Home Artikel Alquran Menyelami Samudera Al Fatihah #3: Makna Ayat Pertama

Menyelami Samudera Al Fatihah #3: Makna Ayat Pertama

503
0

Para pembaca yang semoga Allah muliakan.

Mempelajari kandungan surat Al-Fatihah adalah hal yang sangat dianjurkan, supaya kita tahu apa saja isi kandungan surat yang senantiasa kita baca setiap kali kita menunaikan ibadah shalat; baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Membaca ayat demi ayat dengan mengetahui makna kandungannya akan lebih bermanfaat tentunya dari pada sekedar membaca tanpa mengetahui makna kandungan ayat yang dibaca.

Pada artikel kali ini, kami akan membahas dengan singkat tentang makna dari ayat-ayat surat Al-Fatihah.

الحمد لله رب العلمين

“Segala puji bagi Allah Robb semesta alam”.

Al-Hamdu (الحمد) adalah kata sanjungan/pujian yang disertai pengagungan dan kecintaan kepada yang disanjung atau dipuji, segala pujian yang di iringi dengan rasa pengagungan dan kecintaan hanya untuk Allah semata.

Kata al-hamdu (الحمد) pujian dengan kata ini mempunyai dua sebab:
Sebab pertama, pujian dikarenakan kesempurnaan yang dipuji, sempurna dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman ,

وَلِلّٰهِ الْمَثَلُ الْاَعْلٰىۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana”. (QS. An-Nahl: 60)

اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al-Baqarah: 20)

Sebab kedua, Pujian dikarenakan kabaikan-Nya yang terlimpahkan kepada seluruh makhluk, maka pujian ini dikarenakan kesempurnaan dalam kebaikan, dan tidaklah ada kenikmatan di muka bumi ini kecuali itu datangnya dari Allah semata.

وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ

“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah”. (QS. An-Nahl: 53)

Lillahi (لله) bagi Allah, di dalam kata lillahi ini ada dua kandungan:

Pertama: Al-Ikhtishah (الاختصاص) kekhususan, yaitu karena tidak ada satupun yang dipuji dengan segala pujian kecuali hanya Allah Ta’ala semata.

Kedua: Al-Istihqaq (الاستحقاق) keberhakkan, yaitu tidak ada satupun yang berhak dipuji dengan pujian yang bersifat sempurna selain Allah Ta’ala, adapun selain Allah; pujian terhadapnya hanya sekedar pujian yang bersifat tidak lengkap dan hanya sesuatu yang bersifat spesifik dan terbatas.

Maka yang berhak dipuji dengan sifat pujian secara menyeluruh dan sempurna dari segala segi hanyalah Allah semata, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam apabila beliau di beri sesuatu yang menyenangkan, maka beliau mengucapkan,

الحمد لله بنعمته تتم الصالحات

“Segala puji bagi Allah dengan nikmatnya sempurnalah kebaikan-kebaikan”, tetapi sebaliknya jika di timpa sesuatu yang tidak menyenangkan maka beliau mengucapkan,

الحمد لله على كل حال

“Segala puji bagi Allah atas segala keadaan”.

Allah (الله): Ini adalah salah satu nama dari Robb kita dan tidaklah bernama demikian selain-Nya, dan juga tidak ada yang bersifat dengannya selain-Nya, karena nama Allah memiliki arti yang mempunyai ketuhanan dan keberhakan untuk disembah, dan sifat ini tidak ada pada diri selain Allah Ta’ala. Inilah yang di sebut uluuhiyah.

Robbul ‘Alamin (رب العلمين) Robb semesta alam.
رب Robb adalah yang berkumpul padanya tiga sifat: menciptakan, merajai dan memiliki, dan mengatur. Tiga sifat di atas tidak ada yang memilikinya kecuali Allah Ta’ala, maka Dialah yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini dan kepunyaan-Nyalah apa yang di bumi dan di langit serta di antara keduanya. Dia memelihara alam semesta dengan nikma-Nya, dan Dia raja semesta ini. Inilah yang di sebut rubuubiyah.

العالمين alam adalah semua yang ada selain Allah, dan alam itu bermacam-macam; alam manusia, alam jin, alam malaikat, alam hewan, dan lain-lain. Allah adalah Robb pencipta, pengatur, pemelihara semua jenis alam itu tanpa pengecualian sedikitpun.

Dalam ayat ini Allah mengajari kita cara, bagaimana kita memuji-Nya dengan pujian yang sempurna dan layak dengan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala; yaitu dengan mengucapkan الحمد لله رب العلمين (alhamdu lillahi robbil ‘aalamiin).

Waallahu a’lam bis showaab, Semoga bermanfaat.

***

Referensi:
– Tafsir Surah Al Fatihah Lis Syaikh Muhammad Al ‘Utsaimin
– Syarh Durusul Muhimmah Li’aammatil Ummah Lis Syaikh ‘Abdur Rozzaq Al ‘Abbad
– Tafsir Wa Taammul Li Surotil Fatihah Lis Syaikh Sholeh Aalus Syaikh

Ditulis oleh : Muhammad Fathoni, Lc.

Artikel HamalatulQuran.com


 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here