Home Artikel Lima Kiat Menjadi Santri Sukses

Lima Kiat Menjadi Santri Sukses

1059
0

Bismillah…

Seperti kata sahabat Salman Al Farisi berbicara tentang keistimewaan kota Madinah, “Bumi yang suci tidak akan mensucikan penghuninya.” Demikian yang berlaku pada pesantren. Banyak harapan baik saat masuk mendaftar di pesantren. Karena lingkungannya yang baik dan penuh dengan suasana religius. Namun, ternyata tak semua santri yang lulus pesantren sukses menjadi santri. Bahkan ada yang saat sudah lulus, tidak ada aura atau wibawa santri padanya.

Berikut ini lima kunci sukses menjadi santri :

Pertama, Ikhlas.

Berangkat dari hati yang bersih tulus. Ini paling utama. Karena ilmu itu perlu wadah. Wadah ilmu itu hati. Syarat agar hati bisa menjadi wadah ilmu, haruslah bersih. Ilmu akan manfaat manakala wadah ilmu yaitu hati, bersih.

Dan faktor terkuat pembersih hati itu adalah ikhlas. Indikasinya diantaranya, manakala anak masuk pondok karena keinginan sendiri. Meski ini bukan berarti orang tua tidak mengarahkan. Wajar di awal ada rasa terpaksa. Karena ikhlas itu bisa direkayasa. Disinilah kerjasama baik orangtua dengan pihak pesantren sangat berperan memunculkan ikhlas pada diri anak.

Orang tua diharapkan banyak bercerita kepada anaknya yang akan dimasukkan pesantren, tentang keutamaan menuntut ilmu dan menghafal Al-Qur’an.

Orang yang belajar untuk mendapatkan fadhilah yang disampaikan, itu wujud dari keikhlasan.

Untuk para orangtua, waktu ada jadwal telpon anaknya, mohon jangan disiakan. Jadikan sebagai harga mati, harus ada komunikasi dengan anak. Diantara yang primer disampaikan adalah, berulang-ulang mengingatkan untuk ikhlas dalam belajar.

Karena ikhlas dalam menuntut ilmu, adalah sarana penting untuk dapat merasakan lezatnya ilmu. Saat baca buku nikmat, belajar nikmat, membaca Al-Qur’an nikmatw, ini sudah modal untuk sukses. Tapi kalau baca buku, baca Al Qur’an seperti mindah gunung, ini sebab gagal.

Ciri seorang itu cinta ilmu, saat dia lupa makan, lupa capek gara-gara sibuk dengan ilmu. Sama kayak anak yang suka game suka mancing suka main bola, sibuk main sampai lupa makan.

Kiat pokoknya adalah, ikhlas.

Sebenarnya cukup satu kiatnya, ikhlas aja.

Kedua, cari teman yang baik dan manfaat.

Siapkan diri anak bertemu lingkungan yang heterogen. Santri dari berbagai daerah dengan watak dan budaya yang berbeda-beda. Ada yang kalem, ada yang banyak tingkah. Mohon para orang tua berpesan kepada anaknya yang akan dimasukkan pesantren, untuk mengenali kawan yang ada. Kemudian dimapping : mana yang rajin pinter, ga pinter tapi rajin, males tapi pinter dst.

Jadikan ini sebagai wasiat, di moment yang berkesan, yaitu di moment perpisahan. Karena akan mudah masuk dalam hati.

“Dengan berat hati bunda melepasmu, namun karenan bunda sayang padamu, bunda ingin kami jadi penghafal Al-Qur’an, bunda titipkan kamu kepada para ustadz di sini. Nak… Nanti sampai di pesantren pilih teman yang baik. Kawan-kawan yang ngga ngajak mainan saat jam halaqot. Bikin semangat belajar dan menghafal.”

Ketiga, pandai memanfaatkan waktu.

Waktu dan jadwal yang sudah ditetapkan oleh pondok, itu sudah mempertimbangkan waktu. Jika ditaati dengan disiplin, insyaallah akan membantu santri sukses mencapai target.

Kiatnya : cepat untuk hal-hal yang bisa dibuat cepat.

Para ulama : penuntut ilmu di masa salaf, mereka punya ciri khas cepat dalam tiga hal : makan, jalan dan menulis.

Intinya : bagaimana waktu itu efektif.
Contohnya kalau di dunia pesantren, cepat kalau mandi. Agar tidak lama antrian.

Keempat, taat aturan pesantren.

Anturan asrama, sekolah, masjid dll, jika ditaati dengan baik, maka waktu yang ada bisa terasa banyak. Waktu itu terasa sedikit karenarn tidak taat aturan. Misal, saat jam tidur begadang, waktunya sekolah akhirnya tidur.

Kelima, jaga kesehatan.

Sakit membuat belajar berkurang, konsentrasi tidak maksimal. Jalankan protokol kesehatan sebaiknya. Agar KBM tdk terhambat Krn problem penyakit.

Sebagai penutup :
Buatlah acara pisahan kecil-kecilan bersama adik-adik atau saudarnya. Saat itu ayah bisa mengisi tausiah. Kemudian point ini bisa di sampaikan kepada anak. Malam terakhir biasanya sangat berkesan.

***

Dirangkum oleh : Ahmad Anshori, dari wejangan Ustadz Aris Munandar MPI -hafidzohullah-, pada acara pertemuan daring wali santri baru PP Hamalatul Quran Bantul. 12 Juli 2020.

Artikel : Hamalatulquran.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here