Home Artikel Khutbah Jumat: Menjaga Pandangan dan Aurat di Era Digital

Khutbah Jumat: Menjaga Pandangan dan Aurat di Era Digital

100
0
campaign psb PPHQ 26-27

Khutbah Pertama

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

أَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا، أَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ،

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa memperbanyak memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah melimpahkan kepada kita nikmat Iman dan Islam, nikmat kesehatan, dan nikmat kesempatan untuk berkumpul di masjid yang mulia ini guna menunaikan shalat Jumat. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang telah membawa kita dari kegelapan jahiliyah kepada cahaya iman, termasuk di dalamnya memberikan petunjuk tentang bagaimana menjaga diri dari berbagai fitnah yang merusak.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Kita hidup di era yang disebut oleh para ahli sebagai era digital . Sebuah zaman di mana dunia berada di dalam genggaman tangan. Informasi mengalir deras tanpa henti, sosial media menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas harian, dan pintu-pintu hiburan terbuka lebar dengan satu ketukan jari. Kemudahan ini adalah bagian dari nikmat, namun di balik kemudahan tersebut, tersimpan bahaya yang sangat besar, terutama bagi kehormatan mata (pandangan) dan kehormatan tubuh (aurat).

Mari kita duduk dengan tenang, dan renungkan bersama betapa pentingnya menjaga dua perkara fundamental ini: Hifz al-Basar (Menjaga Pandangan) dan Hifz al-Aurat (Menjaga Aurat), yang kedua-duanya sedang diuji dengan sangat berat di tengah gempuran teknologi yang serba canggih ini.

donatur-tetap

Ma’asyiral Muslimin,

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan mata manusia sebagai anugerah yang luar biasa. Melalui indera ini, kita bisa melihat indahnya ciptaan Allah, membaca Al-Qur’an, dan mengenali jalan kebenaran. Namun, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengingatkan kita bahwa pandangan mata adalah salah satu peluru syaitan yang paling berbahaya.

Dalam hadits yang sangat masyhur, Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَا تَتْبَعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّمَا لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَ لَكَ الْآخِرَةُ”

Artinya: “Janganlah kamu mengikuti pandangan yang pertama (pandangan haram yang tidak disengaja) dengan pandangan yang kedua. Karena bagimu yang pertama (diampuni), sedangkan yang kedua tidak (diampuni).” (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i).

Dalam riwayat lain disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدَّاً وَلَا يَتَجَاوَزُهُ، فَالزِّنَا بِالْعَيْنِ النَّظَرُ، وَالزِّنَا بِالْأَلْسِنَةِ الْمُنْطِقُ، وَالزِّنَا بِالْأُذُنَيْنِ السَّمَعُ، وَالزِّنَا بِالْيَدَيْنِ اللَّمْسُ، وَالزِّنَا بِالْقَدَمَيْنِ الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ”

Artinya: “Telah dituliskan bagi anak Adam bagian dari zina yang akan menimpanya. Zina mata adalah dengan pandangan, zina lisan adalah dengan bicara, zina telinga adalah dengan mendengar, zina tangan adalah dengan menyentuh, zina kaki adalah dengan berjalan (mendekati), dan hati berhasrat dan berangan-angan, sedang kemaluan yang membenarkan atau mendustakan semua itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadirin yang semoga senantiasa Allah rahmati,

Di era digital, bahaya pandangan ini menjadi sedemikian rupa, melebihi bayangan kita pada zaman-zaman sebelumnya. Jika dahulu untuk melihat sesuatu yang haram, seseorang harus pergi ke tempat tertentu atau menunggu momen tertentu, maka kini keharaman itu berada di dalam saku baju kita, siap muncul kapan saja ketika kita membuka gawai.

Bukankah ini ujian yang berat? Ketika kita sedang duduk di masjid menunggu adzan, atau bahkan dalam perjalanan menuju masjid, gawai berdering, notifikasi media sosial berbunyi, dan tanpa sadar pandangan kita terarah pada gambar atau video yang mengandung unsur aurat atau kemaksiatan.

Para ulama telah mensifati pandangan mata ini sebagai ‘anak panah’ syaitan. Syaitan tidak akan pernah berhenti berusaha menjerumuskan anak cucu Adam ke dalam neraka melalui indera penglihatan. Syaitan memulai dengan pandangan pertama yang enteng, namun berujung pada kehancuran rumah tangga dan kemerosotan iman.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ”. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا، قَالَ: “إِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا أَنْ تَجْلِسُوا، فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ”. قَالُوا: وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ؟ قَالَ: “غَضُّ الْبَصَرِ، وَرَدُّ السَّلَامِ، وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ، وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ”

Artinya: “Jauhilah kalian duduk-duduk di pinggir jalan.” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah tempat duduk kami itu adalah tempat kami duduk untuk berbincang?” Beliau menjawab: “Jika kalian terpaksa harus duduk di pinggir jalan, maka berilah hak jalan tersebut.” Mereka bertanya: “Apakah hak jalan itu?” Beliau menjawab: “Menundukkan pandangan, menjawab salam, menyuruh yang makruf, dan mencegah yang mungkar.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Betapa pentingnya Ghoddu Bashar (Menundukkan Pandangan). Dalam konteks digital, ini berarti kita harus memiliki filter batin dan teknis. Filter batin adalah ketakwaan, sedangkan filter teknis adalah memanage aplikasi, akun media sosial, dan lingkungan pergaulan digital kita.

Selain menjaga pandangan, menjaga aurat adalah kewajiban yang tidak kalah gentingnya. Di era digital, aurat tidak lagi hanya soal celana panjang atau jilbab menutup dada, tapi juga soal apa yang kita tayangkan di layar kaca. Apakah yang kita unggah di media sosial telah memenuhi syariat?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ…

Artinya: “Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, agar mereka menjaga pandangan mereka, dan menjaga kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hempaskanlah khimar (penutup kepala) mereka ke atas dada mereka…” (QS. An-Nur: 31)

Dalam tafsir para ulama, “menampakkan perhiasan” ini mencakup segala bentuk keindahan yang sengaja ditampilkan untuk umum. Di era digital, ini menjadi pertanyaan krusial: Berapa banyak wanita Muslimah yang memposting foto-foto yang memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya, atau bahkan berpose dengan pakaian yang tipis dan ketat, yang seharusnya tidak dilihat oleh selain mahramnya?

Tidak hanya wanita, laki-laki pun demikian. Laki-laki juga memiliki aurat yang harus dijaga. Tidak pantas seorang laki-laki memposting foto auratnya atau melakukan live streaming yang tidak mencerminkan adab seorang Muslim.

Di era digital, istilah “pamer” menjadi viral. Banyak orang berlomba-lomba mencari perhatian (validation) dengan menampilkan aurat atau keindahan tubuh. Inilah yang disebut sebagai tabarruj (menampakkan kecantikan/aurat) yang sangat dilarang dalam syariat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْيَابِ الشَّيَاطِينِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُؤُوسُهُنَّ كَأَمْثَالِ أَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا”

Artinya: “Dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat: 1) Kaum yang membawa cambuk seperti ekor syaitan untuk memukul manusia, dan 2) Wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang (memakai pakaian tipis/terbuka), yang berjalan dengan lenggokan, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak yang sangat jauh.” (HR. Muslim).

Perhatikan sabda beliau “berpakaian tetapi telanjang”. Ini sangat relevan dengan gadget. Banyak wanita di media sosial memakai pakaian, namun tipis atau ketat, atau memotong gambar sehingga aurat terlihat. Kita, para lelaki, diwajibkan untuk memejamkan mata kita dari melihat hal seperti ini. Tapi, bagaimana dengan para wanita yang mempostingnya? Mereka akan mendapatkan dosa yang berat, sebagaimana dosa orang yang menampakkan auratnya tersebut.

Kita harus paham, bahwasanya menyebarluaskan aurat di media sosial sama halnya dengan mendistribusikan kemaksiatan kepada jutaan mata yang melihatnya. Mereka yang memposting aurat akan mendapatkan dosa, dan setiap orang yang melihatnya pun berpotensi berdosa kecuali dia menundukkan pandangannya.

Ma’asyiral Muslimin, kita tidak bisa menolak kemajuan zaman. Teknologi internet adalah sarana. Sarana bisa digunakan untuk kebaikan (dakwah, ilmu, silaturahmi) atau untuk keburukan (maksiat, pornografi, gosip).

Bagaimana kita menjaga pandangan dan aurat di era digital?

Memperbanyak Ilmu (Literasi Digital): Kita wajib mempelajari apa yang boleh dan tidak boleh di dunia maya. Ulama kontemporer telah banyak membahas masalah ini. Hukum-hukum syariat yang berlaku di dunia nyata berlaku pula di dunia maya.
Muroqabah (Merasa Diawasi Allah): Kunci utamanya adalah selalu merasa bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat apa yang kita lihat, apa yang kita tulis, dan apa yang kita tayangkan. Sebagaimana firman Allah:

وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَظِيمٌ * لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Artinya: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah kitab yang agung. Yang batil tidak datang kepadanya dari hadapan dan tidak pula dari belakangnya, sebagai wahyu dari Yang Maha Bijaksana, Maha Terpuji.” (QS. Fussilat: 41-42).

Bergaul dengan Orang Shalih, Pergaulan digital juga menentukan. Jika lingkungan pertemanan di media sosial hanya berisi konten hiburan kosong dan aurat, maka hati akan keras dan gelap.

Gantilah dengan mengikuti akun-akun yang mendidik, ulama, dan aktivis kebaikan.

Bertaubat: Bagi yang telah terlanjur terjerumus, jalan taubat terbuka lebar. Allah Maha Pengampun. Taubat yang sebenar-benarnya adalah meninggalkan perbuatan tersebut, menyesalinya, dan berazam tidak akan kembali melakukannya.

Ingatlah wahai saudaraku, kematian bisa datang tanpa diundang, dan saat itu kita akan mempertanggungjawabkan setiap sudut pandangan mata dan aurat yang kita tampilkan. Jangan sampai kita mati dalam keadaan terjerumus dalam dosa zina mata dan aurat ini.

Semoga Allah memberikan kita kemampuan untuk menjaga diri, pandangan, dan aurat kita, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah Kedua

أَلْحَمْدُ لِلهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ ! اتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَاجْتَنِبُوْا فِيْمَا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ نَفْسَهُ، وَثَنَّاهُ بِمَلَائِكَتِهِ، وَحَمَّلَهُ بِرَحْمَتِهِ، وَاسْتَحَبَّهُ بِكَرَمِهِ، وَجَعَلَهُ ذِكْرًا لِعِبَادِهِ، وَبَشِّرِ الْمُسْلِمِيْنَ

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here