Home Artikel Khutbah Idul Adha: Meneladani Nabi Ibrahim ‘alaihiwasallam

Khutbah Idul Adha: Meneladani Nabi Ibrahim ‘alaihiwasallam

829
0

Khutbah Idul Adha: Meneladani Nabi Ibrahim ‘alaihssalam

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ)

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسࣲ وَا⁠حِدَةࣲ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالࣰا كَثِیرࣰا وَنِسَاۤءࣰۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِی تَسَاۤءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَیۡكُمۡ رَقِیبࣰا)

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا قَوۡلࣰا سَدِیدࣰا * یُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَـٰلَكُمۡ وَیَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن یُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِیمًا)

فإن أصدق الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله أكبر و لله الحمد

Kaum muslimin dan muslimat rohimani wa rohimakumulloh, kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala, dengan kita bersungguh-sungguh menjalankan segala hal yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan rasulNya serta kita jauhi sejauh-jauhnya hal-hal yang dilarang oleh Allah dan rasulNya. Adapun definisi takwa yang paling baik adalah definisi yang disampaikan oleh Thalq bin Habib rohimahulloh:

أن تعمل بطاعة الله على نور من الله ترجو ثواب الله وأن تترك معصية الله على نور من الله تخاف عقاب الله

“Engkau mengerjakan segala hal yang diperintahkan oleh Allah berdasarkan cahaya (ilmu dan iman) dari Allah, berharap mendapatkan ganjaran dari Allah, dan engkau tinggalkan segala hal yang dilarang oleh Allah berdasarkan cahaya (ilmu dan iman) dari Allah”

Seorang yang bertakwa meninggalkan maksiat karena takut akan adzab dari Allah, oleh sebab itu, meninggalkan maksiat karena takut siksa api neraka tidaklah menodai keimanan seseorang, akan tetapi hal tersebut merupakan bagian dari ketakwaan kepada Allah.

Kaum muslimin jamaah sholat id rohimaniwa rohimakumulloh

Hari ini kita berada di hari Idul Adha yang juga kita sebut dengan Idul Qurban, satu hari yang mengingatkan kita kepada keteladaan ayah kita, Abul Anbiya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Dan Allah menceritakan kisah perjalanan hidup Nabi Ibrahim pada banyak tempat dalam Al Quran, salah satunya yang ada di surat Al Baqoroh:

(وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَ ا⁠هِـۧمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَـٰذَا بَلَدًا ءَامِنࣰا وَٱرۡزُقۡ أَهۡلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَا⁠تِ مَنۡ ءَامَنَ مِنۡهُم بِٱللَّهِ وَٱلۡیَوۡمِ ٱلۡـَٔاخِرِۚ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُۥ قَلِیلࣰا ثُمَّ أَضۡطَرُّهُۥۤ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلنَّارِۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِیرُ)

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (Al Baqoroh 126)

Kaum muslimin jamaah sholat id rohimani wa rohimakumulloh

Didalam ayat ini Allah subhanahu wata’ala menyampaikan bahwa setiap manusia perlu berdoa kepada Allah, karena doa adalah kebutuhan manusia seberapa tinggipun derajatnya disisi Allah. Bahkan para nabi pun berdoa kepada Allah. Maka jika para Nabi saja berdoa kepada Allah tentu kita lebih butuh untuk berdoa, merendahkan diri dihadapan Allah, memohon kepadaNya berbagai hajat kebutuhan kita.

Ayat diatas juga menunjukkan bahwa doa merupakan hal yang bermanfaat, tidak sebagaimana anggapan sebagian orang yang berkata “Allah sudah mengetahui apa yang kita inginkan, lalu untuk apa kita berdoa?”. Ketahuilah bahwa anggapan tersebut tidaklah benar, sebab Allah memerintahka kita untuk berdoa dan bahkan para Nabi pun melakukannya. Ini menunjukkan bahwa doa merupakan sesuatu yang bermanfaat untuk memenuhi berbagai hajat kebutuhan kita.

Dalam ayat ini Allah juga menjelaskan bahwa berbagai rizki mulai dari nafas, makanan dan minuman diberikan kepada setiap orang, baik yang beriman ataupun tidak. Oleh karenanya Allah berfirman:

(قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُۥ قَلِیلࣰا ثُمَّ أَضۡطَرُّهُۥۤ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلنَّارِۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِیرُ)

“Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (Al Baqoroh 126)

Oleh sebab itu, kesenangan dunia bukanlah tolak ukur kecintaan Allah kepada seorang hamba, sebagaimana disabdakan oleh Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ، وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ أَحَبَّ

“Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Dia cintai maupun tidak. Sedangkan agama hanya diberikan kepada orang yang Allah cinta.”

Maka kenikamatan dunia berupa makanan dan minuman Allah berikan kepada setiap orang, baik yang beriman ataupun tidak. Sehingga hal tersebut tidak bisa menjadi tolak ukur kecintaan Allah pada seorang hamba.

Kaum muslimin jamaah sholat id rohimani wa rohimakumulloh

Dalam ayat ini Allah juga menjelaskan bahwa kehidupan dunia hanya sementara, sebagaimana firmanNya:

(قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُۥ قَلِیلࣰا ثُمَّ أَضۡطَرُّهُۥۤ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلنَّارِۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِیرُ)

“Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (Al Baqoroh 126)

Sehingga sudah menjadi kewajiban setiap muslim agar memanfaatkan waktu yang singkat ini untuk mengerjakan berbagai amal ibadah yang akan mendekatkan diri kita kepada Allah, serta menjadi bekal kita dalam menghadapNya.

Kaum muslimin jamaah sholat id rohimani wa rohimakumulloh

Jika kita perhatikan dengan seksama doa nabi Ibrahim dalam ayat diatas, akan kita dapati bahwa hal pertama yang beliau minta adalah nikmat rasa aman. Setelah itu barulah beliau meminta kemakmuran dan kesejahteraan ekonomi bagi penduduk negri. Ini menunjukkan bahwa rasa aman merupakan nikmat yang paling penting dan utama; sebab jika ekonomi suatu daerah makmur dan sejahtera akan tetapi penduduknya dipenuhi rasa takut dan khawatir, maka itu semua tidaklah ada artinya. Makanan dan minuman yang lezat tak akan terasa nikmat jika hati dipenuhi rasa takut dan was-was.

Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu, maka seakan-akan (kenikmatan) dunia telah terkumpul pada dirinya”

Hal pertama yang Nabi sebutkan adalah rasa aman, baru setelahnya beliau menyebut kesehatan jasmani dan rizki yang cukup. Oleh karenanya, hendaknya kita bersyukur kepada Allah yang telah memberikan rasa aman kepada negri kita, lain halnya dengan saudara-saudara kita yang berada di Palestina, Suriah dan berbagai tempat lain yang dirundung dengan ketakutan dan perasaan cemas.

Seorang yang beriman harus senantiasa berhati-hati terhadap berbagai hal yang bisa menyebabkan rusaknya keamanan di negri tercinta ini, karena besarnya nilai rasa aman yang bahkan jauh lebih penting dari kesejahteraan makanan.

Kaum muslimin jamaah sholat id rohimani wa rohimakumulloh

Demikian Allah juga menceritakan kisah Nabi Ibrahim pada ayat selanjutnya

(وَإِذۡ یَرۡفَعُ إِبۡرَا⁠هِـۧمُ ٱلۡقَوَاعِدَ مِنَ ٱلۡبَیۡتِ وَإِسۡمَـٰعِیلُ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّاۤۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡعَلِیمُ)

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Al Baqoroh 127)

Ayat ini mengajarkan kepada kita pentingnya tolong menolong dalam kebaikan, dimana Nabi Ismail membantu ayahnya, yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihimassalam dalam melaksanankan amal sholeh, Allah berfirman dalam ayat yang lain:

(وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَ ٰ⁠نِۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِیدُ ٱلۡعِقَابِ)

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran (Al Maidah: 2)

Kaum muslimin jamaah sholat id rohimani wa rohimakumulloh

Ayat ini juga menunjukkan bahwa yang terpenting dari sebuah amalan adalah Al-Qabul, yaitu diterima atau tidaknya amalan tersebut. Inilah seharusnya yang menjadi prioritas kita dan yang paling kita khawatirkan, apakah amalan sholeh yang kita kerjakan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala ataukah sebaliknya; karena hal tersebut merupakan poros hakiki dari sebuah amal, bukan sekedar hanya beramal saja.

Betapa banyak orang yang melakukan berbagai amal sholih akan tetapi yang ia dapatkan hanyalah rasa lelah dan kepayahan, sehingga nasibnya sebagaimana digambarkan oleh Allah subhanahu wata’ala dalam firmanNya:

(عَامِلَةࣱ نَّاصِبَةࣱ)

bekerja keras lagi kepayahan, (Al ghasyiyah: 3)

Mereka sudah giat melakukan berbagai amal sholeh hingga merasakan kelelahan, akan tetapi di akhirat mereka mendapatkan api neraka, sebagaimana dijelaskan oleh para ahli tafsir tentang salah satu dari 2 tafsir ayat ini.

Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam juga menggambarkan tentang orang yang berpuasa:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatka apa-apa kecuali hanya rasa lapar” (HR Ibnu majah)

Betapa banyak orang yang rajin sholat malam akan tetapi yang ia dapatkan hanyalah rasa lelah karena begadang. Dan betapa banyak orang yang berniat baik akan tetapi dengan cara yang tidak dituntunkan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, maka yang ia lakukan hanyalah kesia-siaan, sebagaimana pernah terjadi dizaman Nabi berkaitan denga Idul Adha. Diceritakan bahwa ada seorang sahabat yang menyembelih hewan qurban sebelum waktunya padahal ia melakukannya dengan penuh keikhlasan. Nabi lantas bersabda:

شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ

“Kambingmu hanyalah kambing biasa (yang bisa dimanfaatkan dagingnya, namun bukan kambing qurban)” (HR Bukhori)

Maka hal ini menunjukkan betapa banyak orang beramal akan tetapi sia-sia karena tidak memperhatikan syarat diterimanya amal. Sebaliknya ada seorang yang beramal dengan amalan yang biasa akan tetapi ia memperhatikan rambu-rambu yang menentukan diterimanya suatu amalan, maka amalannya menjadi sebuah amalan yang diterima oleh Allah.

Ibnu Mas’ud rhodiyallohu ‘anhu pernah berkata:

القصد في السنة خير من الاجتهاد في البدعة

“Amalan biasa namun sesuai sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunanya dari Nabi” (disahihkan oleh Alban dalam kitab Sholat At-Tarawih)

Kita dapati juga bahwa Nabi Ibrahim dan Ismalil ‘alaihimassalam setelah melakukan amalan sholeh tidak lantas mengklaim bahwa apa yang mereka kerjakan diterima oleh Allah. Namun keduanya berdoa dan memohon agar Allah menerima amalan sholeh mereka.
Ada satu pelajaran yang bisa kita ambil dari perstiwa tersebut, yaitu setelah kita beramal maka kita berhak untuk berharap dan berdoa agar amalan kita diterima oleh Allah, akan tetapi kita tidak bisa menegaskan dan mengklaim bahwa amalan kita pasti diterima olehNya, karena hal tersebut merupakan hal gaib yang tidak kita ketahui.

Kaum muslimin jamaah sholat id rohimani wa rohimakumulloh

Pada ayat selanjutnya Allah menceritakan kepada kita tentang doa Nabi Ibrahim yang selanjutnya:

(رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ)

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Al-Baqoroh 128)

Ayat ini memberi pelajaran kepada kita bahwa manusia membutuhkan bimbingan dan taufik dari Allah agar senantiasa istiqomah dalam ketaatan kepada Allah. Karena kita membutuhkan hal tersebut agar bisa senantiasa tegar dalam ketaatan kepadaNya. Oleh karenanya, Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam mengajarkan sebuah doa kepada umatnya yang berbunyi:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati tetapkanlah hati kami diatas agamaMu dan tetapkanlah kami diatas ketaatan kepadaMu.”(HARI At-Tirmidzi)

Kaum muslimin jamaah sholat id rohimani wa rohimakumulloh

Ayat diatas juga memberikan pelajaran kepada kita bahwa hendaknya orang tua tidak lupa untuk senantiasa mendoakan anaknya sebagaimana nabi Ibrahim mendoakan anak keturunannya. Dalam ayat lain beliau juga berdoa agar anak cucunya diselamatkan dari kesyirikan

(وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ)

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.(Ibrahim 35)

Ayat ini juga merupakan dalil bahwa hukum asal manusia adalah tidak mengetahui; sebab pada dasarnya kita adalah orang yang bodoh kecuali orang-orang yang diberikan petunjuk oleh Allah. Selain itu, terdapat faidah bahwasanya hukum asal dari ibadah adalah terlarang kecuali yang Allah ajarkan kepada kita. Sebagaimana Nabi Ibrahim minta kepada Allah untuk diajarkan tatacara beribadah kepadaNya.

