Home Akidah Serial Akidah Islam #4: Sifat dan Keistimewaan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Serial Akidah Islam #4: Sifat dan Keistimewaan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

193
0

Pembaca hafidzokumullah, hidayah itu tidak hanya memeluk islam semata, melainkan ketika mengenal dengan sunah-sunah atau tatacara Nabi beragama itu juga termasuk hidayah yang besar baginya. Tidak sedikit hamba yang Allah beri hidayah memeluk Islam, tapi ternyata dalam beragama jauh dari petunjuknya Nabi sehingga dia belum di beri hidayah untuk menjalankan agamanya dengan sebaiknya.

Dalam rangka untuk mencari ilmu tentang bagaimana petunjuk Nabi dalam beragama, maka dalam pembahasan kali ini penulis akan mengulas beberapa sifat ahlus sunnah wal jama’ah dalam menjalankan agamanya, dengan harapan semoga bisa diamalkan di kehidupan hariannya. Sifat-sifat tersebut diantaranya sebagai berikut:

1. Mencukupkan diri dalam beragama dengan berdasarkan Al Quran dan sunah Nabi –‘alaihis sholatu was salam- serta pemahaman salaful ummah.

Mereka ahlus sunnah mendasarkan semua aspek agamanya baik aqidah, akhlak, mu’amalah, ibadah dll. ke Al-Quran dan as-sunnah serta pemahamn salaf saja. Setiap yang beriringan dengan Al-Quran maupun sunnah (nash) maka diterima dan setiap yang berseberangan dengannya maka ditolak apapun alasannya.

2. Perhatian dengan Al-Quran dan as-sunah dengan perhatian yang mendalam.

Ahlus sunnah mereka sangat memperhatikan Al-Quran dari bacaan, hafalan, penafsiran, pentadabburan dan pengamalannya. juga mereka sangat memperhatikan hadits dari periwayatan dan pembelajarannya.

3. Paling mengenal Nabi –shollallahu ‘alaihi wa sallam-.

Mereka mengenal petunjuknya, amal-amalnnya, hadits-haditsnya, dari sinilah maka mereka –ahlus sunnah- menjadi manusia yang paling cinta kepada Nabi dan paling mengikuti jejak dan petunjuknya.

4. Masuk ke dalam agama secara keseluruhan.Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

5. Selalu mengikuti petunjuk Nabi dan menjahui kebid’ahan.

Maka daei itu ahlus sunnah tidak akan mendahului Allah dan rosulNya dalam apapun itu.

6. Ahlus sunnah wal jama’ah mereka memuliakan dan mengagungkan tanpa berlebih-lebihan para salafus sholih.

Para salafus sholih adalah mereka orang-orang sholih yang hidup pada tiga abad yang paling baik, dan juga memuliakan orang-orang yang mengikuti salaf di abad setelah mereka hingga akhir zaman.

7. Menggabungkan antara dunia dan zuhud terhadapnya.

Tidak terlarang seseorang bekerja untuk kehidupan dunianya, dan berusaha mencari rizki yang banyak. Tetapi semua itu hanya di genggaman tangan tanpa dimasukkan ke dalam hati, dunia tidak menjadi tujuan pokok dan puncak pengetahuannya. Bersyukur jika Allah memberi yang lebih dan ridho dengan yang sedikit.

8. Mengabungkan antara ilmu dan amalan.

Berbeda dengan yang lainnya, mereka hanya beramal tanpa menghiraukan ilmunya dan ini menyerupai perbuatan orang-orang nashrani. Atau hanya sibuk dengan ilmu tapi tidak ada pengamalan, ini menyerupai perbuatan orang-orang yahudi. Maka Ahlus sunnah menggabungkan antara dua perkara yaitu ilmu dan amal.

9. Menggabungkan antara khouf (takut), roja’ (harapan) dan hub (cinta).

Ahlus sunnah menggabungkan antara tiga perkara itu semua. Allah mensifati hamba-hambaNya dari para Nabi dan Rasul:

اِنَّهُمْ كَانُوْا يُسٰرِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ وَيَدْعُوْنَنَا رَغَبًا وَّرَهَبًاۗ وَكَانُوْا لَنَا خٰشِعِيْنَ – ٩٠

“Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al anbiya: 90)

Dan Allah menyanjung hamba-hambaNya kaum mukminin:

تَتَجَافٰى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَّطَمَعًاۖ وَّمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ – ١٦

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As Sajadah: 16)

Sebagian dari salaf mengatakan:

“Barang siapa yang beribadah dengan cinta saja maka dia zindiq, barang siapa yang beribadah dengan rasa takut saja maka dia harury (nama lain dari firqoh khowarij), barang siapa yang beribadah dengan rasa harapan saja maka dia murjiah, dan barang siapa yang beribadah dengan rasa cinta, takut dan harapan maka dia mukmin bertauhid (nama lain ahlus sunnah).”

10. Meninggalkan permusuhan dalam agama dan menjahui orang-orang yang suka bermusuhan.

Karenana permusuhan menyebabkan perpecahan, fitnah besar dan menyeret ke mengikuti hawa nafsu dan fanatik jahiliyah sehingga bukan lagi termasuk Al-Haq (kebenaran) yang di ikuti, melainkan hawa nafsu atau pendapat madzhabnya yang di ikuti.

Berkata Imam Ja’far bin Muhammad –rohimahullah- :

“Berhati-hatilah dari permusuhan/pertengkaran, sungguh itu perkara yang menyibukkan hati dan menyeret ke kemunafikan.”

Demikian, semoga penulis dan pembaca di berikan hidayah untuk meniti jalannya ahlus sunnah wal jama’ah. Amiin.

Refrensi:

Kitab risalah fil aqidah, karya Syaikh Muhammad Al Hamd

***

Ditulis oleh: Muhammad Fathoni, Lc.(Alumni S1 Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Islam Madinah dan Pengajar di Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta)

Artikel: HamalatulQuran.Com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here