Search
Thursday 17 October 2019
  • :
  • :

Wahai Ibu, Didiklah Anakmu Menjadi Penghafal Al-Quran.

Raih pahala menyampaikan kebaikan, Bagikan:

 

Seorang Ibu memiliki peran penting dalam mendidik anak. Ia memiliki peran penting dalam mengarahkan buah hatinya. Jika baik cara didiknya, maka baik pula hasilnya, begitu pula sebaliknya. Hingga muncul sebuah istilah yang masyhur :

الأم هي المدرسة الأولى

“Ibu merupakan Madrasah Pertama bagi anaknya”

Seorang ibu yang baik akan mendidik anaknya untuk perhatian dengan agamanya. Agar nantinya sang anak tumbuh menjadi sosok yang takut kepada Allah subahanahu wata’ala serta perhatian dengan agamanya.

Diantara pendidikan awal yang ditekankan oleh para ulama sedari dulu adalah cinta terhadap Al-Quran. Sebab saat kecintaan sudah tumbu subur, maka si kecil akan memiliki rasa haus untuk senantiasa membaca dan bahkan menjaga Kalamulloh tersebut dalam dadanya.

Tak heran jika hampir tiapkali membaca biografi para ulama akan kita dapati fakta bahwa mereka sudah menjadi hafidz Al-Quran bahkan sebelum menginjak usia baligh.

Peran orang tua – terutama ibu- tentu sangat penting dalam mengarahkan para calon generasi masa depan untuk cinta terhadap Al-Quran. Meskipun bisa jadi mereka sendiri tidak hafal Al-Quran, akan tetapi kita semua yakin bahwa setiap orang tua memiliki visi agar keturunan mereka menjadi sosok yang jauh lebih sukses darinya.

Namun ingat, sebuah kesuksesan tentu membutuhkan pengorbanan. Sebab sebuah harapan tanpa usaha tak ada bedanya dengan si punuk yang merindukan bulan.

Salah satu contoh pengorbanan seorang ibu di zaman ini adalah apa yang pernah diceritakan oleh Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al Mihna hafidzohulloh dalam salah satu kitabnya.

“Beberapa tahun yg lalu aku sempat berada di Amerika. Disana terdapat sebuah rumah tahfidz yang didirikan oleh beberapa pegiat dakwah. Antusiasme kaum muslimin disana cukup besar, terlihat dari banyaknya murid yang berdatangan dari berbagai daerah. Semuanya ingin merasakan manisnya ilmu yang diajarkan oleh seorang Qori’ asal Mesir ditempat tersebut.

Salah satu murid disana cukup menyita perhatianku. Ia adalah seorang anak keturunan India yang terlihat penuh semangat. Umurnya saat itu sekitar 15 tahun.

Kegigihan sang anak tak lepas dari pengorbanan sang ibu yang amat dicintainya. Terungkap fakta bahwa sang ibu rela mengantarkan buah hatinya tersebut untuk belajar Al-Quran disana. Padahal jarak antara rumah dan tempat belajar tak kurang dari 50 kilometer. Ia bahkan dengan penuh kesabaran rela menunggu sang anak mengikuti halaqot Al-Quran yang berlangsung antara ashar hingga maghrib.

Setelah satu tahun 2 bulan mengikuti kegiatan halaqot, sang guru mengumumkan dengan penuh bangga bahwa murid tersebut akhirnya berhasil menyelesaikan hafalan Al-Quran dengan lancar serta tajwid yang benar”. 

Ya, pengorbanan sang ibu tak sia-sia. Ia akhirnya bisa meneteskan air mata bahagia melihat prestasi darah dagingnya.

Wahai para Ibu, didiklah anak kalian menjadi seorang penghafal Al-Quran. Bersabarlah dan jangan pernah bosan dalam melaksanakannya. Karena sesungguhnya sebuah kesabaran memiliki buah manis yang akan membuatmu lupa terhadap seluruh rasa lelah yang pernah kau alami.

Wallahu a’lam

Makkah, 22 Muharrom 1441 H

Referensi :

Shuwa wa Kuwa, Muhammad bin Sulaiman Al Mihna


Raih pahala menyampaikan kebaikan, Bagikan:


Alumni PP Hamalatulqur’an Yogyakarta, Mahasiswa Pascasarjana jurusan Ilmu Qiro’at, Fakultas Qur’an di Universitas Islam Madinah KSA


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *