Home Akidah Makna Benar Kalimat Tauhid (Laa ilaaha illallah)

Makna Benar Kalimat Tauhid (Laa ilaaha illallah)

1507
0
Sumber : Musulmans

Menyoal Makna Laa ilaaha illallah yang Tersebar di Tengah Masyarakat

Kalimat bukan sembarang kalimat. Kalimat yang bila masuk ke relung hati, maka cahaya nya akan menerangi anggota tubuh, lalu memberikan dorongan kuat untuk melakukan amal kebaikan. Kalimat yang sangat berat timbangannya di sisi Allah. Kalimat yang mampu membuka pintu-pintu surga. Kalimat yang akan memelihara dari nyala api neraka. Ya, itulah kalimat tauhid;

Laa ilaaha illallah

Urgensi kalimat tauhid sudah seharusnya terpatri dalam jiwa setiap muslim. Hendaknya ia berupaya mengenal kalimat itu lebih jauh, dan lebih jauh lagi. Sebab, kaum pagan quraisy dahulu sangat mengerti makna kalimat ini. Itulah alasan mengapa mereka enggan menerima dan mengucapkannya.

Allah pun telah kabarkan kepada kita tentang keanehan mereka terhadap risalah tauhid yang nabi shallallahu alaih wasallam serukan,

وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ (4) أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ (5)

“Dan mereka heran karena kedatangan seorang pemberi peringatan(rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: ini adalah seorang ahli sihir yang sering berdusta. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sungguh ini benar-benar suatu hal yang aneh.” (QS. Shad : 4-5)

Tiada Tuhan/sesembahan melainkan Allah
Pintu nasehat masih terbuka. Oleh karenanya, kami ingin mengangkat tema menyoal makna laa ilaaha illallahu yang tersebar di tengah masyarakat kita. Meski ringkas, tetapi kami berharap dapat memberikan sedikit pencerahan.

Tiada Tuhan/sesembahan melainkan Allah. Tidak sedikit yang memaknai kalimat Laa ilaaha illallah seperti itu.

Namun perlu diketahui bahwa makna kalimat tauhid di atas tidak tepat.

Mengapa? Karena dua alasan berikut ini :

Pertama: makna tersebut memiliki konsekuensi yang sangat fatal. Sebab, esensinya menganggap semua sesembahan itu adalah Allah.

Coba perhatikan kalimat berikut;

Tiada pelajar melainkan murid. artinya, semua pelajar adalah murid.

Oleh karenanya, bila kita artikan laa ilaaha illallahu dengan tiada Tuhan/sesembahan melainkan Allah, berarti konsekuensinya semua sesembahan yang haq maupun yang batil adalah Allah. Pastinya tak ada yang bermaksud demikian. Namun, sudah seharusnya menghidari kalimat yang berkonsekuensi seperti ini.

Kedua; makna di atas bertentangan dengan realita. Tidakkah Anda menyaksikan begitu banyak tuhan-tuhan yang disembah?

Malaikat, manusia, matahari, hewan bahkan pohon dan batu pun dituhankan. Artinya ada sesembahan selain Allah. Allah ta’ala pun mengakui hal itu.

وَمَا ظَلَمْنـهُمْ وَلَكِنْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ ءَالِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ لَمَّا جَاءَ أَمْرُ رَبِّك

“Dan kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Karena itulah tiada bermanfaat sedikit pun bagi mereka sesembahan-sesembahan yang mereka seru selain Allah.” (QS. Huud: 101)

Akan tetapi, sesembahan itu hanyalah kebatilan yang dibuat-buat oleh mereka.
Sebagaimana yang telah Allah ta’ala tegaskan,

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ

“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah Dialah sesembahan yang haq, dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang batil. (QS. Al Hajj: 62)

Makna laa ilaaha illallahu yang benar adalah

لا إله حق إلا الله

(laa ilaaha haqqun illallahu) .

Artinya, tiada sesembahan yang haq selain Allah.

Atau,

لاإله مستحق للعبادة إلا الله

(laa ilaaha mustahiqqun lil ibadati illallahu) = tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah.

Dengan makna yang seperti ini, kita akan terhindar dari dua point di atas. Konsekuensi yang fatal dan kontradiksi yang nyata.
Hakekat kalimat tauhid.

Sekali lagi, kita tak memungkiri adanya sesembahan-sesembahan selain Allah ta’ala. Namun, siapakah yang pantas dan berhak untuk dituhankan dan disembah?

Jawabannya, hanya Allah ta’ala semata, bukan yang lainnya.

Itulah esensi kalimat tauhid. Menafikan segala bentuk penyembahan yang ditujukan kepada selain Allah, sekaligus menjadikan ibadah hanya untuk Allah ta’ala semata.

Allah ta’ala telah menyatakan,

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا

“Barang siapa yang ingkar kepada thagut dan beriman keada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kuat dan tidak akan putus.” (QS. Al Baqarah; 256)

Semoga Allah ta’ala memberikan petunjuk dan bimbingan-Nya kepada kita selama hayat masih di kandung badan. Amin.
Wallahu a’lam

____

Referensi :

– Syarah Kasyfu asy Syubuhat, ibnu utsaimin.
– Syarah Tsalastah al Ushul, Abdullah al ghunaiman.

***

Ditulis oleh: Abu Hurairah, BA 

(Alumni PP. Hamalatulqur’an Yogyakarta, S1 fakultas Hadis Univ. Islam Madinah KSA. Saat ini sedang menempuh studi S2 prodi ilmu hadis, di universitas dan fakultas yang sama).

Hamalatulquran.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here