Sering kali kita merasa bahwa hidup ini masih sangat panjang. Rencana-rencana besar kita susun, namun kerap kali sirna oleh kematian yang mengejar dan mendahului. Jika kita menilik kembali pada Al-Qur’an dan Hadits, kita akan tersadar bahwa dunia ini tak lebih dari sekadar perhentian sejenak. Hal ini mengingatkan agar kita lebih bijak memanfaatkan waktu dan menyusun skala prioritas beramal dalam hidup.
Realita Umur Manusia: 60 Sampai 70 Tahun
Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan gambaran nyata mengenai rata-rata usia umat beliau. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
“Umur umatku antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, dan sedikit sekali dari mereka yang melampaui itu.” (HR. Tirmidzi no. 3550 dan Ibnu Majah no. 4236)
Angka ini sangatlah singkat jika dibandingkan dengan fase perjalanan kita selanjutnya. Bayangkan, setelah masa yang pendek ini, kita akan memasuki alam Barzah yang bisa memakan waktu ratusan bahkan ribuan tahun hingga kiamat tiba. Belum lagi dahsyatnya hari kiamat itu sendiri, ditambah Allah menjelaskan perbedaan sangat jauh antara waktu di dunia dan di akhirat.
كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“… yang kadarnya (satu hari) adalah lima puluh ribu tahun.” (QS. Al-Ma’arij ayat 4)
Maka, sungguh sangat merugi jika kita menghabiskan seluruh energi hanya untuk masa yang 60–70 tahun, namun melalaikan masa yang abadi dan tak berujung kelak di akhirat.
Dunia Hanyalah Tempat Berteduh Sejenak
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling memahami hakikat kehidupan. Beliau memandang dunia bukan sebagai tujuan, melainkan sekadar sarana. Suatu ketika, beliau tidur di atas sebuah tikar kasar yang meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Melihat hal itu, para sahabat merasa iba dan menawarkan untuk membuatkan kasur yang lebih empuk. Namun, jawaban beliau menjadi pengingat berharga bagi kita semua. Beliau bersabda:
مَا لِيْ وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا وَالدُّنْيَا؟! إِنَّمَا مَثَلِيْ وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رَاكِبٍ ظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Apalah artinya dunia ini bagiku? Apa urusanku dengan dunia? Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia ini adalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, ia istirahat sejenak kemudian meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah)
Hakikat Dunia dalam Pandangan Nabi:
- Status Kita sebagai ‘Rakib’ (Pengendara): Rasulullah ﷺ menggunakan diksi rakib untuk menegaskan bahwa kita hanyalah pengembara yang sedang melintas. Seorang musafir yang cerdas tidak akan menghabiskan waktu dan tenaganya untuk membangun rumah yang besar dan mewah di tempat persinggahan sementara.
- Dunia sebagai Tempat Berteduh: Pohon hanya memberikan perlindungan sementara dari terik matahari. Begitu pula dunia; ia hanya sarana untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan panjang menuju akhirat.
Metode Al-Qur’an dalam Menjelaskan Hakikat Dunia
Meskipun kita tahu dunia itu singkat, manusia sering kali terlena oleh harta, kekayaan, kesenangan, kesehatan, dan jabatan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala menggunakan beberapa metode dalam Al-Qur’an untuk menegaskan hakikat dunia:
- Penamaan “Dunia” (الدنيا)
Secara bahasa, dunia mengandung makna kerendahan (الداني)dan kedekatan الدنو)
Ibnu Faris menjelaskan dalam kitab monumental beliau, Mu’jam Maqoyis Al-Lughah:
(دَوَنَ) الدَّالُ وَالْوَاوُ وَالنُّونُ أَصْلٌ وَاحِدٌ يَدُلُّ عَلَى الْمُدَانَاةِ وَالْمُقَارَبَةِ
“(Dawana): Huruf Dal, Wawu, dan Nun adalah satu asal (akar kata) yang menunjukkan makna al-mudanah (kedekatan) dan al-muqarobah (hampir/dekat).”
Para ulama menjelaskan tentang penamaan dunia:
إنما سميت الدنيا دنيا لأنها أدنى من كل شئ، وسميت الآخرة آخرة لأن فيها الجزاء والثواب
“Sesungguhnya dunia dinamakan dunia karena ia lebih rendah daripada segala sesuatu, dan akhirat dinamakan akhirat karena di sanalah terdapat balasan dan pahala.”
Hal ini menunjukkan bahwa dunia dinamakan demikian karena waktu berakhirnya yang sangat dekat dan derajatnya yang rendah (hina) jika dibandingkan dengan akhirat yang mulia dan abadi.
- Dunia adalah Mata’ (متاع)
Allah mensifati dunia sebagai mata’, yakni sesuatu yang digunakan untuk bersenang-senang sementara kemudian akan habis atau berakhir. Ibnu Manzur (711 H), pakar bahasa Arab, menjelaskan dalam Lisan Al-Arab:
والمَتاعُ: كُلُّ ما انْتُفِعَ بِهِ إِلى حِينٍ
“Dan Al-Mata’ adalah segala sesuatu yang dimanfaatkan hingga waktu tertentu.”
Allah Ta’ala menjelaskan hal ini dalam firman-Nya :
وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ
“…Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (mata’) di bumi sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Al-A’raf: 24)
Serta dalam ayat lain :
فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
“… Padahal kesenangan kehidupan dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (QS. At-Taubah: 38)
- Dunia Bagaikan Bunga yang Cepat Layu (Zahrah)
Dalam menjelaskan hakikat perhiasan dunia, Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih diksi yang sarat akan peringatan
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 131)
Penggunaan kata “Zahrah” (زَهْرَةَ) mengandung rahasia balaghah:
- Indah namun Rapuh: Bunga adalah simbol keindahan sempurna namun tidak kekal. Memikat mata, namun cepat layu dan rontok. Begitulah harta, jabatan, dan kesenangan.
- Sebagai Ujian (Fitnah): Allah menyambung sebutan bunga dengan kalimat linaftinahum fiihi (untuk Kami uji mereka). Dunia hanyalah persinggahan yang penuh cobaan dan ujian, bukan tempat tinggal abadi.
- Dunia Hanyalah Permainan dan Senda Gurau (Al-Lahwu wa Al-La’ib)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan
وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌ ۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
“Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64)
- Makna Al-Lahwu (Senda Gurau) Senda gurau adalah segala sesuatu yang memalingkan manusia dari urusan yang lebih penting.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan:
تَلْهُو بِهَا الْقُلُوْبُ، وَتَلْعَبُ بِهَا الْأَبْدَانُ
“Hati lalai karenanya, dan fisik bermain-main dengannya.”
- Makna Al-La’ib (Permainan): Kelelahan yang Sia-sia Imam Al-Qurthubi menyebutkan dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an: اللعب : ليس له حقيقة ولا ثبت “Permainan itu tidak memiliki hakikat (kebenaran yang hakiki) dan tidak memiliki ketetapan (sifatnya labil/tidak kekal).”
Dunia diibaratkan permainan anak-anak yang melelahkan fisik namun akan berakhir begitu saja ketika malam tiba. Demikian pula kesibukan manusia mengejar harta dan jabatan; semuanya akan terhenti saat maut menjemput.
- Urutan Fase Hidup dalam Surah Al-Hadid
Allah merinci fase ketertarikan manusia pada dunia
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, bermegah-megah antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyak harta dan anak…” (QS. Al-Hadid: 20)
Ibnu Asyur dalam tafsirnya At-Tahrir wa at-Tanwir menjelaskan urutan psikologis manusia seiring bertambahnya usia dalam memandang dunia:
- Permainan (La’ibun): Fase anak-anak. Fokus utama mereka hanyalah bermain secara fisik tanpa tujuan yang jauh ke depan.
- Senda Gurau (Lahwun): Fase remaja. Mereka mulai menyukai hal-hal yang menghibur, obrolan kosong, dan aktivitas yang melalaikan hati dari tanggung jawab.
- Perhiasan (Zinatun): Fase pemuda/dewasa. Pada usia ini, manusia sangat memperhatikan penampilan, pakaian, kendaraan, dan segala sesuatu yang memperindah citra diri di mata manusia.
- Bermegah-megah (Tafakhur): Fase paruh baya. Manusia mulai bangga dengan kedudukan, jabatan, nasab, dan status sosial dalam persaingan dengan sesamanya.
- Berlomba dalam Harta dan Anak (Takatsur): Fase orang tua. Di usia senja, orientasi manusia sering kali beralih pada upaya menumpuk aset dan membanggakan kesuksesan anak keturunannya sebagai bentuk simbol kesuksesan.
- Perumpamaan Hujan dan Tanaman
Allah memberikan analogi visual yang jelas tentang siklus kehidupan dunia bahwa semua yang hidup lambat laun akan sirna, sebagaimana dalam lanjutan Surah Al-Hadid: 20:
كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا
“…seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.” (QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini menggambarkan betapa cepatnya perubahan kondisi manusia:
- Air Hujan & Tanaman Hijau: Menggambarkan masa muda yang sehat, kuat, penuh energi, senantiasa diliputi kekayaan dan kejayaan yang tampak “hijau” memukau.
- Menjadi Kuning & Kering: Menggambarkan masa tua. Kekuatan fisik pudar, kesehatan menurun, dan kemegahan mulai ditinggalkan.
- Menjadi Hancur (Huthaman): Menggambarkan kematian. Manusia akan mati dan jasadnya hancur kembali menyatu dengan tanah.
Hal ini mengingatkan kita tentang singkatnya hidup. Namun, singkatnya hidup bukan berarti kita harus meninggalkan dunia secara total, melainkan kita harus menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Gunakanlah waktu yang singkat ini untuk mencari bekal amalan sebanyak-banyaknya dengan membuat skala prioritas: dimulai dari melaksanakan amalan yang wajib, amal jariyah, amalan sunnah lainnya, serta menghindari perilaku zalim kepada orang lain.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kita taufik agar tidak tertipu oleh gemerlap dunia yang semu, dan menjadikan akhirat sebagai muara dari segala ikhtiar kita.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Ditulis Oleh: Azza Saifa, Lc








