Home Artikel Telaah Kritis Hadis : Dosa Melupakan Hafalan Al Quran

Telaah Kritis Hadis : Dosa Melupakan Hafalan Al Quran

570
0

“Dinampakkan dosa umatku kepadaku, maka aku tidak melihat dosa yang paling besar dari pada (dosa) seseorang yang dianugerahi (hafalan) surat Al-Quran, atau satu ayat darinya, namun ia melupakannya.” Begituah bunyi makna hadis yang cukup populer di tengah masyarakat kita. Isinya menyebutkan bahwa melupakan hafalan ayat-ayat suci Al-Quran tergolong dosa yang paling besar.

Maka tak ayal, jika sebagian ulama menilainya sebagai dosa besar, karena berlandaskan hadis ini.

Berdasarkan hal diatas, maka pada kesempatan kali ini kami mencoba untuk menampilkan keterangan para ahli kritik hadis seputar hadis tersebut. Apakah termasuk bagian hadis yang valid, ataukah tidak? Ikuti ulasannya.

Teks Hadis:

عَنْ أَنَسٍ، عَنْ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: … وَعُرِضَتْ عَلَيَّ ذُنُوبُ أُمَّتِي، فَلَمْ أَرَ ذَنْبًا أَعْظَمَ مِنْ سُورَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ أَوْ آيَةٍ أُوتِيَهَا رَجُلٌ ثُمَّ نَسِيَهَا

Dari Anas bin Malik, dari nabi shallallahu alaih wasallam, beliau bersabda,“…..Dinampakkan dosa umatku kepadaku, maka aku tidak melihat dosa yang paling besar dari pada (dosa)seseorang yang dianugerahi (hafalan) surat Alquran, atau satu ayat darinya, namun ia melupakannya.”

Hadis diatas diriwayatkan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi, Abu Ya’la, ibnu Khuzaimah, dll. Semua jalurnya berporos di Ibnu Juraij (P), dari Al Muthalib bin Abdullah bin Hanthab, dari Anas bin malik.

Komentar Ulama Pakar Kritik Hadis
Menurut keterangan Imam Ali bin Al madini bahwa ibnu Juraij menerima riwayat-riwayat Al Muthalib melalui perantara Ibrahim ibnu Abi Yahya, seorang informan yang matruk. Lalu, saat Ibnu Juraij menyampaikan hadis ini, ia tidak menyebutkan perantaranya. Seakan ia menerima langsung dari Al Muthalib bin Abdullah, padahal tidak.

Sedangkan menurut Ad Daraquthni, Ibnu Juraij menerima hadis tersebut melalui perantara ibnu Abi Sabrah, seorang yang tertuduh sebagai pemalsu hadis. Kemudian, ia melakukan hal yang sama seperti perantara sebelumnya.

Di samping itu, para pakar kritik hadis; Ali bin Al Madini, Imam Al Bukhari, dan Ad Darimi juga menerangkan bahwa Al Muthalib bin Abdullah tidak pernah mendengar dari sahabat Anas bin Malik.

Kesimpulan
Hadis di atas memiliki dua cacat:
Pertama: Tadlis Ibnu Juraij. Artinya, ia tidak mendengarkan hadis ini dari Al Muthalib. Tetapi dari Ibrahim Ibnu Abi Yahya (perawi matruk), atau Ibnu Abi Sabrah (perawi yang tertuduh memalsukan hadis). Lantas ia menghapuskan nama mereka dari sanad, sehingga menimbukan kerancuan, seakan ia menerimanya langsung dari Al Muthalib.
Kedua: Sanadnya putus. Karena Al Muthalib bin Abdullah tidak mendengar dari sahabat Anas bin Malik.

Skema Sanad

Penutup
Status hadis di atas memang lemah. Tetapi, bukan berarti kita lantas meremehkan persoalan menjaga hafalan ayat-ayat suci Al-Quran. Bahkan, Kita senantiasa dituntut untuk menjaga hafalan AL-Quran, Karena sejumah hadis dari rasulullah shallallahu alaih wasallam yang valid terkait hal itu. Wallahu a’lam.

Referensi
– Sunan Abu Dawud, no. 461.
– Sunan At Tirmidzi, no. 2916.
– Musnad Abu Ya’la, no. 4269.
– Sahih ibnu Khuzaimah, no. 1297.
– Al Kifayah, Al Khatib Al Baghdadi, 2/146.
– ‘ilal Ad Daraqutni, 12/171.
– At Taqrib, ibnu Hajar, no. 241, 7973.

***

Ditulis Oleh: Abu Huraerah, Lc.
Artikel HamalatulQuran.com

Previous articlePendaftaran Penerimaan Santri Baru PP Hamalatul Quran Tahun 2021 Resmi Ditutup
Next articleFaris Taqiyudin Berhasil Simakkan Hafalan Al Quran 30 Juz Dalam Dua Hari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here