Search
Tuesday 11 December 2018
  • :
  • :

Jika Ada Tiga Tanda Ini, Anda Orang yang Bahagia

Raih pahala menyampaikan kebaikan, Bagikan:

By : ig

Tiga Tanda Kebahagiaan Seorang Hamba

Bismillah..

Oleh : Prof. DR. Abdur Razzaq Al Badr –semoga Allah menjaganya- beliau menuliskan,

فَالمؤْمِنُ فِي سَرَّائِهِ شَاكِرٌ، وَفيِ ضَرَّائِهِ صَابِرٌ، وَفيِ وُقُوْعِهِ فيِ الذَّنْبِ مُسْتَغْفِرٌ

Orang mukmin itu senantiasa bersyukur di saat lapang, bersabar di kala susah, dan beristigfar ketika jatuh ke dalam dosa.

وَهذِهِ الأُمُوْرُ الثَّلاَثَةُ هِيَ عُنْوَانُ سَعَادَةِ العَبْدِ: إِذَا أَذْنَبَ اسْتَغْفَرَ، وَإِذَا أُنْعِمَ عَلَيْهِ شَكَرَ، وَإِذَا ابْتُلِيَ صَبَرَ

Tiga perkara di atas, merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba; Berisitigfar bila berbuat dosa, bersyukur saat diberi kenikmatan, dan bersabar saat diuji.

وَقَدْ قَرَّرَ هَذَا المعْنَى العَلّامَةُ ابْنُ القَيِّمِ رحمه الله تَقْرِيْرًا لَا مَزِيْدَ عَلَيْهِ فيِ أَوَّلِ كِتَابِهِ “الوَابِلُ الصَّيِّبُ” وَبَيَّنَ رحمه الله تَعَالىَ أَنَّ العَبْدَ المؤْمِنَ فيِ حَيَاتِهِ لَا يَخْلُو مِنْ هذِهِ الأَحْوَالِ الثَّلاَثَةِ

Al ‘Allamah ibnul Qayyim rahimahullah telah menerangkan arti kandungan tersebut di permulaan karyanya al-Wabil ash-Shayyib, tanpa perlu tambahan komentar.

Ujar beliau: Seorang mukmin tidak lepas dari tiga situasi tersebut.

الأَمْرُ الأَوَّلُ: إِذَا أَذْنَبَ اسْتَغْفَرَ، لِأَنَّ المؤْمِنَ يَدْعُوهُ إِيْمَانُهُ عِنْدَمَا يُذْنِبُ إِلىَ الإِنَابَةِ وَالتَّوْبَةِ. وَلِهذَا ناَدَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَهْلَ الإِيْمَانِ إِلَى التَّوْبَةِ بِاسْمِ الإيْمَانِ

{يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةٗ نَّصُوحًا} [التحريم: 8]،

{وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ}[النور: 31]

Point Pertama: Beristigfar saat jatuh ke dalam kubangan dosa.

Tatkala berbuat dosa, iman seorang mukmin akan mendorongnya untuk segera inabah/kembali kepada Allah dan bertaubat.
Karenanya, Allah Azza wa Jalla menyeru orang-orang beriman untuk segera bertaubat.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha.” (At Tahrim: 8)

“Dan bertaubatlah kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” (An Nur: 31)

فَالمؤْمِنُ إِذَا أَذْنَبَ فَزِعَ إِلَى إِيْمَانِهِ فَأَرْشَدَهُ إِيْمَانُهُ إِلَى التَّوْبَةِ وَالاِسْتِغْفَارِ، وَهَدَاهُ إِيمَانُهُ إِلَى أَنَّ لَهُ رَبّاً تَوَّاباً غفوراً رحيمًا يَقْبَلُ التَّوْبَةَ وَيَعْفُو عَنِ السَيِّئَاتِ وَيَغْفِرُ الذُنُوبَ وَالخَطِيئَاتِ، وَلَا يَتَعَاظَمُهُ ذَنْبٌ أَنْ يَغْفِرَهُ

{۞قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ٥٣} (الزمر: 53)

Bila Orang yang beriman berbuat dosa, ia akan menjadikan imannya sebagai tempat berlindung. Dengan begitu iman akan membimbingnya untuk segera bertaubat dan beristigfar.

Iman akan mengingatkannya, bahwa ada Tuhan yang Maha menerima taubat, Maha Pengampun, dan Maha pengasih. Dia menerima taubat (hamba), memaafkan kesalahan, dan mengampuni dosa-dosanya. Tidak berat bagi Allah untuk menutupi dosa-dosa itu.

Allah Ta’ala berfirman,
“Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap dirinya, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa. Sungguh Dialah (Zat) yang Maha pengampun, lagi Maha Penyayang.” (Az Zumar: 53)

وَإِذَا كَانَ العَاصِي المتَمَادِّي فِي عِصْيَانِهِ يَجِدُ لَذَّةً فِي تَتَبُّعِهِ لِشَهَوَاتِهِ، فَإِنَّ مَنْ حَقَّقَ الإِيمَانَ وَمُرَاقَبَةَ الرَّحْمنَ يَجِدْ لَذَّةً لَا تُقَارَنُ بِلَذَّةِ العُصَاةِ، وهِيَ لَذَّةُ الطَاعَةِ وَالاِسْتِجَابَةِ وَالاِمْتِثَالِ لِأَوَامِرِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، فَيَسْعَدُ سَعَادَةً حُرِمَهَا أَهْل العِصْيَانِ وَلَمْ يَظْفَرُوْا بِهَا، وَهُمْ يَنَالُوْنَ فيِ مَعَاصِيْهِمْ وَشَهَوَاتِهِمْ لَذَّةً تَنْقَضِي فِي حِيْنِهَا وَتَبْقَى تَبِعَاتُهَا وَحَسَرَاتُهَا.

Apabila pelaku maksiat merasakan kelezatan saat melampiaskan syahwat, maka (hamba) yang benar-benar beriman dan senantiasa merasa diawasi Allah akan merasakan kelezatan yang tak mungkin disetarakan dengan kelezatan pelaku maksiat.

Itulah kelezatan ketaatan kepada-Nya, kelezatan menjawab panggilan-Nya, serta kelezatan melaksanakan perintah-Nya. Dengan begitu ia pasti meraih kebahagiaan, dikala pelaku maksiat tak mampu menggapainya. Disamping itu, para pelaku maksiat dan pelampias syahwat hanya mendapatkan kelezatan yang hilang bersamaan dengan selesainya maksiat itu. Akan tetapi, akibat buruk (maksiat) dan penyesalan akan tetap ada.

تَفْنَى اللَّذَاذَةُ مِمَّنْ نَالَ صَفْوَتَهَا

مِنَ الحَرامِ وَيَبْقَى الخِزيُ والعَارُ

وَتَبْقَى عَواقِبُ سُوْءٍ مِنْ مَغَبَّتِهَا

لاَ خَيْرَ في لَذَّةٍ مِنْ بَعْدِهَا النَّارُ

Bait syair :

Kelezatan maksiat akan sirna dari pelakunya.

Namun, aib dan kehinaan akan tetap ada.

Dampak/akibat buruk pun senantiasa mengikutinya.

Tak ada kelezatan yang berujung neraka.

وَالأَمْرُ الثَانيِ: إِذَا أُنْعِمَ عَلَيْهِ شَكَرَ؛ نِعَمُ الله عَلىَ عَبْدِهِ كَثِيرَةٌ لَا تُعَدُّ وَلاَ تُحْصَى، نِعَمٌ فيِ بَدَنِهِ ونِعم فيِ مَالِهِ ونِعم في وَلَدِهِ ونعم في مَسْكَنِهِ وفي جَمِيْعِ شُؤُونِهِ

{وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ }[إبراهيم: 34] فَالسَّعَادَةُ تَكُوْنُ فِي حَمْدِ اللهِ وَشُكْرِهِ عَلىَ نَعْمَائِهِ وَعَلىَ مَنِّهِ وفَضْلِهِ سبحانه وتعالى وَعَطَائِهِ.

