Home Artikel Tidak Meremehkan Kebaikan

Tidak Meremehkan Kebaikan

477
0
campaign psb PPHQ 26-27

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda keapdaku:

 لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Jangan sekali-kali meremehkan perbuatan baik sedikitpun, walau hanya sekadar engkau menyambut saudaramu dengan wajah ceria.”
(Hr. Muslim, no. 2626)

Penjelasan Hadis

Perawi hadis ini adalah sahabat mulia Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu. Nama aslinya adalah Jundub bin Junadah ada pula yang mengatakan Jundub bin Janadah. Beliau termasuk sahabat yang dikenal zuhud dan banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang sahabat pada dasarnya berlaku untuk seluruh umatnya, kecuali bila ada qarinah (indikasi khusus) yang menunjukkan pembatasan hanya kepada sahabat tersebut. Dalam hadis ini, tidak ada qarinah khusus untuk Abu Dzar, sehingga perintah tersebut berlaku bagi seluruh umat Islam hingga hari kiamat.

donatur-tetap

Hadis ini mengajarkan agar seorang muslim tidak meremehkan kebaikan sekecil apapun, meskipun hanya berupa senyum atau wajah ceria ketika bertemu sesama. Hal ini karena kita tidak mengetahui amal mana yang paling diridai dan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Bisa jadi amal yang dianggap kecil justru menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kita.

Dalam sebuah riwayat dicerikatan bahwa ada seorang wanita tunasusila dari Bani Israil yang diampuni disanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Hal ini menunjukkan bahwa amal yang tampak remeh bisa menjadi sangat agung di sisi Allah ta’ala.

Akhlak Mulia

Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan:

حسن الخلق هو كف الأذى، وبذل الندى، وطلاقة الوجه

“Akhlak yang baik adalah; tidak mengganggu, suka menolong dan memiliki wajah yang berseri-seri”

Dari perkataan beliau kita ambil intisari, tahapan atau langkah seorang memiliki akhlak yang mulia. Langkah yang pertama adalah tidak usil, kedua suka menolong dan yang ketiga adalah memiliki wajah yang enak dipandang.

Tidak usil berarti menjaga lisan dan tangannya agar tidak mengganggu sesama manusia. Menjaga agar tidak mengganggu fisik, harta, kehormatan maupun yang lainnya.
Seorang yang sudah bisa menjaga lisan dan tangannya agar tidak mengganggu sesama belumlah dikatakan memiliki akhlak yang baik, sampai dia suka menolong orang lain. Menolong mereka yang membutuhkan, memberikan bantuan bahkan sebelum mereka meminta bantuan kepada kita.

Point terakhir adalah memiliki wajah yang berseri-seri, wajah yang enak dipandang. Hal ini bsia kita latih bukan malah menyalahkan keadaan dengan mengatakan ‘wajah saya memang seperti ini dari dulu’ bahkan nabi mengajarkan

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu dihadapan saudaramu adalah sedekah.”

Larangan zuhud terhadap Amal

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis ini melarang sikap zuhud terhadap amal kebaikan, yakni menganng remeh amal tertentu. Zuhud yang benar adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat, bukan menyepelekan kebaikan kecil. Karena pada hakikatnya seluruh amal baik memiliki nilai yang besar bila diniatkan ikhlas karena Allah.
Ibnul Mubarak berkata,

رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية

“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (pahalanya) karena sebab niat.”
Hendaklah kita berusaha semaksimal mungkin untuk mengerjakan amal-amal kebaikan, dengan diiringi dengan niat yang baik. Semoga dengan niat yang baik, Allah jadikan amalan yang dipandang remeh oleh banyak manusia, menjadi besar di sisi-Nya.

Hadis Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu di atas memberikan pelajaran penting bahwa seorang muslim tidak boleh meremehkan kebaikan apapun, sekalipun hanya berupa senyum atau wajah ceria ketika bertemu saudar aseimannya. Setiap amal memiliki potensi besar untuk menjadi sebab turunnya rahmat dan ampunan Allah.

Dengan demikian hadis ini mendorong kita untuk senantiasa memperbanyak amal kebaikan, baik yang besar maupun yang kecil, karena kita tidak tahu amal mana yang akan menjadi sebab keselamatan kita di akhirat.

Kedudukan Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang nama lengkapnya adalah Abu Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi (w. 261 H), salah seorang ulama besar hadis yang memiliki komitmen untuk mengumpulkan hadis-hadis sahih. Beliau kumpulkan hadis-hadis sahih tersebut dalam sebuah kitab berjudul shahih Muslim.

Ditulis Oleh: Fahmi Izuddin, S.Ag

Artikel: HamalatulQuran.Com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here