abu Sa’id bin al-Mu’alla dan Ubay bin Ka’b meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenegaskan tidak ada surat serupa Al-Fatihah dalam kitab-kitab terdahulu serprti Taurat, Zabur, maupun Injil[4].
عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ مِثْلَ أُمِّ الْقُرْآنِ، وَهِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي ، وَهِيَ مَقْسُومَةٌ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ “.
Dari Abu Hurairah dari Ubay bin Ka’b dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan dalam Taurat dan Injil seperti Ummul Qur’an. yaitu Sab ‘ul Matsani, yang terbagi antara Allah dengan hamba-Nya, bagi hamba-Nya apa yang ia minta.'” (HR. An-Nasa’i, no. 914)[5]
[1] HR. Bukhori no. 4704 oleh Abu Hurairah
[2] HR. Bukhori no. 4474
[3] HR. Muslim no. 806 dan An-Nasa’I no. 912.
[4] HR. Tirmidzi no. 2875
[5] Diriwayatkan juga oleh Ad-Darimi no. 3415, dan Ahmad
Ditulis Oleh: Fahmi Izuddin, S.Ag
Artikel: HamalatulQuran.Com







