Search
Friday 17 August 2018
  • :
  • :

Tela’ah Hadis “Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Cina”

Raih pahala menyampaikan kebaikan, Bagikan:

 

Bismilah

Tuntutlah ilmu ke negeri china, ungkapan yang sangat populer sekali. Nasehat singkat ini, sepertinya sudah menjadi pepatah yang membumi di negeri kita. Orang-orang menyebutnya, ungkapan ini adalah hadis Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Namun, benarkah demikian? Mari kita pelajari di sini.

Teks

 

اطْلُبُوا العِلْمَ وَلَوْ باِلصِّين

Tuntutlah ilmu, walau di negeri cina.”

Takhrij

    Diriwayatkan oleh ibnu ‘Adi dalam al-Kamil, Al Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman, ibnu Abdul Bar dalam Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa fadhlihi, dan Al Kathib Al Baghdadi dalam ar-Rihlah fi Thalab al-Hadits.

Riwayat di atas berporos (P) di Al Hasan bin Athiyyah, dari Abu ‘Atikah Tharif bin Sulaiman, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, dari rasulullah shallallahu alaih wasallam.  

Tentang Abu ‘Atikah

    Menurut para pakar hadis, seperti: imam Al Bukhari, Abu Hatim, An Nasai, Ad-Daraquthni, ibnu Hibban dan yang lainnya, bahwa Abu ‘Atikah termasuk perawi lemah yang tidak memiliki kredibilitas dalam riwayat hadis.

    Oleh karenanya, ia menjadi sumber masalah dalam sanad hadis ini. Sehingga para ahli pun menolak riwayat di atas. Bahkan ibnu al-Jauzi mencantumkannya dalam karyanya al-Maudhu’at (hadis-hadis palsu).

Kesimpulan

    Dari pemaparan di atas, kita bisa menilai bahwa hadis ini sangat lemah.

Al Bazzar menuturkan,”Hadis ini tidak memiliki sumber (sanad) yang sahih.”

Al Baihaqi berkata,”Teks hadis ini amat populer. Namun sanadnya lemah. Bahkan diriwayatkan dari sejumlah jalur yang semuanya lemah.”

Ibnu Al Jauzi berkata,”Hadis ini tidak sahih dari rasulullah shallallahu alaih wasallam.” Kemudian ia menukil dari ibnu Hibban, katanya,”Hadis ini batil, dan tidak memiliki sumber (sanad) yang sahih.

    Demikian komentar para ahli yang menunjukkan bahwa hadis di atas benar-benar lemah, meskipun popouler di tengah masyarakat.

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

***

catatan :

(P) = Poros sanad   

(R) = Ringkasan sanad.

Referensi

  • Syu’ab al-Iman , Al Baihaqi, juz. 3, hal. 193, no. 1543.
  • Jami’ Bayan al-‘Ilmi, ibnu Abdul Bar, juz 1, hal. 30.
  • Ar-Rihlah fi Thalab al-Hadits, Al Khatib Al Baghdadi, juz. 1, hal. 72.
  • Al Kamil, ibnu ‘Adi, juz. 5, hal. 188.
  • Musnad al-Bazzar juz. 1, hal. 164.
  • Al Maudhu’at, ibnu Al-Jauzi, juz. 1 ,hal. 216.
  • At Tarikh al-Kabir, Al Bukhari, juz. 4, hal. 358.
  • Adh Dhu’afa wa al-Matrukun, An Nasai, hal. 60.
  • al Jarh wa At Ta’dil, ibnu Abu Hatim, juz. 4, hal. 494.
  • Adh Dhu’afa wa al-Matrukun, Adh-Dharaquthni, juz. 2, hal. 159.
  • Al Majruhin, ibnu Hibban, juz. 1, hal. 382.

Ditulis Oleh : Abu Hurairah, BA 

(Alumni PP. Hamalatulqur’an Yogyakarta, S1 fakultas Hadis Univ. Islam Madinah KSA. Saat ini sedang menempuh studi S2 prodi ilmu hadis, di universitas dan fakultas yang sama).

hamalatulquran.com


Raih pahala menyampaikan kebaikan, Bagikan:



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *