Search
Sunday 15 September 2019
  • :
  • :

21 Poin Penting saat Membaca Al Quran dengan Riwayat Hafs (Bag.3)

Raih pahala menyampaikan kebaikan, Bagikan:

quran riwayat hafs

@via unsplash

Ini merupakan artikel ketiga dan sekaligus bagian terakhir dalam pembahasan poin penting yang perlu diketahui dalam riwayat Hafs. Jika Anda belum membaca bagian pertama dan kedua, silahkan kunjungi link dibawah ini :

21 Poin Penting saat Membaca Al Quran dengan Riwayat Hafs (Bag.1)

21 Poin Penting saat Membaca Al Quran dengan Riwayat Hafs (Bag.2)

 

  • Lima Belas : Lafadz (لَا تَأْمَنَّا) dalam surat Yusuf ayat 11

قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَىٰ يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ

Terdapat 2 cara membaca lafadz tersebut, pertama dengan isymam, yaitu memberikan isyarat dengan cara memonyongkan bibir kedepan seperti saat mengucapkan harokat dhommah hanya saja tanpa suara alias hanya isyarat. Hal tersebut dilakukan saat ghunnah di huruf nun (لَا تَأْمَنَّا).

Kedua dengan ar Roum, yaitu membaca lafadz (لَا تَأْمَنَّا) dengan 2 huruf nun, yang pertama dhommah dan yang kedua fathah. Hanya saja harokat nun yang pertama tidaklah sempurna akan tetapi hanya sekitar sepertiga dari harokat asli. Cara membaca yang kedua ini juga sering disebut dengan ikhtilas.

2 cara membaca diatas sejatinya merupakan isyarat bahwa lafadz asli dari (لَا تَأْمَنَّا) adalah (لَا تَأْمَنُنَا) yaitu dengan dua nun. Hanya saja nun yang pertama diidghomkan pada nun yang kedua. Hal ini ditandai dalam mushaf dengan adanya bulatan hitam sempurna antara huruf min dan nun, perhatikan gambar dibawah ini :

surat yusuf ayat 11

  • Enam belas : 4 saktah wajib dan 2 saktah jaiz

Saktah ialah berhenti sejenak tanpa bernafas. Dalam riwayat hafs terdapat  4 saktah wajib yang tidak dimiliki oleh riwayat lain, yaitu :

Satu : Lafadz (عِوَجًا) pada surat Al kahfi ayat pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا

Dua : Lafadz (مَرْقَدِنَا) pada surat yasin ayat 52

قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا

Tiga : Lafadz (مَنْ ) pada surat Al Qiyamah ayat 27

وَقِيلَ مَنْ ۜ رَاقٍ

Empat : Lafadz (بَلْ ) pada surat Al Muthoffifin ayat 14

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Adapun saktah yang bersifat jaiz atau boleh ada 2, yaitu :

Pertama : Antara akhir surat Al Anfal dan awal Surat At Taubah

Kedua : Lafadz (مَالِيَهْ) pada surat Al Haqqoh ayat 28

مَا أَغْنَىٰ عَنِّي مَالِيَهْ

perlu diketahui bahwa saktah pada lafadz ini lebih diutamakan.

Dalam mushaf, saktah ditandai dengan adanya huruf sin kecil, seperti pada gambar dibawah ini :

surat al muthaffifin ayat 14

surat al haqqoh ayat 28

  • Tujuh Belas : Ha` Al Kinayah

Yang dimaksud dengan Ha` Al Kinayah adalah huruf Ha` yang menunjukkan dhomir untuk orang ketiga, seperti (له الملك) dan (فيه هدى) dan semisalnya.

Dalam riwayat hafs, jika huruf sebelum Ha` kinayah tidak berharokat alias sukun, maka Ha` tersebut akan dibaca pendek, namun jika huruf sebelumnya memiliki harokat baik fathah, kasroh atau dhommah, maka Ha` tersebut akan dibaca panjang.

Contoh yang sebelumnya sukun :

رَّبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرَّحْمَٰنِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِنْهُ خِطَابًا

Contoh yang sebelumnya berharokat :

وَلَهُ مَا سَكَنَ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Namun dalam riwayat hafs terdapat 2 pengecualian yang perlu diperhatikan, yaitu :

Pertama : Lafadz (يَرْضَهُ ) dalam surat Az Zumar ayat 7

إِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖ وَإِن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

Meskipun huruf sebelum Ha` berharokat fathah, namun huruf Ha` disini dibaca dengan pendek.

