Hakikat Kedudukan Hamba adalah: Makhluk yang Lemah dan Butuh kepada Allah
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah, dan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fāṭir: 15)
Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Allah mengabarkan bahwa seluruh makhluk membutuhkan-Nya dalam segala keadaan, sedangkan Dia tidak membutuhkan mereka sedikit pun.”
Kedudukan hamba pada asalnya adalah fakir, lemah, dan bergantung penuh kepada Allah.
Kedudukan Paling Mulia Adalah Ketika Seseorang mendapat gelar Hamba (‘Abd)
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam …” (QS. Al-Isrā’: 1)
Allah menyebut Nabi ﷺ dengan gelar ‘abd (hamba) pada saat kedudukan beliau paling mulia (Isra’ Mi’raj).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata:
أشرف المقامات مقام العبودية
“Kedudukan yang paling mulia adalah kedudukan sebagai hamba (Allah).” (Majmū‘ al-Fatāwā)
Semakin sempurna kehambaan seseorang, semakin tinggi kedudukannya di sisi Allah.
Agar bisa menjadi HAMBA seseoang harus mengakui kedudukannya sebagai makhluk yang Allah ciptakan, mengakui bahwa seluruh yang dia miliki Adalah anugrah pemberian Allah ta’aala dan Allah lah yang mengatur segala sesuatu untuknya diatas muka bumi ini.
Dan beribadah kepada Allah ta’aala dengan keikhlasan dan beriman terhadap seluruh nama-nama Allah dan sifat-sifatnyaNYA yang mulia.
Sebaliknya Kedudukan Terburuk Hamba: Ketika melakukan kesyirikan kepada Allah ta’aala.
Syirik adalah menyekutukan Allah dalam rubûbiyah, ulûhiyah, atau asma’ wa shifât-Nya, baik dalam bentuk keyakinan, ucapan, maupun perbuatan.
Kesyirikan merupakan pengkhianatan terbesar dalam kehidupan seseorang, yaitu keika dia berkhianat kepada Rabb yang telah menciptakannya, dan dia memilih sesembahan selain Allah ta’aala.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.” (QS. An-Nisā’: 48)
Beberapa Contoh Kesyirikan Moderen :
- Percaya Jimat, Azimat, dan Benda Bertuah
Contoh modern:
Memakai gelang kesehatan “anti bala”
Menyimpan batu akik, besi kuning, rajah digital
Stiker atau tulisan tertentu di HP atau kendaraan untuk penolak sial
- Kesyirikannya: Menggantungkan perlindungan kepada selain Allah.
مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
“Barang siapa menggantungkan jimat, maka ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad – shahih)
- Mendatangi Dukun, Paranormal, atau Peramal Online
Contoh modern:
Konsultasi “orang pintar” via WhatsApp
Ramalan nasib lewat aplikasi, TikTok, atau Instagram
Tarot, zodiac, weton digital
- Kesyirikannya: Mengklaim mengetahui perkara gaib.
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
“Tidak ada yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.” (QS. An-Naml: 65)
“Barang siapa mendatangi dukun lalu membenarkannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad)
- Tawakal kepada Makhluk atau Sistem, Bukan kepada Allah
Contoh modern:
“Tenang, saya sudah punya orang dalam”
“Uang dan koneksi segalanya”
Yakin penuh pada asuransi, jabatan, atau teknologi tanpa melibatkan Allah
- Kesyirikannya: Bergantung hati kepada selain Allah.
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakal jika beriman.” (QS. Al-Mā’idah: 23)
- Riya’ dan Pencitraan Ibadah (Syirik Kecil)
Contoh modern:
Sedekah, shalat, umrah demi konten
Ibadah agar dipuji followers atau jamaah
- Kesyirikannya: Menghadirkan selain Allah dalam tujuan ibadah.
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ
“Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil (riya’).” (HR. Ahmad)
- Fanatisme Berlebihan kepada Tokoh atau Ustadz
Contoh modern:
Meyakini ustadz tertentu tidak mungkin salah
Membela tokoh walau jelas bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah
Menolak dalil karena “guru saya tidak begitu”
- Kesyirikannya: Mengangkat makhluk setara dengan Allah dalam penetapan hukum.
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا
“Mereka menjadikan ulama dan rahib sebagai tuhan selain Allah.” (QS. At-Taubah: 31)
- Meminta kepada Orang Mati atau Wali
Contoh modern:
Berdoa di kuburan untuk rezeki, jodoh, jabatan
Menganggap wali bisa mengabulkan doa
- Kesyirikannya: Ibadah doa dipalingkan kepada selain Allah.
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
“Janganlah kamu berdoa kepada siapa pun selain Allah.” (QS. Al-Jinn: 18)
- Menghalalkan yang Haram karena Tekanan Zaman
Contoh modern:
Menganggap riba halal demi “realistis”
Mengikuti aturan manusia walau melanggar hukum Allah
- Kesyirikannya: Menjadikan selain Allah sebagai penentu halal-haram.
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ
“Apakah mereka punya sekutu yang menetapkan agama selain Allah?” (QS. Asy-Syūrā: 21)
Syirik modern sering tersembunyi, tampak rasional, bahkan dibungkus agama dan teknologi. Karena itu para ulama menekankan:
اعرف الحق تعرف أهله
“Kenalilah kebenaran, niscaya engkau mengenal siapa yang benar.”
Ditulis Oleh: Badruzzaman, Lc








