Saudaraku seiman yang semoga senantiasa Allah rahmati, perhatikanlah betapa agungnya Allah dalam menciptakan makhluk-Nya. Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Nabi Adam ‘Alaihissalam, Dia memerintahkan seluruh malaikat untuk bersujud hormat kepadanya. Namun, ada satu keistimewaan yang Allah berikan secara khusus kepada Nabi Adam, yaitu Allah “Mengajarkan kepada Adam Asma’ (nama-nama) semuanya” (Surah Al-Baqarah: 31).
Inilah modal utama yaitu: ilmu. Dalam Islam, tidak ada ibadah yang lebih agung selain menimba ilmu syar’i, khususnya ilmu Al-Qur’an. Di antara bentuk pengabdian tertinggi kepada Allah adalah menjadi Hafidzul Qur’an (penjaga Al-Qur’an).
Tapi, seringkali kita bertanya: mengapa harus bersaing? Bukankah Islam mengajarkan kompetisi? Benar. Islam memang mengajarkan kompetisi, namun bukan kompetisi harta, jabatan, atau hiasan duniawi. Melainkan kompetisi dalam kebaikan (fastabiqul khairat).
Allah berfirman:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Maka berlomba-lombalah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan.” (QS. Al-Ma’idah: 48)
Di antara lomba kebaikan yang paling utama adalah berlomba menghafal, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an. Mengapa dikatakan sebagai ibadah terbaik? Mari kita bedah satu per satu dengan hujjah dan dalil yang shahih.
1. Al-Qur’an: Cahaya yang Tak Pernah Padam
Untuk memahami mengapa menghafal Al-Qur’an adalah ibadah terbaik, kita harus terlebih dahulu memahami martabat Al-Qur’an di sisi Allah.
Al-Qur’an bukanlah buku biasa. Ia adalah Kalamullah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda tentang keutamaan Al-Qur’an:
إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا: مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ
“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga (khusus) dari kalangan manusia.” Para sahabat bertanya, “Siapa mereka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Mereka adalah Ahlul Qur’an (para penghafal Al-Qur’an), mereka adalah keluarga Allah dan kaum-Nya yang khusus.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani).
Bayangkan! Dikatakan “Ahlul Qur’an” (Kelurga Allah). Ini adalah taqarrub (pendekatan diri) yang luar biasa. Rasulullah bersabda dalam hadits Qudsi yang menerangkan apa yang Allah firmankan:
وَمَا تَعَرَّضَ لِعِبَادَتِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنَ الْقُرْآنِ
“Dan tidaklah seseorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya (sholat), dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal sunnah hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari).
Di dalam hadits ini, Al-Qur’an disebutkan sebagai sarana mendekatkan diri yang paling utama setelah shalat fardhu.
2. Menghafal Al-Qur’an adalah Ibadah Badaniyah (Fisik) yang Menyeluruh
Menghafal Al-Qur’an bukan hanya ibadah hati dan lisan, tetapi juga melibatkan fisik. Mengapa ini istimewa?
Lisan: Terus menerus membaca ayat-ayat Allah.
Telinga: Memperhatikan bacaan sendiri atau guru.
Hati: Menghafal dan merenungkannya.
Allah berfirman menggambarkan orang-orang yang beriman dan beramal sholeh:
وَيَتْلُونَ آيَاتِهِ وَيَزَكُّونَهَا وَيُؤْمِنُونَ بِهِ
“Dan mereka membaca ayat-ayat-Nya dengan tartil (seksama), mensucikan jiwa mereka dengan Al-Qur’an, dan mereka beriman kepadanya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Dalam tafsiran para ulama, kata “yuzakkunahā” (mensucikannya) bermakna mereka memurnikan bacaan mereka dan mempraktikkan hukum-hukumnya.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُهَا
“Dikatakan kepada pemilik Al-Qur’an (penghafalnya): ‘Bacalah dan naiklah (derajatmu), dan tartilkanlah (baca dengan indah) sebagaimana engkau membaca di dunia. Karena sesungguhnya kedudukanmu di sisi Allah adalah pada ayat terakhir yang engkau baca.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani).
Sungguh, sebuah janji yang menggetarkan hati. Naiknya derajat di akhirat nanti disesuaikan dengan ayat terakhir yang dibaca. Bayangkan jika kita menghafal seluruh Al-Qur’an dan membacanya setiap malam, maka akhir bacaan kita pada suatu malam adalah surat Al-Ikhlas, dan pada malam berikutnya surat An-Nas, maka itulah kedudukan kita.
3. Kisah Para Sahabat: Cinta yang Tulus Kepada Al-Qur’an
Untuk memahami semangat ini, kita harus melihat contoh nyata dari generasi terbaik.
Kisah Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu: Sahabat ini adalah salah satu guru besar Al-Qur’an. Ketika beliau masih muda, ia berdoa kepada Allah, “Ya Allah, berikanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat.” Lalu, ia sering mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca Al-Qur’an. Ia pun mendekat dan mulai menghafalnya dengan sungguh-sungguh hingga menjadi mu’adzin pertama di sisi Nabi.
Ada kisah menarik ketika Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu menasehati putranya, Abdullah bin Umar, agar memperbanyak menghafal Al-Qur’an. Umar berkata: “Hai anakku, pelajarilah Al-Qur’an. Karena ia adalah kemuliaan bagimu di dunia dan akhirat.”
Kisah Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu: Anas menceritakan: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
مِنْ حَفِظَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَهْدِيَ مِائَةَ فَرَسٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Barangsiapa yang menghafal satu ayat dari Kitab Allah, maka itu lebih baik baginya daripada memberi sedekah seratus ekor kuda yang dijejakkan di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bayangkan! Satu ayat saja lebih baik daripada sedekah 100 ekor kuda. Apalagi jika satu Juz, atau 30 Juz penuh!
Para Tabiin pun mengikuti jejak ini. Sebutlah Sa’id bin Jubair, Al-Hajjaj bin Yusuf, Ath-Thauri, Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad. Mereka adalah para hafidz Qur’an yang mengorbankan tidur dan waktunya hanya untuk menghafal dan memahami Al-Qur’an.
4. Fungsi Menghafal: Obat dan Pelita Hati
Kita hidup di zaman yang penuh dengan godaan. Gadget, media sosial, dan hiburan malam menyita perhatian. Hati menjadi keras dan lupa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَوَ مَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا
“Apakah orang yang dahulunya mati lalu Kami hidupkan dia dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah manusia, serupa dengan orang yang keadaannya di dalam kegelapan yang dia tidak dapat keluar daripadanya?” (QS. Al-An’am: 122).
Cahaya yang dimaksudkan di sini oleh para ulama, di antaranya adalah Al-Qur’an. Ketika seseorang menghafal Al-Qur’an, maka Al-Qur’an akan menjadi cahaya baginya di dalam rumahnya, di jalanan, dan di kuburnya nanti.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْأُتْرُجَّةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ… وَمَثَلُ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلَا رِيحَ لَهَا
“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Utrujjah (jeruk/pokak), rasanya enak dan baunya harum… Sedangkan perumpamaan orang yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Tamr (kurma), rasanya enak tetapi tidak ada baunya…” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sungguh, kita tidak mau menjadi seperti kurma yang enak (mungkin baik secara fisik/ibadah umum) tetapi tidak memiliki aroma wangi Al-Qur’an. Menghafal adalah proses menjadikan hati ini beraroma harum.
5. Pahala Menghafal: Tidak Terputus Meski Tiada Amalan
Salah satu keistimewaan terbesar menghafal Al-Qur’an adalah pahalanya yang istiqomah (terus mengalir).
Bayangkan, seseorang shalat malam (Qiyamullail), pahalanya terputus ketika ia tidur. Orang berpuasa, pahalanya terputus ketika ia makan (di luar puasa wajib). Orang bersedekah, harta yang disedekahkan habis.
Tapi, pahala menghafal Al-Qur’an?
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
يُتْوَى بِالْقُرْآنِ وَأَهْلِهِ فِي قُبُورِهِمْ… فَيَقُولُ: أَنَا الْقُرْآنُ أَنَا الْفُرْقَانُ أَنَا الْمُنِيرُ أَنَا الشَّافِعِي الْيَوْمَ
“Al-Qur’an dan Ahlul Qur’an akan didatangkan ke dalam kubur-kubur mereka pada malam Jumat… Maka Al-Qur’an akan berkata: ‘Aku adalah Al-Qur’an, aku adalah Furqan (pembeda), aku adalah penerang. Aku yang akan menjadi pemberi syafa’at hari ini…” (HR. Al-Baihaqi, Ibnu Hibban).
Dan sabda beliau:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Maka, orang yang hafidzul Qur’an dan mengajarkannya di pesantren, masjid, atau kepada anak-anaknya, ia mendapat pahala terus menerus. Meskipun ia sedang tidur, sedang makan, atau sedang bekerja, muridnya yang membaca Al-Qur’an akan mengalirkan pahala kepadanya (sesuai dengan hadits tentang orang yang mati dan amalannya terputus kecuali tiga perkara, salah satunya ilmu yang bermanfaat).
6. Tantangan Saat Ini & Bagaimana Memulainya?
Di akhir zaman ini, musuh-musuh Allah berusaha keras mengalihkan perhatian generasi dari Al-Qur’an. Mereka membuat gadget yang canggih, game yang adiktif, dan tontonan yang melalaikan. Mereka tahu, bangsa yang kehilangan Al-Qur’an adalah bangsa yang lemah.
Oleh karena itu, Mari kita duduk di majelis-majelis ilmu. Jangan berbangga dengan hafalan dunia. Banggalah jika kita hafal satu surat pendek, lalu kita amalkan isinya.
Bagi yang belum bisa menghafal, mulailah dari hal yang kecil:
Niatkan karena Allah.
Pilih waktu yang mustajab, sepertiga malam terakhir atau setelah shalat Shubuh dan Ashar.
Tetapkan target harian, misalnya 5 ayat, lalu naikkan menjadi 1 halaman.
Ikuti kajian tafsir, agar hafalan tidak menjadi beban, tetapi menjadi pemahaman.
Ingatlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
يَنْزِلُ الْقُرْآنُ عَلَى أَهْلِهِ فِي قُبُورِهِمْ… يَأْتِيهِمْ آيَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ فَيَسْتَبْشِرُونَ بِهَا
“Al-Qur’an turun kepada Ahlul Qur’an di dalam kubur mereka… Maka datanglah kepada mereka satu ayat dari Al-Qur’an, lalu mereka bergembira karenanya…” (HR. Al-Baihaqi).
Saudaraku, tugas kita berat. Tapi pahala di baliknya sangat besar. Menghafal Al-Qur’an adalah ibadah terbaik karena ia meliputi segala sisi kehidupan: fisik, mental, spiritual, dan sosial. Ia adalah perisai dari api neraka, penolong di alam kubur, dan pemberi syafaat di hari pengadilan.
Jangan biarkan kesempatan berlalu. Jangan sampai nanti di akhirat, Al-Qur’an menjadi saksi yang menyalahkan kita karena kita telah meninggalkannya.
Marilah kita jadikan Al-Qur’an sebagai sahabat setia kita, di kala sunyi, di kala ramai, dan di kala sepi.