Kedua : Lafadz (فِيهِ ) dalam surat Al Furqon ayat 69

يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا

Meskipun huruf sebelum Ha` sukun, namun huruf Ha` disini dibaca dengan panjang (2 harokat). 

  • Delapan Belas : Membaca nun sukun yang bertemu huruf waw dengan idhar

Dalam ilmu tajwid kita ketahui bahwa jika nun sukun bertemu dengan waw (و) maka hukum bacaannya ialah idghom bighunnah. Namun terdapat pengecualian pada 2 tempat dalam riwayat hafs dimana keduanya merupakan huruf al Muqoththo’ah, yaitu :

Pertama : Awal surat Yasin

يس (1) وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ

Saat membacanya dengan menggabungkan ayat pertama dan kedua, maka nun sukun yang terdapat pada huruf sin pada lafadz (ياسين) dibaca dengan idzhar.

Kedua : Awal Surat Al Qolam

ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

Saat membacanya dengan lanjut alias tanpa berhenti, maka nun sukun yang terdapat pada awal surat (نون) dibaca dengan idzhar meskipun huruf setelahnya adalah waw (وَالْقَلَمِ).

Sembilan Belas : Membaca dengan idghom kamil pada 2 lafadz berikut ini

Pertama : Huruf tsa` sukun yang bertemu dengan huruf dzal, yaitu pada surat Al A’rof ayat 176

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Kedua : Huruf ba` sukun yang bertemu dengan huruf mim, yaitu pada surat Hud ayat 42

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ

Idghom kamil sendiri memiliki arti bahwa huruf yang pertama (dalam kasus ini adalah dzal dan ba`) dimasukkan kedalam huruf yang kedua secara sempurna, sehingga huruf pertama benar-benar hilang baik makhrojnya maupun sifatnya.

Dalam mushaf idghom kamil ditandai dengan adanya tasydid pada huruf kedua, sedangkan huruf pertama tidak memiliki tanda sukun sama sekali. Perhatikan gambar dibawah ini :

surat hud ayat 42

  • Dua Puluh : Membaca dengan idghom Naqish pada 2 lafadz berikut ini

Pertama : Lafadz (بَسَطتَ ) pada surat Al Maidah ayat 28

لَئِن بَسَطتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ ۖ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

Kedua : Lafadz (أَحَطتُ ) pada surat An Naml ayat 22

فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِن سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ

Berbeda dengan idghom kamil, idghom naqish masih menyisakan sifat huruf yang pertama (dalam kasus ini adalah huruf tho`). Adapun sifat yang tersisa adalah sifat ithbaq.

Dalam mushaf, idghom naqish ditandai dengan tidak adanya tasydid pada huruf kedua, dan huruf pertama tidak memiliki tanda sukun sama sekali. Perhatikan gambar dibawah ini :

surat an naml ayat 22

  • Dua Puluh Satu : Membaca dengan 2 cara pada lafadz (نَخْلُقكُّم ) di surat Al Mursalat ayat 20

أَلَمْ نَخْلُقكُّم مِّن مَّاءٍ مَّهِينٍ

Cara yang pertama adalah idghom kamil sedangkan yang kedua adalah idghom naqish, namun cara yang pertama lebih diutamanan sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Jazari rohimahulloh.

 

Inilah 21 poin yang perlu diperhatikan saat kita membaca Al-Quran menggunakan riwayat hafs. Semoga Allah subhanahu wata’ala mengaruniakan kepada kita ilmu yang bermanfaat.

Wallahu a’lam

Referensi :Ghoyatul Murid fi ‘ilmi At Tajwid, Athiyyah Qobil Nasr

***

Ditulis oleh : Afit Iqwanudin, A.Md, Lc

(Alumni PP Hamalatulqur’an Yogyakarta, Mahasiswa Pascasarjana jurusan Ilmu Qiro’at, Fakultas Qur’an di Universitas Islam Madinah KSA)


Raih pahala menyampaikan kebaikan, Bagikan:


Pengajar Ushul Fikih di Pondok Pesantren Hamalatul Quran, Alumni Pondok Pesantren Hamalatul Quran, menyelesaikan studi Syariah di Universitas Islam Madinah. Selain menjadi Pimred Hamalatulquran.com juga kontributor di muslim.or.id dan konsultasisyariah.com


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *