Home Artikel Ibadah Hati Bag.17: Antara Golongan yang Mengingkari Usaha dan Mengagungkan Usaha Secara...

Ibadah Hati Bag.17: Antara Golongan yang Mengingkari Usaha dan Mengagungkan Usaha Secara Berlebihan

667
0
campaign psb PPHQ 26-27

ORANG-ORANG YANG MENGINGKARI USAHA

Ketahuilah bahwa orang-orang yang mengingkari usaha maka tawakalnya tidak akan pernah benar. Tawakal adalah sebab yang paling kuat untuk mendapatkan tujuan dari tawakal tersebut. Tawakal itu seperti doa. Allah menjadikan doa sebagai sebab untuk mendapatkan sesuatu sesuai dengan permohonan seseorang.

Jika ada orang yang berkeyakinan bahwa Allah tidak menjadikan tawakal dan doa itu sebagai sebab untuk meraih sesuatu maka dia telah terperosok ke dalam khayalan yang menyesatkan. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menetapkan bahwa rasa kenyang itu didapatkan setelah seseorang makan dan hilang dahaga itu didapatkan setelah dia minum. Jika orang tersebut tidak melakukannya maka dia tidak akan kenyang dan hilang dahaga. Allah menetapkan bahwa agar bisa berhaji dan sampai ke Mekah maka seseorang itu harus bepergian dan naik kendaraan. Kalau dia hanya nongkrong di rumahnya maka dia tidak akan pernah sampai ke Mekah.

Renungkanlah pernyataan orang-orang yang mengingkari usaha yang mengajak orang lain untuk meninggalkan usaha yang realistis. Mereka mengatakan bahwa kalau sekiranya Allah telah menetapkan dan menggariskan sejak dulu (azali: awal yang tak berawal) bahwa aku akan kenyang, hilang dahaga, berhaji dan sebagainya maka pasti akan terjadi padaku; baik aku bergerak ataupun diam dan pergi ataupun duduk. Kalau Dia tidak menetapkan sesuatu kepadaku maka tidak akan terjadi padaku; baik kukerjakan atau tidak kukerjakan.

Apakah ada orang yang mengatakan orang seperti di atas adalah orang yang berakal? Bukankah binatang ternak lebih pandai daripada dirinya? Binatang ternak saja berupaya untuk menempuh usaha dengan menggunakan hidayah yang bersifat umum atau yang disebut dengan insting.

donatur-tetap

Bahkan berlepas diri dari usaha secara global adalah suatu hal yang dilarang akal, syariat dan realita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan usaha sedikitpun. Pada perang Uhud beliau menggunakan dua baju besi. Beliau tidak pernah terjun di medan perang dalam keadaan telanjang sebagaimana dilakukan oleh orang yang bodoh lagi tolol. Beliau juga menyewa seorang penunjuk jalan yang musyrik karena tetap memilih agama suku beliau sendiri untuk menunjukkan jalan dalam rangka hijrah. Beliau juga menyimpan makanan pokok untuk keperluan keluarganya selama setahun padahal beliau adalah pimpinan orang yang bertawakal. Bahkan, jika beliau bepergian untuk jihad, haji atau umroh, beliau membawa perbekalan.(Tahdzib Madarijus Salikin, hlm.338-339)

Oleh karena itu, tawakal tidak bertolak belakang dengan upaya mencarai usaha yang Allah tetapkan untuk menjaga keteraturan alam ini. Mengikuti ketetapan-ketetapan tersebut sunnah-sunnah-Nya yang kauniyyah berjalan, takdir-Nya berlaku dan dengan memperhatikan ketetapan tersebut syariat-Nya diberlakukan.(At Tawakkal, hlm. 35)

Pernyataan di atas didasarkan pada hadits yang terkenal dari Anas bin Malik, dia mengatakan bahwa ada seorang lelaki menunggangi unta dan berkata: “Wahai Rasulullah, apakah aku harus mengikat unta ini kemudian bertawakal ataukah aku melepaskannya kemudian bertawakal?” Nabi r bersabda: “Ikatlah unta itu dan bertawakallah.”

Keterangan di atas adalah nash yang jelas menyatakan bahwa kita harus memperhatikan usaha dan itu semua tidaklah meniadakan tawakal.

Betapa indahnya perkataan seorang penyair:

Bertawakallah kepada Ar Rahman dalam segala urusan,

     Jika engkau malas, jangan harap suatu hari peroleh permintaan.

Bukankah engkau tahu kepada Maryam, berkata Ar Rahman,

     Goyangkanlah batang pohon korma niscaya buah kan berjatuhan.

Kalau Dia menghendaki agar Maryam petik korma tanpa digoyang,

     Pasti dia kan bisa memetiknya, tapi segalanya butuh usaha yang dilakukan.

 

Orang yang mengingkari usaha secara keseluruhan tidak memiliki sandaran baik dalam Al Qur’an, hadis maupun amal perbuatan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik… Kalau seandainya orang-orang Islam pada jaman yang terbaik berjalan di atas jalan ini maka agama Islam tidak akan pernah menang, peradaban tidak pernah terintis dan mereka tidak akan memiliki kekuatan di muka bumi. Pengarahan yang bersifat negatif ini adalah sesuatu yang aneh bagi akal, ruh dan metode Islam. Islam berperan dalam membentuk individu, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara yang baik. Oleh karena itu orang yang mengingkari usaha ditentang oleh para ahli fikih yang diikuti banyak orang dan para ulama’ besar yang diakui. Berikut ini adalah Imam Sufyan bin Sa’id Ats Tsauri, beliau adalah imam dalam bidang ilmu fikih, hadis, zuhud terhadap dunia dan keyakinan yang tinggi terhadap Allah. Beliau berkata: “Jika orang alim tidak memiliki pekerjaan maka dia akan menjadi wakil orang yang lalim. Jika seorang budak tidak memiliki pekerjaan maka dia akan makan dengan menjual agamanya. Jika orang bodoh tidak memiliki pekerjaan maka dia akan menjadi wakil orang yang fasik.” (Tawakal hlm. 46).

Ibnul Jauzi rahimahullah ta’ala mengatakan: “Mengingkari usaha adalah ucapan orang yang tidak paham dengan makna tawakal. Mereka menyangka bahwa tawakal itu dengan meninggalkan usaha dan tidak menggunakan anggota badan untuk bekerja. Kami telah menjelaskan bahwa tawakal itu adalah amalan hati dan dia tidak meniadakan amal perbuatan badan. Kalau sekiranya orang yang berusaha itu bukanlah orang yang bertawakal maka para nabi bukanlah orang yang bertawakal. Nabi Adam u adalah petani, nabi Nuh dan nabi Zakariya adalah tukang kayu, nabi Idris adalah penjahit, nabi Ibrahim dan nabi Luth adalah petani, nabi Shalih adalah pedagang, nabi Sulaiman adalah pembuat kolam, nabi Dawud adalah pembuat baju besi dan beliau makan dari hasil penjualannya. Sedangkan nabi Musa, Syu’aib dan Muhammad adalah penggembala kambing. Semoga sholawat senantiasa tercurahkan kepada mereka.(At Tawakkal, hlm. 51)

ORANG-ORANG YANG MENGAGUNGKAN USAHA

Mereka adalah orang-orang yang sangat bergantung kepada usaha. Mereka sangat berlebihan dalam hal ini.

Mereka dalam bahaya yang sangat besar karena mereka melupakan Allah. Mereka seratus persen percaya penuh kepada usaha. Kalau kondisinya telah demikian maka usaha itu menjadi tercela, yaitu ketika hati telah bergantung hanya kepada usaha itu dan menjadikannya sebagai sandaran hati. Dia lupa dengan zat yang menetapkan usaha dan pencipta usaha. Dia tidak tahu bahwa usaha-usaha itu tidak bisa dilakukan begitu saja. Al Qur’an telah memberikan suatu contoh kepada kita tentang orang yang bersandar hanya kepada usaha-usaha yang nampak saja. Ternyata hasilnya adalah kosong belaka. Contoh itu terdapat dalam firman Allah ta’ala:

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيْرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا وَ ضَاقَتْ عَلَيْكُمْ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِيْنَ

Sesungguhnya Allah telah menolong kalian (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak. (Ingatlah) perang Hunain, yaitu di waktu kalian congkak karena banyaknya jumlah kalian. Jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikitpun. Bumi yang luas itu telah terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian lari ke belakang dalam keadaan bercerai berai.”(QS. At Taubah: 25).

Mereka kalah padahal kuantitas mereka besar. Kuantitas telah menipu mereka sehingga membuat mereka lupa untuk bertawakal. Ternyata kuantitas itu tidak berguna  sedikitpun. Padahal ketika kuantitas mereka sedikit namun bersandar kepada Allah saja maka mereka bisa menang setelah mencurahkan segala kemampuan mereka.

Sikap yang tengah antara dua sikap ekstrim tersebut adalah sikap orang yang melakukan usaha dengan tetap bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Dia berusaha dengan anggota badannya dan bertawakal kepada Allah dengan akal dan hatinya. Orang yang bertawakal adalah orang yang memperhatikan sunnatullah yang berlaku pada makhluk-Nya dan hukum-hukum Allah dalam syariat-Nya. Dia yakin bahwa Allah-lah yang merancang usaha-usaha dan memerintahkan untuk melakukan usaha-usaha itu. Dia juga yang akan mewujudkan akibatnya baik secara takdir maupun syar’i. Jika Dia berkehendak, pada saat itu juga, Dia mampu menghilangkan usaha-usaha itu. Dia mampu menciptakan penghalang-penghalang yang bisa merintangi proses usaha itu atau bahkan meniadakan akibatnya.

Referensi: Al ‘Ibadaat Al Qolbiyyah wa Atsaruha fi Hayatil Mu’minin ditulis oleh Dr. Muhammad bin Hasan bin ‘Uqail Musa Al-Syarif

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here