Search
Monday 16 December 2019
  • :
  • :

Jangan Sampai Engkau Merugi

Kaum muslimin rahimakumullah

Di dalam Alquran Allah subhanahu wa ta’ala sering memperingatkan kita agar jangan tergolong sebagai “Al-khosirun” orang-orang yang merugi.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

“Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (Ali ‘Imran : 85)

Dalam ayat lain Allah ta’ala berfirman,

وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلۡإِيمَٰنِ فَقَدۡ حَبِطَ عَمَلُهُۥ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

“Barangsiapa kafir setelah beriman, maka sungguh, sia-sia amal mereka, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Ma’idah : 5)

Disatu sisi telah kita ketahui bersama bahwa dalam dunia jual beli atau perdagangan, seorang pedagang akan disebut merugi ketika tidak mendapatkan untung dari modal yang telah ia keluarkan. Maka ketahuilah duhai saudaraku, setiap detik yang berlalu dalam usia kita adalah modal hidup yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada kita. Dalam sehari Allah subhanahu wa ta’ala memberi modal 24 jam. Setiap berlalu satu hari sama artinya kita telah menghabiskan modal 24 jam tadi.

Sebaiknya kita sadar dan paham dengan benar untuk apa Allah ta’ala memberi kita modal tersebut. Dalam Alquran Allah ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ

“Dan tidahlah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah pada-Ku” (QS. Adz Dzariyat : 56)

Maka jadilah pribadi yang pandai, pergunakanlah modal yang kita miliki untuk meraup untung dan laba sebanyak-banyaknya. Jadikan setiap helaan nafas kita adalah ibadah. Setiap duduk dan berdiri bernilai ibadah. Karena kita tidak tahu berapa modal yang masih tersisa.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻟْﻜَﻴِّﺲُ ﻣَﻦْ ﺩَﺍﻥَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ

“Orang yang pandai adalah orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal (mencurahkan semua potensi) untuk kepentingan setelah mati.” (HR. At Tirmidzi)

Duhai, betapa celakanya kalau sekiranya modal yang kita miliki tersebut habis tanpa membawa keuntung bagi diri kita, sehingga kita menjadi golongan orang-orang yang merugi.

Wallahu ta’ala a’lam

 

Ditulis Oleh : Muhammad Fatwa Hamidan



Alumni Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta. Saat ini sedang menempuh study di Universitas Islam Madinah, Fakultas Syariah


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *