Home Artikel Alquran Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid (Bag. 1)

Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid (Bag. 1)

494
0
quran riwayat hafs
@via unsplash

Membaca Al-Quran dengan tajwid merupakan suatu amalan yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Allah berfirman :

اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ ٤ ﴾

atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.

Perlu diketahui bahwa tajwid sendiri sejatinya merupakan istilah yang digunakan oleh para ulama untuk menggambarkan bagaimana Nabi Muhammad ﷺ membaca Al-Quran. Dan kita sebagai umatnya diperintahkan untuk membacanya sebagaimana beliau ﷺ ajarkan kepada para sahabat.
Dalam tulisan kali ini kami akan sedikit memaparkan beberapa dalil yang menunjukkan bahwa membaca Al-Quran dengan tajwid merupakan sebuah kewajiban :

Pertama : Membaca Al-Quran merupakan sebuah ibadah, dan Allah subhanahu wata’ala tidak akan menerima ibadah seorang hamba kecuali jika memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad ﷺ.

Ali bin Abi Tholib Rhodiyallahu ‘anhu pernah menuturkan :

نَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَقْرَءُوا كَمَا عُلِّمْتُمْ

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada kalian untuk membaca Al-Quran sebagaimana diajarkan kepada kalian” (HR Imam Ahmad)
Dan tidak diragukan lagi bahwa beliau ﷺ mengajarkan Al-Quran dengan tajwid, sebagaimana diwariskan turun – temurun kepada generasi setelahnya hingga sampai kepada kita dengan sanad yang mutawatir.

Kedua : Rasululloh ﷺ memerintahkan para sahabat untuk mempelajari Al-Quran, baik langsung dari beliau ataupun dari sahabat yang lain. Padahal mereka adalah orang Arab yang masih murni bahasanya.

Rasululloh ﷺ bersabda :

سْتَقْرِؤُوْا القُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ : مِنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُودٍ وَسَالِمٍ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ وَأُبَيْ وَمُعَاذِ بنِ جَبَلٍ

Pelajarilah Al Quran dari 4 orang : Abdulloh bin Mas’ud, Salim maula Abi Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab, dan Mu’adz bi Jabal (HR Bukhori)

Baca juga : Biografi 4 Sahabat yang Direkomendasikan oleh Rasulullah

Lantas apakah kaum muslimin pada zaman ini baik yang arab atau selain mereka dibolehkan untuk membaca Al-Quran tanpa perlu mempelajarinya dari seorang guru? Sebab guru Al-Quran dimanapun tentunya akan mengajarkan membaca Al-Quran dengan tajwid sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Rasul ﷺ pernah bersabda :
“Barangsiapa yang suka untuk membaca Al-Quran sebagaimana ia diturunkan, maka hendaknya ia membaca sebagaimana bacaan Ibnu Ummi ‘Abd (Abdulloh bin Mas’ud)” (HR Imam Ahmad)

Dan tentunya tidak ada cara mengetahui bagamana Al-Quran dibaca saat diturunkan kecuali dengan mempelajarinya dari seorang guru.

Tiga : Allah subhanahu wata’ala berfirman pada surat Al Muzammil ayat 4 :

اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ ٤ ﴾

atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.
Ibnu Abbas rhodiyalloh ‘anhu berkata mengenai ayat ini : “Bacalah Al-Quran dengan sejelas mungkin” (Tafsir Ath Thobari)

Dan tentunya membaca Al-Quran dengan sejelas mungkin tidak akan bisa dilakukan kecuali dengan menerapkan kaidah ilmu tajwid.

Sahabat ‘Ali bin Abi Tholib rhodiyalloh ‘anhu berkata

الترتيل هو : تجويد الحروف ومعرفة الوقوف

“Tartil adalah membaca huruf -huruf Al-Quran dengan baik serta memahami ilmu waqof dan Ibtida”
Dan terdapat sebuah kaidah dalam ilmu ushul fiqih yang kurang lebih maknanya :
Suatu perintah (baik dalam Al-Quran maupun Hadits) adalah wajib, kecuali jika terdapat dalil lain yang menunjukkan tidak wajibnya hal tersebut.

Empat : Allah subhanahu wata’ala berfirman pada surat Al Baqoroh ayat 121 :

ٱلَّذِینَ ءَاتَیۡنَـٰهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ یَتۡلُونَهُۥ حَقَّ تِلَاوَتِهِۦۤ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ یُؤۡمِنُونَ بِهِۦۗ وَمَن یَكۡفُرۡ بِهِۦ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡخَـٰسِرُونَ)

Ibnu Mas’ud rhodiyallohu ‘anhu berkata : “Dan demi jiwaku yang berada ditangannya, sesungguhnya makna dari membacanya dengan sebenar-benarnya adalah Menghalalkan apa yang Allah halalkan dan mengharamkan apa yang Dia haramkan, serta membacanya sebagaimana ia diturunkan dan tidak mengubah makna yang terkandung di dalamnya” (Tafsir Ath Thobari)
(Bersambung insyaAllah)

Referensi :
Sunan Al Qurro, Abdul Aziz Al-Qori
Al Madkhol Ila Ilmi Al Qiroat, Abdul Qoyyum As Sindi

***

Ditulis oleh : Afit Iqwanudin, A.Md, Lc

(Alumni PP Hamalatulqur’an Yogyakarta, Mahasiswa Pascasarjana jurusan Ilmu Qiro’at, Fakultas Qur’an di Universitas Islam Madinah KSA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here