Search
Wednesday 15 August 2018
  • :
  • :

Mengapa mereka Menghafal Al Quran? (Bagian 1)

Raih pahala menyampaikan kebaikan, Bagikan:

“Mengapa mereka Menghafal Al Quran?”

Bismillah..

Sebuah pertanyaan yang sejujurnya cukup akrab ditelinga penulis sendiri, mampu membuat pikiran bernostalgia ke masa-masa beberapa tahun silam.

Bagaimana tidak? Pertanyaan serupa pernah dihadapkan kepada kami saat hendak memasuki sebuah awal yang baru, kehidupan pesantren.

Berbagai jawaban mulai dari yang standar hingga yang cukup unik terkadang keluar dari mulut calon santri ketika dihadapkan dengan pertanyaan diatas pada sesi wawancara PSB.

“Ingin menjadi hafidz quran” ucap salah satu dari mereka, “Ingin memakaikan mahkota kemuliaan kepada kedua orang tua” jawab yang lain.

Beberapa waktu silam penulis sempat membaca sebuah artikel berbahasa arab yang memiliki pembahasan serupa dengan judul limadza nahfadzul quran?

Setelah membacanya dengan seksama akhirnya penulis berinisiatif untuk merangkumnya kedalam bahasa Indonesia agar bisa dinikmati oleh lebih banyak mata.

Inilah beberapa alasan yang menggerakkan hati mereka untuk menghafal al quran :

  1. Meneledani Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam

Fatimah rodhiyallohu ‘anha pernah menuturkan bahwasanya Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam biasa “setoran” al quran kepada malaikat Jibril ‘alaihissalam setiap bulan ramadhon, sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori :

عَنْ فَاطمَةَ عَلَيهَا السَّلَام أَسَرَّ إِلَيَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنَّ جِبِْريْلَ كَانَ يُعَارِضَنِي بِالقُرْآنِ كُلَّ سَنَةٍ وَإِنَّهُ عَارَضَنِي العَام مَرَّتَينِ وَلَا أَرَاهُ إِلَّا حَضَرَ أَجَلِيp

“Fathimah rodhiyallohu ‘anha berkata : Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pernah membisikkan sebuah rahasia kepadaku : ‘Malaikat Jibril  biasa menyimak bacaan Al Quranku sebanyak satu kali dalam setahun, akan tetapi di tahun ini ia melakukannya sebanyak 2 kali sehingga aku beranggapan bahwa ajalku sudahlah dekat” (HR Al Bukhori)

  1. Meneladani para ulama terdahulu

Diantara kebiasaan para ulama terdahulu adalah mengawali perjalanan mereka dalam menuntut ilmu dengan menghafalkan Al Quran.

Ibnu Abdil Bar pernah mengutip perkataan Abu Umar rohimahumalloh dalam kitab Jami’ Bayan Al ‘Ilmi Wa Fadhlihi :

“Jalan menuntut ilmu itu memiliki beberapa tingkatan yang harus dilalui secara runtut, barangsiapa yang melangkahi salah satunya, maka ia telah menyelisihi jalan para ulama terdahulu. Adapun tingkatan pertama adalah menghafalkan al quran serta memahami kandungannya”.

  1. Al quran mudah untuk dihafal oleh tiap orang, tidak bergantung pada umur maupun tingkat kecerdasaan tertentu. Betapa banyak orang yang berhasil menghafalkan Al Quran seluruhnya meskipun usia tak lagi muda.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sungguh telah Kami mudahkan Al Quran untuk peringatan, maka adakah yang mau mengambil pelajaran?” (Surat Al Qomar ayat 17, 22, 32 & 40)

Syaikh Abdurrohman As Sa’di rohimahulloh menjelaskan dalam tafsirnya  :

“Al quran dimudahkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk dibaca dan dihafalkan lafadznya serta untuk dipahami maknanya”

Salah seorang guru kami yang bernama Syaikh Abdul Qowi Al Yamani hafidholulloh pernah menceritakan sebuah kisah yang cukup menakjubkan :

“Ada seorang wanita lanjut usia yang tidak bisa membaca Al Quran” ungkap beliau memulai cerita, “di hari tua nya ia menyesali keadaannya yang tidak bisa membaca Al Quran tersebut hingga akhirnya bertekad untuk belajar membaca Al Quran lalu dilanjutkan dengan menghafalnya sedikit demi sedikit. Dengan izin Allah, akhirnya ia sanggup menghafalkan al quran seluruhnya di usia yang sudah cukup renta”.

“Tahukah kalian berapa umur wanita tersebut?”, tanya beliau  memancing rasa penasaran kami

“Lebih dari 70 tahun” ungkap beliau

Sontak kami pun terkagum-kagum dengan kisah tersebut. “Masya Allah” kalimat tersebut terdengar meluncur dari mulut kami saat itu.

  1. Memiliki kedudukan khusus disisi Allah

Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :

“Ahli Quran merupakan keluarga Allah dan orang yang memiliki kedudukan khusus disisiNya. (HR Ibnu Majah)

  1. Salah satu dari dua hasad yang diperbolehkan ialah iri terhadap penghafal al quran (Ghibthoh).

Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَا حَسَدَ إلَّا فِي اثْنَتَيْنِ : رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوْهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ

“Hasad tidak diperbolehkan kecuali dalam dua hal -salah satunya- seseorang yang Allah ajarkan kepadanya Al Quran sehingga dia senantiasa membacanya siang dan malam (HR Al Bukhori)

  1. Menghafal Al Quran serta mempelajarinya lebih baik dari harta dunia

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat ‘Uqbah bin Amir rodhiyallohu ‘anhu, Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

أفَلَا يَغْدُو أحَدُكُُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمُ أَوْ يَقْرَأُ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللهِ عزّ وجلّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ، وَثَلَاثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلَاثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ، وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الْإِبِلِ

“Tidakkah seseorang dari kalian pergi ke masjid lalu ia mempelajari atau membaca 2 ayat dari Kitabulloh lebih baik baginya dari (mendapatkan) 2 unta, 3 ayat lebih baik dari 3 unta dan sejumlah ayat (yang ia baca) lebih baik dari unta dengan jumlah yang sama (HR Muslim)

  1. Penghafal Al Quran adalah orang yang paling berhak menjadi Imam

Menjadi imam dalam sholat merupakan suatu amalan yang mulia, sebab sholat merupakan tiang agama sekaligus rukun islam yang kedua. Dan orang yang paling berhak untuk memimpin pelaksanaan amalan tersebut adalah mereka yang paling pandai dalam Al Quran, sebagaimana sabda Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam :

يَؤمُّ القَومَ أقْرَؤهُمْ لِكِتَابِ اللهِ

“Orang yang paling berhak menjadi imam dalam sholat adalah yang paling baik bacaan Al Qurannya” (HR Muslim dan Abu Daud)

Dalam kitab ‘Aunul Ma’bud ‘Ala Sunan Abi Daud dijelaskan bahwa maksud dari

( أقرؤهم لكتاب الله) adalah yang paling banyak hafalan Al Qurannya. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhori disebutkan bahwa sahabat Amr bin Salamah rodhiyallohu ‘anhu ditunjuk sebagai imam sholat untuk kaumnya meskipun baru berumur 6 atau 7 tahun lantaran ia memiliki hafalan yang paling banyak.

(Bersambung insya Allah pada bagian yang kedua)

***

Ditulis oleh : Afit Iqwanudin, Amd

(Alumni PP Hamalatulqur’an Yogyakarta, yang saat ini sedang study S1 di Universitas Islam Madinah KSA, Fakultas Qur’an)

Hamalatulquran.com


Raih pahala menyampaikan kebaikan, Bagikan:



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *