Home Artikel Sempurnanya Adab Menunjukkan Sempurnanya Iman

Sempurnanya Adab Menunjukkan Sempurnanya Iman

40
0
campaign psb PPHQ 26-27

Islam adalah agama yang tidak hanya menata hubungan manusia dengan Allah (ibadah), tetapi juga hubungan manusia dengan manusia (mu’amalah), bahkan hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Dalam syariat yang luas ini, adab (etika dan budi pekerti) memiliki kedudukan yang sangat agung. Para ulama menyebut adab sebagai mahkota iman, karena iman seseorang tidak akan sempurna kecuali ia menghiasi dirinya dengan adab yang mulia.

Sebaliknya siapa yang kehilangan adab, seakan dia kehilangan mahkota keimanannya, oleh karnanya kita akan membahas lebih dalam dengan izin Allah, tentang bagaimana kita seharusnya memandang kedudukan adab dalam kehidupan kita.

1. Panutan terbaik kita yang kita semua mengaku cinta kepadanya beliau Nabi ﷺ diakui oleh Allah memiliki akhlak yang paling agung

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sungguh, engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Ayat ini menjelaskan bahwa kesempurnaan risalah dibangun di atas kesempurnaan adab. Bila Rasulullah yang paling sempurna imannya memiliki akhlak paling sempurna, maka akhlak adalah indikator keimanan seseorang, maka kita hendaknya mengoreksi diri kita masing-masing, tentang bagaimana perilaku kita kepada sesama.

donatur-tetap

2. Kelembutan dan adab adalah tanda rahmat Allah kepada orang beriman

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau menjadi lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Kelembutan adalah sifat utama adab. Allah menyandarkan sifat ini sebagai rahmat—menunjukkan bahwa orang yang jauh dari adab jauh dari rahmat, dan orang yang dekat dengan adab dekat dengan rahmat.

Kemuliaan di hadapan Allah diukur dengan takwa, dan adab termasuk bagian dari takwa itu sendiri.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Takwa menurut tafsiran para ulama mencakup kesempurnaan amal, akhlak, dan adab. Karena itu, semakin tinggi takwa → semakin sempurna akhlak → semakin sempurna iman.

3. Hadits paling jelas: sempurnanya iman dilihat dari akhlaknya

الْمُؤْمِنُ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih)

Ini adalah dalil paling tegas bahwa indikator kesempurnaan iman bukan pada banyaknya ibadah lahiriah saja, tetapi pada kesempurnaan adab.

4. Diantara tujuan Nabi ﷺ datang adalah untuk menyempurnakan akhlak

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Misi risalah yang begitu besar ini menunjukkan bahwa akhlak dan adab adalah inti dari keimanan.

5. Orang yang paling dicintai Nabi adalah yang paling baik adabnya

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)

Jika Nabi mencintai orang yang beradab mulia, maka Allah pun mencintainya. Ini memperkuat bahwa adab mulia adalah puncak iman.

Perkataan Para Ulama tentang adab dan keimanan

  1. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

“الدِّينُ كُلُّهُ خُلُقٌ، فَمَنْ زَادَ عَلَيْكَ فِي الْخُلُقِ زَادَ عَلَيْكَ فِي الدِّينِ.”

“Agama itu seluruhnya adalah akhlak. Maka siapa yang lebih baik akhlaknya darimu, ia lebih baik agamanya darimu.”

Menurut beliau, agama tidak bisa berdiri tanpa adab. Orang yang paling sempurna adabnya adalah yang paling sempurna imannya.

  1. Imam Ibn Rajab Al-Hanbali

“وَلَا يَتِمُّ إِيمَانُ الْعَبْدِ حَتَّى يَحْسُنَ خُلُقُهُ.”

“Tidak akan sempurna iman seorang hamba sampai baik akhlaknya.” (Jami’ al-Ulum wal-Hikam)

Beliau menjelaskan bahwa adab adalah buah dari iman, dan iman yang benar pasti melahirkan akhlak mulia.

  1. Syaikh Abdurrahman As-Sa’di

“كمال الإيمان يكون بكمال الأخلاق والآداب”

“Kesempurnaan iman terwujud dengan kesempurnaan akhlak dan adab.”

  1. Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu

“تَأَدَّبُوا تَعْلُوا.”

“Beradablah kalian, niscaya kalian akan mulia.”

Mulia di sisi Allah dan manusia adalah hasil dari adab yang baik, yang berakar dari iman.

Mengapa Adab Menjadi Barometer Keimanan?

  1. Karena adab adalah buah dari keyakinan

Bila seseorang yakin Allah melihatnya, ia tidak akan berkata kasar, tidak akan sombong, tidak akan zalim, Iman yang benar akan melahirkan adab.

  1. Karena adab adalah cerminan isi hati, Hati yang penuh iman pasti lembut, penyabar, santun, tidak mudah marah. Bila hati rusak, adab akan rusak.
  2. Karena adab adalah bukti kejujuran iman, Banyak orang mengaku beriman, tetapi adabnya tidak menunjukkan demikian, karena itu Nabi mengatakan: “Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya.” Ini adalah adab sosial yang tinggi.
  3. Karena adab menghiasi seluruh ibadah, tanpa adab, ibadah tidak bernilai: Shalat tanpa kekhusyukan → kehilangan ruh

Ilmu tanpa adab → tidak bermanfaat

Dakwah tanpa adab → menjadi fitnah

Nikmat tanpa adab → menjadi siksa

Kesempurnaan iman tidak hanya diukur dengan banyaknya ibadah fisik, tetapi dengan kesempurnaan adab yang lahir dari hati yang penuh iman. Al-Qur’an, hadits, dan perkataan ulama semuanya sepakat bahwa adab adalah cermin dan indikasi tingginya iman seseorang.

Karena itu, para salaf sangat menekankan adab, hingga mereka berkata:

“Kami belajar adab selama 30 tahun, dan belajar ilmu selama 20 tahun.”

Adab adalah mahkota yang menghiasi seluruh amal dan menjadi tanda bahwa iman seseorang benar dan kokoh.

Ditulis Oleh: Badruzzaman, Lc

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here