Home Artikel Meraih Dunia

Meraih Dunia

145
0

Allah menciptakan manusia hidup di dunia, banyak manusia hidupnya untuk meraih dunia melalaikan tujuan diciptakannya manusia itu sendiri, kejar duniawi sampai lupa waktu, dan keluarga. Padahal dunia ini jika dipandang dari kaca mata syareat agama islam dia hanya sekedar tempat singgah semata, tidak akan pernah kekal abadi hidup diatasnya.

Hadits Nabi mengungkap hakikat dunia ini, dengan tiga hal bisa meraihnya

 قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا. رواه البخاري في “الأدب المفرد”  والترمذي وقال: حسن غريب

Dari sahabat Salamah bin Ubaidillah bin Mihshon al Khuthomi, dari bapaknya berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: (artinya) barang siapa yang menemui pagi hari dalam keadaan aman di rumahnya, sehat badannya, dan dia mempunyai makan pokok di hari itu, maka (keadaan seperti itu) seakan-akan dia telah mendapat dunia”. (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, Tirmidzi beliau mengatakan hadits ini hasan dan gharib)

Tiga hal tersebut adalah :

  1. Keamanan
  2. Kesehatan
  3. Adanya bahan makan

Jika tiga hal di atas dimiliki seseorang, maka seakan-akan dia sudah menggenggam dunia ini secara keseluruhan.

Hadits di atas membuka mata hati kita bahwa rizki dari Allah bukan hanya berupa harta uang dan benda semata, tetapi lebih daripada itu; rasa aman, kesehatan, bisa makan minum  termasuk rizki dari Allah. Rizki dan nikmat Allah sangatlah banyak tak terhitung dan tak terbilang.

 وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَاۤۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورࣱ رَّحِیمࣱ

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (QS. An-Nahl: 18)

Dan jika kita renungkan dari dalam hati, bahwa kebutuhan di dalam kehidupan manusia di dunia ini porosnya adalah tiga hal yang ada dalam hadits tersebut di atas. Hanya dengan tiga hal read: rasa aman, sehat dan bisa makan di hari itu, dia sudah seakan-akan memiliki dunia seisinya dikarenakan kebutuhan untuk sekedar hidup hanya bertungku diatasnya.

Sebagai seorang mukmin yang menjadikan dunia ini sebagai jembatan, hendaknya dalam menjalankan kehidupan ini tidak mementingkan kehidupan sekarang tetapi mementingkan kehidupan besok di akherat, karena akherat itulah kehidupan yang hakiki. Semua aktivitasnya diniatkan untuk mencari akherat, ketika bekerja mencari ma’isyah maka diniatkan untuk Allah bukan untuk sekedar kehidupan dia duniawi semata.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalanNya yg lurus… Aamiin

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here