Search
Thursday 17 October 2019
  • :
  • :

Teks Perkataan “Barangsiapa yg Menginginkan Kebahagiaan dunia dan Akhirat maka hendaknya dengan Ilmu”

Raih pahala menyampaikan kebaikan, Bagikan:

 

    مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ

“Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia akhirat, maka hendaknya dengan ilmu.”

Acap kali mendengar sejumlah orang membawakan perkataan di atas, dan menyatakannya sebagai hadis nabi shallallahu alaih wasallam. Bahkan, saya pernah singgah ke satu situs yang terang-terangan menyatakan bahwa hadis ini tercantum dalam shahih Al Bukhari dan Muslim. Sungguh, aneh bin ajaib.

Padahal, kalau dicek di literatur hadis manapun, maka tidak akan pernah ditemukan perkataan tersebut sebagai hadis beliau.

Ya, imam Al Baihaqi meriwayatkan perkataan di atas dalam kitab manaqib Asy Syafi’i. Tetapi, dari imam syafi’i, bukan dari nabi shallallahu alaih wasallam. Camkan!

Berikut teks ucapan Asy Syafi’i,

     مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ

“Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan ilmu.” (Manaqib Asy Syafi’i, 2/139)

Catatan

Tidak semua perkataan yang kandungan maknanya benar, bisa dijadikan sebagai hadis nabi. Karena, menisbatkan sesuatu kepada beliau memiliki konsekuensi yang berat. seandainya hal itu valid dari beliau, maka akan dimasukkan ke dalam lingkup syariat atau agama. Namun, jika tidak valid atau bahkan palsu, maka itu bisa menjadi ancaman bagi yang menisbatkannya kepada beliau.

Beliau bersabda,

 مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

“Barangsiapa yang menceritakan sebuah hadis dariku, yang diduga dusta, maka dia termasuk salah satu dari para pendusta.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah shahihnya)

 

 

Kata imam Ad Darimi rahimahullah,

إِذَا رَوَى الرَّجُلُ حَدِيثًا وَلَا يُعْرَفُ لِذَلِكَ الحَدِيثِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصْلٌ فَحَدَّثَ بِهِ فَأَخَافُ أَنْ يَكُونَ قَدْ دَخَلَ فِي هَذَا الحَدِيثِ

“Bila seseorang meriwayatkan sebuah hadis, Tapi tidak diketahui sumbernya dari nabi shallallahu alaih wasallam, Lantas ia (tetap) menceritakannya (dari nabi), maka aku khawatir ia masuk ke dalam (makna) hadis ini.” (lihat komentar at Tirmidzi, no hadis. 2662)

 

Wallahu A’lam. Semoga bermanfaat.

Ditulis Oleh : Abu Hurairah, BA 

(Alumni PP. Hamalatulqur’an Yogyakarta, S1 fakultas Hadis Univ. Islam Madinah KSA. Saat ini sedang menempuh studi S2 prodi ilmu hadis, di universitas dan fakultas yang sama).

hamalatulquran.com

 


Raih pahala menyampaikan kebaikan, Bagikan:


Alumni PP Hamalatulqur’an Yogyakarta, Mahasiswa Pascasarjana jurusan Ilmu Qiro’at, Fakultas Qur’an di Universitas Islam Madinah KSA


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *