Surat Al-Baqarah merupakan surat kedua dalam susunan mushaf Al-Qur’an dan sekaligus menjadi surat terpanjang. Surat ini terdiri atas 286 ayat yang tersebar dalam tiga juz. Di dalamnya terdapat ayat terpanjang dalam Al-Qur’an, yaitu ayat 282, yang dalam mushaf standar mencapai sekitar 15 baris dan membahas hutang-piutang. Selain itu, Surat Al-Baqarah juga memuat ayat-ayat yang memiliki keutamaan khusus, di antaranya Ayat Kursi serta dua ayat terakhir, yang dikenal luas karena kandungan akidah, perlindungan, dan doa yang agung bagi kaum beriman.
Kajian hadis yang membahas keutamaan Surat Al-Baqarah menunjukkan keragaman tema sekaligus variasi kualitas periwayatan. Sejumlah keutamaan surat ini bersumber dari hadis-hadis sahih yang menjadi landasan utama dan kokoh dalam penetapan fadhilahnya. Di samping itu, terdapat pula riwayat dengan sanad yang tergolong baik dan para perawi yang tsiqah, namun disertai catatan ilmiah, seperti berstatus mauquf atau berupa atsar yang sanadnya tidak bersambung secara sempurna. Selain itu, dijumpai pula hadis-hadis daif yang mengulas keutamaan Surat Al-Baqarah, yang secara metodologis tidak dapat dijadikan hujah secara mandiri, melainkan sebagai penguat hadis-hadis sahih maupun hasan.
Keutamaan Al-Baqarah Berdasarkan Hadis Sahih atau Hasan
- Rumah dijauhi oleh Setan
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ ؛ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ “.
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim)[1]
Hadis Abu Hurairah diatas menjelaskan seorang yang membaca Al-Baqarah maka ruhamnya akan jauh dari setan. Selain menjelaskan keutamaan tersebut, nabi secara tersirat menegaskan bahwa rumah selaiknya tidak sunyi dari ibadah. Pemilik rumah haruslah menjadikan rumah juga sebagai tempat untuk beribadah didalamnya. Mengerjakan salat sunnah, membaca Al-Qur’an, kajian keluarga atau yang lainnya.
- Keberkahan, Syafaat dan Perlindungan
حَدَّثَنِي أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ” اقْرَءُوا الْقُرْآنَ ؛ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ، اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ : الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ ؛ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا. اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ ؛ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ “. قَالَ مُعَاوِيَةُ : بَلَغَنِي أَنَّ الْبَطَلَةَ : السَّحَرَةُ
Abu Umamah al-Bahili, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang memberi syafaat kepada para pembacanya pada hari Kiamat.
Bacalah az-Zahrawain, yaitu surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran, karena keduanya akan datang pada hari Kiamat seperti dua gumpalan awan, atau dua naungan besar, atau dua kelompok burung yang berbaris, membela pembacanya.
Bacalah Al-Baqarah, karena membacanya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan, dan para tukang sihir tidak mampu menghadapinya.”
Mu’awiyah berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa ‘al-Bathalah’ adalah para tukang sihir.” (HR. Muslim)[2]
Hadis diatas menegaskan secara eksplisit kedudukan Al-Qur’an sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk membaca Al-Qur’an, dengan penegasan bahwa interaksi aktif dengan Al-Qur’an di dunia akan berbuah pembelaan dan pertolongan di akhirat. Pernyataan ini menjadi fondasi teologis bagi pemahaman bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar ibadah ritual, melainkan investasi eskatologis yang berimplikasi langsung pada keselamatan akhirat.
Keutamaan tersebut dipertegas secara khusus melalui anjuran membaca az-Zahrawain yaitu surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran. Kedua surat ini digambarkan akan datang pada hari Kiamat dalam bentuk yang memberikan perlindungan nyata kepada pembacanya, seperti dua gumpalan awan, dua naungan besar, atau dua kelompok burung yang berbaris dan membentangkan sayap. Dalam riwayat Imam Muslim yang lain disebutkan bahwa pada hari kiamat akan didatangkan Al-Qur’an beserta parakar yang telah beramal dengannya. Surat yang pertama didatangkan adalah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran yang akan menjadi dua tumpuk awan tebal ditengah-tengahnya ada cahaya, atau seperti burung yang hendak membela pembacanya.[3]
Metafora ini menunjukkan fungsi protektif dan pembelaan aktif dari kedua surat tersebut, sekaligus menegaskan posisi istimewa Al-Baqarah dan Ali ‘Imran dibandingkan surat-surat lainnya.
- Pahala Bacaan Dikonkritkan sebagai Lelaki Pucat
حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ : كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : ” تَعَلَّمُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ ؛ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا يَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ “. ثُمَّ سَكَتَ سَاعَةً، ثُمَّ قَالَ : ” تَعَلَّمُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ وَآلِ عِمْرَانَ ؛ فَإِنَّهُمَا الزَّهْرَاوَانِ ، وَإِنَّهُمَا تُظِلَّانِ صَاحِبَهُمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ غَيَايَتَانِ ، أَوْ فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ ، وَإِنَّ الْقُرْآنَ يَلْقَى صَاحِبَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ كَالرَّجُلِ الشَّاحِبِ، فَيَقُولُ لَهُ : هَلْ تَعْرِفُنِي ؟ فَيَقُولُ : مَا أَعْرِفُكَ. فَيَقُولُ : أَنَا صَاحِبُكَ الْقُرْآنُ الَّذِي أَظْمَأْتُكَ فِي الْهَوَاجِرِ، وَأَسْهَرْتُ لَيْلَكَ، وَإِنَّ كُلَّ تَاجِرٍ مِنْ وَرَاءِ تِجَارَتِهِ، وَإِنَّكَ الْيَوْمَ مِنْ وَرَاءِ كُلِّ تِجَارَةٍ. فَيُعْطَى الْمُلْكَ بِيَمِينِهِ وَالْخُلْدَ بِشِمَالِهِ، وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ، وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَيْنِ لَا يُقَوَّمُ لَهُمَا الدُّنْيَا، فَيَقُولَانِ : بِمَ كُسِينَا هَذَا ؟ فَيُقَالُ لَهُمَا : بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ. ثُمَّ يُقَالُ لَهُ : اقْرَأْ وَاصْعَدْ فِي دَرَجِ الْجَنَّةِ وَغُرَفِهَا. فَهُوَ فِي صُعُودٍ مَا دَامَ يَقْرَأُ هَذًّا كَانَ أَوْ تَرْتِيلًا “
Abdullah bin Buraidah dari ayahnya ia berkata, Aku pernah duduk di sebelah Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam, aku mendengar beliau bersabda, “Pelajarilah surah Al-Baqarah sebab mempelajarinya adalah keberkahan dan meninggalkannya adalah kerugian. Para penyihir tidak mampu mengalahkannya.”
Kemudian beliau diam sesaat, lalu bersabda, “Pelajarilah surah Al-Baqarah dan surah Ali ‘Imran, sesungguhnya kedua surat itu dinamakan ‘az zahrawan’ dan kedua surat itu juga akan menaungi pembacanya pada hari kiamat. Seakan-akan kedua surat itu seperti dua buah awan atau dua benda yang biasa menaungi manusia atau dua kelompok burung yang membentangkan sayapnya.
Sesungguhnya Al-Qur’an akan menemui pembacanya pada hari kiamat ketika kubur terbelah seperti seorang laki-laki pucat karena takut. Ia berkata kepada pembacanya; Apakah engkau mengenalku? Ia menjawab, Aku tidak mengenalmu. Ia berkata, Aku adalah temanmu, Al-Qur’an, yang menghilangkan haus pada siang hari yang panas dan membuatmu begadang di malam hari.
Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapatkan laba dari perdagangannya. Sesungguhnya hari ini engkau mendapatkan pahala dari setiap perdagangan (yang telah engkau lakukan).
Lalu kerajaan diberikan di tangan kanan pembaca Al-Qur’an itu dan keabadian di tangan kirinya, serta diletakkan mahkota ketenangan di kepalanya. Sementara kedua orang tuanya diberi dua perhiasan yang tidak ternilai harganya di dunia. Kedua orang tuanya berkata, Karena apa kami diberi perhiasan ini? Dikatakan kepada keduanya; Karena anak kalian mempelajari Al-Qur’an.
Kemudian dikatakan kepadanya; Bacalah dan naiklah ke tangga-tangga surga dan kamar-kamarnya. Maka ia pun terus naik selama ia membaca, baik secara cepat maupun secara lambat.” (HR. Ad-Darmi)[4]
Hadis riwayat Ad-Darimi tersebut tidak hanya menyebutkan keutamaan surat Al-Baqarah sebagai keberkahan, perlindungan dari sihir serta syafaat kelak di hari kimamat. Nabi menvisualkan syafaat tersebut tidak hanya seperti awan, burung namun juga beliau jelaskan menjadi seperti lelaki yang akan menemani pembacanya di hari kiamat.
Kemudian disebutkan pula keutamaan membaca dan mengamalkan Al-Quran secara global bahwa akan diberikan kepada pembacanya mahkota begitu pula kepada kedua orang tuanya. Serta derajat di surga akan naik sejauh bacaan yang dia miliki.
[1] HR. Muslim no. 780, At-Tirmidzi no. 2877 dan Ahmad
[2] HR. Muslim no. 804, At-Tirmidzi no. 2883 dan Ahmad
[3] HR. Muslim no. 805
[4] HR. Ad-Darimi no. 3434 dikatakan sanadnya hasan
Ditulis Oleh: Fahmi Izuddin, S.Ag
Artikel: HamalatulQuran.Com