Kaum muslimin jamaah sholat id rohimani wa rohimakumulloh

Kami ingatkan para suami tentang hadits Nabi yang berbunyi:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istri-istriku” (HR Ibnu Majah)

Dalam hadits ini Nabi sampaikan bahwa tolak ukur lelaki yang baik adalah berdasarkan penilaian istrinya. Ketika istri mengatakan dia adalah lelaki yang baik, maka dia adalah benar-benar sosok lelaki yang baik. Namun jika sang istri menceritakan berbagai hal negatif tentang suaminya, maka begitulah realitanya keadaan suami tersebut. Sebab istri adalah orang yang paling mengetahui keadaan sang suami.

Seseorang sanggup berperilaku baik dan menjaga wibawa tatkala bersama orang lain, baik di masjid, tempat kerja maupun yang lainnya, yang mungkin saja tidak sesuai dengan keadaan sesungguhnya. Lain halnya saat bersama sang istri yang sudah puluhan tahun menemaninya, ia tak sanggup menyembunyikan apapun dihadapannya.

Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِكُمْ

“Seorang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaqnya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya”. (HR Ahmad)

Sebuah kewajiban bagi seorang suami untuk mencontoh Nabi agar menjadi suami yang terbaik, diantara bentuknya ialah sering mengalah kepada istrinya, sebagaimana pernah disabdakan oleh beliau:

فَدَارِهَا ؛ تَعِشْ بِهَا

“Mengalah kepadanya niscaya engkau akan hidup (langgeng) bersamanya”. (HR Ahmad)

Dalam hadits lain Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

Janganlah seorang suami yang beriman benci terhadap istrinya yang beriman, sebab jika ia benci satu akhlak maka pasti ia suka dengan akhlak yang lainnya(HR Muslim)

Dalam hadits diatas Rasululloh shallallahu ‘alahi wasallam mengajarkan kepada para suami agar senantiasa melihat kelebihan yang dimiliki istri. Bisa jadi ia memiliki kekurangan dalam satu sisi namun disisi lain ia memiliki kelebihan. Bukan malah sebaliknya, keburukan istri diingat sedangkan kebaikan dan kelebihannya dilupakan begitu saja. Terutama saat terlintas dalam pikiran tentang keburukan dan kekurangan istrinya, hendaknya ia dengan segera mengingat berbagai kebaikan dan kelebihan yang dimiliki oleh sang istri.

Kemudian kami wasiatkan kepada kaum muslimah dengan hadits-hadits nabi shallallahu ‘alahi wasallam, diantaranya ialah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Huroiroh rhodiyallohu ‘anhu:

أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ ؟ قَالَ : ” الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Ditanyakan kepada Nabi: “Perempuan seperti apakah yang merupakan perempuan terbaik?” Beliau menjawab: “yang menyenangkan saat dipandang, taat saat diperintahkan, dia tidak akan menyelisihi keinginan suami berkenaan dengan hartanya” (HR An-Nasai)

Dalam kesempatan lain Rasululloh pernah menggambarkan sosok wanita calon penghuni surga dalam sebuah hadits:

كُلُّ وَدُودٍ وَلُودٍ ، إِذَا غَضِبَت أَو أُسِيءَ إِلَيهَا أَو غَضِبَ زَوجُهَا ، قَالَت : هَذِه يَدِي فِي يَدِكَ ، لَاْ أَكْتَحِلُ بِغُمضٍ َحتَّى تَرضَى

Mereka adalah yang besar cintanya, subur, berakhlak mulia, jika ia marah atau suaminya berlaku buruk terhadapnya, atau suaminya marah kepadanya, maka dia berkata : Wahai suamiku ini tanganku ada ditanganmu, aku tidak bisa menikmati tidurku hingga engkau ridho kepadaku”

Kaum muslimah yang dirahmati oleh Allah subhanahu wata’ala

Inilah 3 sifat para wanita yang sudah Nabi jamin sebagai penduduk surga meskipun mereka masih hidup didunia.

Marilah kita berdoa kepada Allah ta’ala agar memudahkan kita untuk meneladani sikap Nabi Ibrahim serta Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita bisa tmasuk kedalam golongan orang-orang yang beruntung nantinya.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ

Lanjutkan do’a penutup khutbah.

Disusun Oleh : Afit Iqwanudin, Amd, Lc

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here