والشُّكْرُ سَبَبُ زِيَادَةِ النِّعَمِ وَدَوَامِهَا، وَقَرَارِهَا وَثُبُوتِهَا وَنَمَائِهَا وَبَرَكَتِهَا {وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ }[إبراهيم: 7]، وَالمؤْمِنَ الشَّاكِرُ يَجِدُ لَذَّةَ الشُّكْرِ وَلَذَّةَ الحَمْدِ وَلَذَّةَ الاِعْتِرَافِ بِنِعْمَةِ المنْعِمِ سبحانه فَتَقَرُّ عَيْنُهُ بِذلِكَ.

Point Kedua: Bersyukur saat diberi nikmat.

Anugerah Allah Ta’ala untuk para hamba-Nya tak terbilang. Semua itu ada pada badan, harta, keturunan, tempat tinggal, dan segala urusannya.

“Jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)

Kebahagiaan pun bisa diperoleh dengan tahmid dan bersyukur kepada Allah Ta’ala atas segala nikmat, anugerah dan karunia-Nya.

Syukur adalah sebab bertambah, langgeng, berkembang, dan berkahnya kenikmatan.

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu menyerukan; jika kalian bersyukur, niscaya Aku tambahkan nikmat-Ku.”

(QS. Ibrahim: 7)

Seorang mukmin yang pandai bersyukur, akan merasakan lezatnya bersyukur, bertahmid, dan mengakui karunia sang Maha Pemberi. Dengan begitu ia akan bergembira.

وَالأَمْرُ الثَّالِثُ : إِذَا ابْتُلِيَ صَبَرَ، قَالَ جَلَّ وَعَلاَ {مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ}[التغابن: 11]. قَالَ عَلْقَمَةُ رحمه الله : «هُوَ الرَّجُلُ تُصِيْبُهُ المصِيْبَةُ فَيَعْلَمُ أَنَّهَا مِنْ عِنْدِ اللهِ فَيَرْضَى وَيُسَلِّمُ». وَلِهذَا المؤْمِنُ فيِ نَعْمَائِهِ يَفُوْزُ بِثَوَابِ الشَّاكِرِيْنَ، وَفيِ مُصَابِهِ وَضَرَّائِهِ وَابْتِلاَئِهِ يَفُوْزُ بِثَوَابِ الصَّابِرِينَ. فَهُوَ مَأْجُورٌ عَلىَ كُلِّ حَالٍ، فَهُوَ عَلىَ خَيْرٍ فيِ كُلِّ حَالٍ.

وَلِهَذَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : «عَجَباً لِأَمْرِ المؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كَلَّهُ خَيْرٌ .. » الحديث.

Point Ketiga: Bersabar saat diberi ujian.
Allah Ta’ala berfirman,

“Tiada Musibah yang menimpa (kalian), melainkan dengan izin Allah. Barangsiapa yang beriman, niscaya hatinya akan diberi petunjuk.” (QS. At-Taghabun: 11)

Alqamah rahimahullah berkata, “Maksudnya, adalah seorang yang ditimpa musibah, lantas ia tahu bahwa itu semata ujian dari Allah, maka ia pun rida dan menerima.”

Oleh sebab itu, seorang mukmin akan memperoleh pahala syukur saat diberi anugerah, dan pahala sabar saat musibah dan ujian datang. Ia akan berpahala, dan Mendapat kebaikan di kondisi apapun.
Nabi shalallahu alaihi wa sallam telah menggambarkan keadaan di atas,

“Alangkah menakjubkan urusan seorang mukmin itu. Karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan tak ada yang memiliki hal itu selain orang mukmin; bila ia mendapat kebahagiaan, ia pasti bersyukur, dan itu yang terbaik baginya. Jika ia tertimpa musibah, ia pasti bersbar, dan itu yang terbaik baginya.”

(HR. Muslim, no. 2999)

Demikian…

Wallahua’lam bis showab.

_______

Rerefensi :
https://www.al-badr.net/muqolat/2487

***

Diterjemahkan oleh : Abu Hurairah, BA

( Mahasiswa magister Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia, jurusan Ilmu hadis. Alumni PP. Hamalatulqur’an Yogyakarta, dan telah menempuh pendidikan S1 fakultas Hadis Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia )

Hamalatulquran.com

Info Haji dan Umroh:
umroh dan haji plus


Raih pahala menyampaikan kebaikan, Bagikan:



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *