Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan hadis-hadis yang memuat keuataman surat Al-Baqarah dengan kualitas sahih atau hasan. Insya Allah tulisan ini akan memaparkan keragaman keutamaan surat Al-Baqarah namun berdasarkan riwayat yang terputus sanadnya maupun daif.
Dipaparkannya keutamaan berdasarkan hadis lemah agar kita memiliki wawasan yang luas serta dapat melihat keluasan khazanah dalam materi ini.
Keutamaan Berdasarkan Isnad Baik namun Terputus
- Perbendaharaan dibawah ‘Arsy
عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” إِنَّ اللَّهَ خَتَمَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ بِآيَتَيْنِ أُعْطِيتُهُمَا مِنْ كَنْزِهِ الَّذِي تَحْتَ الْعَرْشِ، فَتَعَلَّمُوهُنَّ وَعَلِّمُوهُنَّ نِسَاءَكُمْ ؛ فَإِنَّهُمَا صَلَاةٌ وَقُرْآنٌ وَدُعَاءٌ “.
حكم الحديث: رجاله ثقات غير أنه مرسل
Dari Abu Az Zahiriyyah dari Jubair bin Nufair bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menutup surah Al-Baqarah dengan dua ayat yang diberikan kepadaku dari perbendaharaan-Nya yang berada di bawah ‘Arsy, maka pelajarilah dan ajarkanlah kedua ayat itu kepada istri-istri kalian, sebab keduanya adalah salat, Al-Qur’an dan doa.” (HR. Ad-Darimi)[1]
Disebutkan bahwa perawi dalam hadis tersebut tsiqoh (‘adl dan dhabit) – memiliki kredibilitas yang baik dalam segi perilaku maupun kecerdasan intelektual, hafalan yang baik pula. Namun, dijelaskan pula bahwa hadis ini adalah mursal yaitu rangkaian sanadnya tidak mencantumkan perawi di tingkat sahabat.
- Al-Baqarah sebagai Penyempurna Al-Qur’an
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ قَالَ : إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ سَنَامًا، وَإِنَّ سَنَامَ الْقُرْآنِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ، وَإِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ لُبَابًا، وَإِنَّ لُبَابَ الْقُرْآنِ الْمُفَصَّلُ.
قَالَ أَبُو مُحَمَّدٍ : اللُّبَابُ : الْخَالِصُ.
حكم الحديث: إسناده حسن
dari Abdullah bahwa ia berkata, Sesungguhnya setiap sesuatu memiliki pemimpin, sesungguhnya pemimpin Al-Qur’an adalah surah Al-Baqarah. Dan sesungguhnya setiap sesuatu memiliki inti dan inti Al-Qur’an adalah Al Mufashshal. Abu Muhammad berkata, Lubab berarti inti. (HR. Ad-Darimi)[2]
Hadis diatas memiliki kriteria sanad yang sahih, namun dalam sanadnya terhenti pada sahabat dan tidak menyebut secara implisit sabda Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam, sehingga hadis ini tergolong mauquf.
- Mahkota di Surga
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْأَسْوَدِ قَالَ : مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ تُوِّجَ بِهَا تَاجًا فِي الْجَنَّةِ.
حكم الحديث: إسناده حسن
dari Abdurrahman bin Al Aswad ia berkata, Barang siapa yang membaca surah Al-Baqarah, maka ia akan diberi mahkota kelak di dalam surga. (HR. Ad-Darimi)[3]
Status hadis: sanad hasan namun atsar terputus
Keutamaan Berdasarkan Hadis Dhaif
- Kemuliaan bagi Pembaca dan Orang Tuanya
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْثًا وَهُمْ ذُو عَدَدٍ، فَاسْتَقْرَأَهُمْ، فَاسْتَقْرَأَ كُلَّ رَجُلٍ مِنْهُمْ مَا مَعَهُ مِنَ الْقُرْآنِ، فَأَتَى عَلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ مِنْ أَحْدَثِهِمْ سِنًّا، فَقَالَ : ” مَا مَعَكَ يَا فُلَانُ ؟ ” قَالَ : مَعِي كَذَا وَكَذَا وَسُورَةُ الْبَقَرَةِ. قَالَ : ” أَمَعَكَ سُورَةُ الْبَقَرَةِ ؟ ” فَقَالَ : نَعَمْ. قَالَ : ” فَاذْهَبْ فَأَنْتَ أَمِيرُهُمْ “. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِهِمْ : وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا مَنَعَنِي أَنْ أَتَعَلَّمَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ إِلَّا خَشْيَةَ أَلَّا أَقُومَ بِهَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ فَاقْرَءُوهُ وَأَقْرِئُوهُ ؛ فَإِنَّ مَثَلَ الْقُرْآنِ لِمَنْ تَعَلَّمَهُ فَقَرَأَهُ وَقَامَ بِهِ، كَمَثَلِ جِرَابٍ مَحْشُوٍّ مِسْكًا يَفُوحُ رِيحُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَمَثَلُ مَنْ تَعَلَّمَهُ فَيَرْقُدُ وَهُوَ فِي جَوْفِهِ، كَمَثَلِ جِرَابٍ وُكِئَ عَلَى مِسْكٍ
Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus rombongan para sahabat dalam jumlah banyak, beliau meminta kepada mereka untuk membaca, beliau meminta setiap orang dari mereka untuk membacakan apa yang dia hafal dari Al-Qur’an, beliau datang kepada seseorang yang paling muda umurnya di antara mereka dan bertanya, “Apa yang kamu hafal dari Al-Qur’an wahai Fulan?” dia menjawab, “Saya hafal ini dan ini dan surah Al-Baqarah, ” beliau bertanya, “Apakah kamu hafal surah Al-Baqarah?” dia menjawab, “Ya, ” beliau bersabda kepadanya, “Pergilah dan kamu yang jadi imam bagi mereka, ”
Seseorang yang paling terkemuka di antara mereka berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, tidak ada yang menghalangiku untuk mempelajari surah Al-Baqarah selain karena aku takut tidak dapat mengamalkannya,”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pelajarilah Al-Qur’an dan bacalah, karena perumpamaan Al-Qur’an bagi orang yang mempelajarinya kemudian membacanya seperti kantong yang penuh dengan minyak wangi, dimana wanginya semerbak ke setiap tempat, dan perumpamaan orang yang mempelajarinya kemudian tidur (tidak mengamalkannya) padahal Al-Qur’an ada di hatinya seperti kantong yang berisi minyak wangi namun terikat.”(HR. At-Tirmidzi)[4]
At-Tirmidzi mengatakan hadis ini berstatus hasan (baik), dan diriwayatkan pula dari Al-Laits bin Sa’d dari Said al-Maqburi dari Atha’ sahaya Abi Ahmad dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara mursal dan tidak menyebut didalamnya dari Abu Hurairah. Beberapa ulama seperti al-Albani mendaifkan hadis ini dengan memasukkan dalam kitabnya ‘Daif at-Tirmidzi’.
Kita bisa berpegang pada hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori dalam sahihnya dengan keumuman fadilah belajar dan mengajarkan Al-Qur’an, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُكُمْ مَن تَعَلَّمَ القُرْآنَ وعَلَّمَهُ. قالَ: وأَقْرَأَ أبو عبدِ الرَّحْمَنِ في إمْرَةِ عُثْمانَ، حتَّى كانَ الحَجَّاجُ قالَ: وذاكَ الذي أقْعَدَنِي مَقْعَدِي هذا
‘Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.’ — (HR. Al-Bukhori)[5]
- Tuan Ayat-Ayat dalam Al-Qur’an
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لِكُلِّ شَيْءٍ سَنَامٌ، وَإِنَّ سَنَامَ الْقُرْآنِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ، وَفِيهَا آيَةٌ هِيَ سَيِّدَةُ آيِ الْقُرْآنِ، هِيَ آيَةُ الْكُرْسِيِّ “.
هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ حَكِيمِ بْنِ جُبَيْرٍ، وَقَدْ تَكَلَّمَ شُعْبَةُ فِي حَكِيمِ بْنِ جُبَيْرٍ وَضَعَّفَهُ.
حكم الحديث: ضعيف
dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap sesuatu memiliki puncak, dan puncaknya Al-Qur’an adalah surah Al-Baqarah, di dalamnya terdapat ayat yang merupakan tuannya ayat-ayat dalam Al-Qur’an yaitu ayat kursi.”
Abu Isa (At-Tirmidzi) berkata, Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Hakim bin Jubair, sementara Syu’bah mempermasalahkan tentang Hakim bin Jubair dan melemahkannya.” (HR. At-Tirmidzi)[6]
- Setan Keluar Sambil Terkentut-Kentut
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : مَا مِنْ بَيْتٍ يُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ إِلَّا خَرَجَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضَرِيطٌ.
حكم الحديث: إسناده ضعيف
dari Abdullah ia berkata, Tidak ada satu rumah pun yang di dalamnya dibaca surah Al-Baqarah kecuali setan keluar darinya dengan terkentut-kentut. (HR. Ad-Darimi)[7]
Sanad hadis ini lemah, selain itu tidak tersambung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhenti pada perkataan sahabat. Sehinnga tidak bisa dikategorikan hadis yang diterima. Cukuplah bagi kita mengambil faedah riwayat Abu Hurairah dalam sahih Muslim yang menyebutkan setan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah.
- Nama Allah yang Agung
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : قَرَأَ رَجُلٌ عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ الْبَقَرَةَ وَآلَ عِمْرَانَ، فَقَالَ : قَرَأْتَ سُورَتَيْنِ فِيهِمَا اسْمُ اللَّهِ الْأَعْظَمُ، الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى
Dari Abdullah ia berkata, Ada seseorang membaca surah Al-Baqarah dan surah Ali ‘Imran di samping Abdullah, lalu ia pun berkata, Engkau telah membaca dua surat yang di dalamnya terdapat nama Allah yang paling agung, yang apabila digunakan ketika berdoa pasti diperkenankan dan apabila digunakan ketika meminta pasti dikabulkan. (HR. Ad-Darimi)[8]
Kesimpulan
Hadis-hadis keutamaan dengan kualitas sahih maupun hasan telah mencakup secara global keumuman fadilah surat Al-Baqarah sehingga hadis daif hanya sebagai gambaran maupun tambahan informasi yang telah tercantum pada hadis sahih/hasan.
Garis besar keutaaman yang bisa kita pedomani adalah; setan lari dari rumah yang didalamnya dibacakan surat Al-Baqarah, mendapat keberkahan, perlindungan dan syafaat di hari kiamat digambarkan sebagai lelaki pucat, awan, burung atau naungan besar serta pembaca maupun orang tuanya mendapatkan kehormatan.
[1] HR. Ad-Darimi no. 3433
[2] HR. Ad-Darimi no. 3420
[3] HR. Ad-Darimi no. 3421
[4] HR. At-Tirmidzi no. 2876
[5] HR. Al-Bukhori no. 5027
[6] HR. At-Tirmidzi no. 2878
[7] HR. Ad-Darimi no. 3418, 3422 dan 3437
[8] HR. Ad-Darimi no. 3436
Ditulis Oleh: Fahmi Izuddin, S.Ag
Artikel: HamalatulQuran.Com








