Home Artikel Adab dan Akhlak Jangan Terlalu Sering Jenguk Anak di Pesantren

Jangan Terlalu Sering Jenguk Anak di Pesantren

1478
0

Santri yang sering dijenguk itu tidak akan maksimal. Dia selalu kepikiran orang tuanya, setiap datang orang tuanya bercerita cerita ini dan itu, akhirnya sang anak kepikiran serta membuat santri akhirnya tidak fokus menghafal, tidak fokus memahami pelajaran. Sedikit-sedikit ingat cerita tentang rumah, ingat cerita tentang saudara, inget cerita tentang masalah yang ada di rumah dan sebagainya.

Kapan bisa fokus santri yang seperti ini?

Kalau ada santri seperti ini, dia itu seperti orang yang kebanyakan gula akhirnya dia gak fokus dan sakit-sakitan. Sakit bukan fisiknya tapi mentalnya.

Ada kisah yang masyhur dikalangan ulama’ Syanqit kisah Al-‘Allamah Al-Syeikh Muhammad Mahfuz Walad Mukhtar Al-Syinqithi rahimahullah. Dikisahkan bahwa beliau selama 10 tahun fokus belajar tanpa henti sehingga surat-surat yang datang kepada beliau tidak pernah dibuka dan hanya disimpan dalam sebuah gentong, kerana beliau khawatir akan terbaca berita yang menuntutnya harus kembali ke kampung halamannya. Barulah setelah 10 tahun berlalu dalam menuntu ilmu surat-surat yang pernah dikirim tersebut akhirnya di buka dan dibaca oleh beliau.

Maka belajar di pesantren itu santri butuh fokus, sering dijenguk atau sering ditelpon dan diceritakan tentang ini dan itu malah dapat mengurangi atau menghilangkan fokus si santri ketika belajar atau menghafal Al-Quran di pesantren.

Bukan melarang penjengukan atau penelponan di pesantren, hanya saja sebagai wali santri harus bijak dan tahu apa saja yang hendaknya dilakukan Ketika menjenguk atau menelpon buah hatinya yang sedang menimba ilmu di pesantren.

Berikut ini kami sajikan beberapa tips dan saran yang seyogyanya dilakukan oleh wali santri Ketika menjenguk atau menelpon putranya di pesantren.

  1. Manfaatkan Waktu

Jadikan waktu yang sebentar dengan anak kita lebih berkesan. Sisihkan gadget sementara karena waktu dengan anak kita lebih berharga.

 

  1. Bagaimana Hati Anak Kita?

Ilmu laksana permata yang indah, tidak layak ditempatkan kecuali di dalam hati yang bersih. Maka sucikanlah hati dari noda-noda dosa. Ingatkan anak kita untuk senantiasa menjaga shalat serta ibadah laiinya dan juga ingatkan mereka untuk menjauhi dosa.

 

  1. Jangan Gagal Fokus!

Tidak perlu anda ceritakan segala kondisi yang ada di rumah atau keluarga, apalagi sebuah masalah yang mungkin sedang terjadi di dalam rumah tangga. Karena hal tersbuta akan membuat si anak tidak focus di pesantren, baik dalam menghafal atau memahami pelajaran di kelas.

 

  1. Jaga Semangat

Seseorang yang mengejar sesuatu (cita-cita) dengan semangat dan kejujuran, pasti akan

mendapatkannya. Jika tidak semuanya, paling tidak ia akan meraih sebagiannya.

 

  1. Dengarkan Mereka

Jadilah pendengar yang baik. Dengarkan keluh kesah anak kita, Kita kasih solusi dan motivasi, jangan ‘provokasi’.

 

  1. Jangan Lupakan Adab

Ayah Bunda, mari kita ajarkan adab kepada anak kita.

Yusuf bin Al-Husain rahimahullah berkata:

“Dengan adab engkau akannmemahami ilmu.”

Jagalah adab di majelis ilmu, adab kepada guru serta adab kepada sesame teman.

 

  1. Semua Ada Waktuya

Saat ini adalah waktu untuk anak kita belajar, bukan waktu untuknya berselancar di media

sosial. Sayangilah anak kita dengan mendorongnya menggunakan waktu untuk belajar. Relakah kita memanjakannya sekarang lalu ia terluput dari cita-citanya di kemudian hari?

 

  1. Perhatikan Batin Si Anak

Ayah Bunda, Dalam menuntut ilmu selain kita perhatikan keadaan dhahir yang nampak pada anak kita; kita juga harus memperhatikan keadaan bathinnya. Adakah di sana dengki, dendam, takabur, ujub dan kotoran lainnya?

Sahl bin Abdillah rahimahullah berkata : “Haram bagi hati untuk masuk ke dalamnya cahaya sedangkan di sana terdapat apa yang dibenci oleh Allah.”

Demikian, semoga bermanfaat serta semoga momen menjenguk anak atau menelpon anak di pesantren bisa menjadi lebih bermakna. Wallahu Ta’ala A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here