Search
Friday 19 July 2019
  • :
  • :

Sejarah Penulisan Al-Qur’an

Raih pahala menyampaikan kebaikan, Bagikan:

By @unsplash

Bismillah…

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam secara bertahap mulai dari saat diutusnya beliau hingga ajal menjemput. Para sahabat pun biasa mengambil Al Quran secara talaqqi (belajar langsung) kepada Nabi akhir zaman ini.

Selain berpegang kepada talaqqi, mereka juga biasa menuliskan ayat-ayat Al Quran pada media yang ada saat itu. Jangan bayangkan mereka menuliskannya di atas kerta-kertas indah seperti sekarang, sebab saat itu kertas memang belum tersedia sebanyak saat ini.

Pelepah kurma, kulit dan tulang binatang sering menjadi media menuliskan ayat Al quran pada saat itu. Sebagaimana dipaparkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit rhodiyallohu ‘anhu :

كنا عند رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم نؤلف القرآن من الرقاع

“Dahulu di zaman Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam kami menuliskan Al quran di kulit binatang” (HR Al Hakim)

Para Penulis Al Quran di Zaman Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam

Diantara sahabat yang dikenal rajin menulis Al quran saat itu adalah : Khulafa Ar Rasyidin, Zaid din Tsabit, Mu’awiyah, Kholid bin Walid dan masih banyak lagi. Tercata dalam sejarah jumlah mereka sekitar 40 orang rhodiyallohu ‘anhum.

Baca juga : Serial Ahli Qiroat #3 Zaid bin Tsabit Sang Penulis Wahyu

● Sahabat yang pertama kali menulis Al Quran di Makkah adalah :Abdulloh bin Abi Sarah

● Sahabat yang pertama kali menulis Al Quran di Madinah : Ubay bin Ka’ab

● Sahabat yang paling banyak menulis Al Quran adalah : Zaid bin Tsabit dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Apakah Al Qur’an ditulis seluruhnya di zaman Nabi sholllallahu ‘alaihi wasallam?

Para ulama menjelaskan bahwa Al Qur’an ditulis secara lengkap di zaman Nabi, akan tetapi terpisah-pisah alias tidak dikumpulkan dalam satu tempat. Sebab saat itu belum ada kekhawatiran akan adanya kesalahan dalam membaca suatu ayat karena Nabi masih hidup ditengah-tengah mereka. Sehingga jika ada diantara mereka lupa atau ragu dengan hafalan yg dimiliki, bisa langsung datang kepada beliau.

Apakah Hadits juga Ikut Ditulis?

Ada perselisihan pendapat diantara ulama tentang permasalahan ini, sebab ada 2 hadits yang terlihat seakan bertentangan, yaitu :

لا تَكْتُبُوا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ

“Janganlah kalian menulis dariku selain Al quran, barangsiapa menulis selain Al quran maka hendaknya ia menghapusnya” (HR Muslim)

Adapun hadits yang kedua merupakan pernyataan Abu Huroiroh rhodiyallohu ‘anhu :

ما من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم أحد أكثر حديثا عنه مني إلا ما كان من عبد الله بن عمرو فإنه كان يكتب ولا أكتب

“Tidak ada satupun sahabat Nabi sholllallahu ‘alaihi wasallam yang melebihiku dalam mengumpulkan hadits kecuali Ibnu Umar, sebab dia biasa menulis (hadits) sedangkan aku tidak menuliskannya” (HR Bukhori)

Sebagian ulama kemudian berusaha mengkompromikan dua hadits diatas dengan beberapa kemungkinan :

Pertama, larangan Nabi pada hadits pertama ditujukan kepada mereka yang menuliskan Al quran dan hadits pada satu halaman yang sama. Hal ini ditakutkan akan tercampur antara keduanya.

Kedua, larangan tersebut bertujuan untuk memupuk semangat para sahabat dalam menghafalkan hadits-hadits beliau.

Ketiga, pada permulaan islam Nabi melarang hal tersebut, akan tetapi kemudian beliau membolehkannya.

Inilah sedikit gambaran seputar penulisan Al Quran di zaman Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Artikel selanjutnya insya Allah akan membahas seputar penulisan Al Qur’an di zaman Khalifah Abu Bakr rhodiyallohu ‘anhu.

______

Referensi :
– Samir Ath Tholibin, Syaikh ‘Ali Adh Dhobba’ rohimahulloh

****

Ditulis oleh : Afit Iqwanudin, Amd

(Alumni PP Hamalatulqur’an Yogyakarta, yang saat ini sedang study S1 di Universitas Islam Madinah KSA, Fakultas Qur’an)

Hamalatulquran.com

Peluang Amal Jariyah:
umroh dan haji plus


Raih pahala menyampaikan kebaikan, Bagikan:



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *