Merendahkan suara di sisi Nabi ‘alaihis sholatu was salam adalah salah sstu bentuk rasa ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِندَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَىٰ ۚ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Hujurat: 3)
Imam ibnu Jarir At-Thabari menyatakan dalam tafsirnya: “Orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah ‘alaihis sholatu was salam, ialah orang-orang yang hatinya telah diuji oleh Allah, yang dipilih dan disucikan olehNya untuk bertakwa, yakni untuk bertakwa kepada-Nya dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, sebagaimana emas diuji dengan api, yang memurnikan kebaikan-kebaikannya dan menghilangkan noda-nodanya. (Tafsir At-Thobari)
Ketakwaan tidak akan diraih dalam hati seorang hamba, kecuali setelah mengalami cobaan dan ujian. Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan perintah, larangan, dan cobaan. Barangsiapa yang menaati perintah dan larangan, dan tetap tegar menghadapi ujian serta tidak gentar dan tidak melawan, maka mereka itu akan meraih ketaqwaan, bagi mereka ampunan dan pahala yang agung disebabkan amal sholeh yang menjadi buah ketakwaan mereka.
Orang-orang yang merendahkan suara di sisi Rasulullah ‘alaihis sholatu was salam, mereka adalah orang-orang yang hatinya di uji oleh Allah agar menjadi hati yang bertaqwa. Dan ini menjadi dalil bahwa hati seorang muslim akan di uji oleh Allah subhanahu wa ta’ala. As-Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata:
“Allah menguji hati-hati mereka untuk menjadi hati yang bertakwa, sehingga dengan ujian tersebut terlihat hasilnya, dengan pantasnya hati mereka menyandang ketakwaan, kemudian Allah menjanjikan bagi mereka ampunan untuk dosa-dosa mereka yang menjadikan hilangnya keburukan mereka, dan mendapat pahala yang besar dari Allah. Ayat ini menjadi dalil bahwa Allah menguji hati-hati dengan bentuk perintah, larangan dan ujian-ujian. Maka siapa yang senantiasa menunaikan perintah Allah dan mengikuti keridhoanNya dan senantiasa bersegera terhadap perkara tersebut serta senantiasa mendahulukannya dari hawa nafsunya, maka hatinya akan dibersihkan dan siap untuk menerima predikat takwa, dan siapa yang hatinya tidak demikian, maka dapat diketahui bahwa hatinya tidak layak untuk ketaqwaan”.
Hal ini menjadi bantahan bagi mereka yang tidak menjalankan syareat Islam dengan berdalih “yang penting hatinya bersih” sebagaimana ucapan wanita yang tidak mau memakai jilbab dengan mengucapkan “yang penting hatinya dijilbabin adapun kepala tidak mengapa untuk tidak dijilbabin” begitu pula mereka yang bermaksiat mengatakan “jangan melihat maksiatnya, joget-jogetnya, musiknya, karena yang penting hatinya bersih”. Jika hati mereka benar-benar beriman kepada Allah, maka seharusnya dia menaati perintahNya, karena itu menjadi konsekuensi dari keimanan dia kepada Allah. Jika mengaku bahwa dia beriman kepada Allah, namun tidak taat kepada perintahNya, ini membuktikan bahwa dia memang belum beriman kepada Allah. (kitab At-Taisir ust Dr. Firanda)
Sedangkan orang yang tidak merendahkan suara di sisi Rasulullah ‘alaihis sholatu was salam adalah mereka orang yang tidak beradab
إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِن وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ * وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّىٰ تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar untuk menemui mereka, sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Hujurat: 4-5)
Dalam ayat ini Allah mencela mereka yang memanggil-manggil Nabi ‘alaihis sholatu was salam dengan suara yang keras dari luar rumah beliau. Perbuatan mereka dikategorikan seperti orang yang tidak berakal dan tidak beradab, karena lazimnya orang yang berakal dia akan beradab, dan diantara bentuk adab seseorang dia akan merendahkan suaranya sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang diajak bicara. Syekh Abdurrohman As-Sa’di rohimahullah menyatakan:
“Allah mencela mereka dengan tidak memiliki akal, karena mereka tidak memahami perintah-perintah Allah untuk beradab dan menghormati Rasul-Nya, karena tanda berakal adalah beradab”. (Tafsir As-Sa’di)
Kalau seandainya mereka (orang-orang yang teriak dari luar rumah Nabi) punya akal, niscaya mereka tidak akan melakukan perbuatan yang buruk ini, yang menunjukkan ketidakberadabannya mereka kepada Rasulullah ‘alaihis sholatu was salam. (Tafsir maudhu’i Mahmud Tohmaz)
Semoga Allah menjadikan penulis dan pembaca menjadi hamba-hamba yang bertakwa dan berakhlak yang mulia.. Aamiiin
Ditulis Oleh: Muhammad Fatoni, B.A., M.A.








